Ketika Teheran Mengetuk Pintu Orang Bugis

4 minutes reading
Saturday, 7 Mar 2026 17:30 0 1400 Anshar Aminullah
 

Mengapa Duta Besar Iran memilih menemui seorang  tokoh karismatik dari Bugis? apa yang sebenarnya sedang diketuk oleh Teheran?

Adalah Jusuf Kalla, yang hari ini lebih banyak mengabdikan dirinya pada kerja-kerja kemanusiaan di Palang Merah Indonesia dan penguatan umat melalui Dewan Masjid Indonesia. Bukankah ia tidak lagi sebagai pejabat aktif, dan bukan lagi bagian dari lingkaran kekuasaan formal negara?

Kedatangan ini membuka ruang tafsir publik khususnya para fans garis keras yang lama merindukan slogan “lebih cepat lebih baik” yang terimplementasi dalam ranah diplomasi, reputasi, budaya, dan kemanusiaan di level internasional seperti dulu kala.

Tapi Mari sedikit pelan-pelan. Tentu kita masih ingat beberapa hari lalu, saat Presiden Prabowo Subianto melalui kementerian luar negeri mengungkapkan siap menjadi mediator atau juru damai dalam konflik antara Iran dan Amerika Serikat ( Tribun Timur, 28/2/2026).

Presiden ke-8 RI ini menyampaikan keinginan untuk berkunjung dan menawarkan mediasi ke Iran, meskipun tak sedikit publik membaca itu sebatas keberanian diplomatik. Tapi  kita juga perlu ingat, bahwa dunia geopolitik, jarang sepi dari suara lain dan acap kali memperlihatkan satu hal, perihal mediasi bukan hanya modal niat baik, tetapi ini soal posisi tawar.

Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, melakukan pertemuan yang sarat makna politik sekaligus kemanusiaan. Pembicaraan empat mata tersebut tidak sekadar membahas tentang dinamika terbaru di negari  Prince of Persia itu , tetapi juga membuka kemungkinan ada ruang bagi peran Indonesia dalam mendorong penyelesaian konflik yang lebih bermartabat.

Dalam dialog itu, Dubes Iran memaparkan situasi terkini di negaranya tentang perlawanan rakyat, eskalasi ketegangan, serta banyaknya berjatuhan korban sipil, termasuk anak-anak sekolah. Angka-angka yang disampaikan oleh duta besar Iran ini bukan sekadar statistik perang, melainkan potret luka yang sangat nyata, sebuah luka yang berharap empati, bukan sekadar analisis “lip service” semata.

Lantas mengapa pesan tentang luka dan kesedihan mendalam atas kepergian pemimpin tertinggi Iran dan beberapa tokoh penting yang syahid akibat Serangan amerika Serikat dan Israel itu disampaikan di ruang tamu seorang tokoh Bugis? Dan mengapa Teheran memilih mengetuk pintu itu tepat disaat Indonesia sering langganan berada di posisi ambigu dan penuh semangat ingin aktif, namun ironisnya  di saat bersamaan masih terus mencari posisi yang tepat agar sepenuhnya bisa dianggap setara oleh kekuatan global.

 

Warisan Martabat Nusantara

Dalam dunia yang penuh asimetri, kesetaraan sering kali lahir bukan dari kekuatan militer, melainkan dari reputasi menyelamatkan manusia tanpa harus mempermalukan siapa pun.

Dan tidak ada bangsa yang mau diceramahi ketika ia sedang terluka.

Jangankan bangsa. Hati yang terluka ala lagu-lagu Betharia Sonata atau Tommy J Pisa saja tidak akan pernah benar-benar sembuh oleh kalimat diplomatis. Saya pernah ditolak dengan redaksi yang sangat sopan nyaris seperti siaran pers kementerian luar negeri.

Bahasanya rapi, nadanya tenang, niatnya baik. Tetapi tetap saja sakit. Dan pada saat seperti itu, bahkan motivator terbaik pun terasa menyebalkan.

Ingat, luka itu sampai kapanpun tidak suka diceramahi (maaf curhat).

Anda boleh membawa data, logika, bahkan niat baik. Tapi jika posisi  tidak setara, semua itu terdengar seperti kuliah umum bagi orang yang sedang menangis.

“Sebab bagi orang Bugis, martabat bukan sekadar kata, dan solidaritas bukan sekadar gestur  semata . Ia adalah harga mati dan napas kebudayaan yang diwariskan lintas generasi bernama Siri’ na Pesse”

Anshar Aminullah

Mungkin dunia boleh gaduh dengan rudal dan resolusi. Namun kadang damai dimulai dari suasana hangat di sebuah ruang tamu, ditemani secangkir kopi, dan percakapan panjang dua lelaki karismatik yang percaya bahwa acap kali martabat itu lebih penting dari sekedar kemenangan sesaat.

Dari peristiwa pertemuan tersebut, besar harapan kita, ini menjadi sinyal kuat bahwa tidak lama lagi Indonesia siap memainkan kembali peran sebagai mediator, bukan hanya sebatas simbolik, tapi sebuah diplomasi dan semakin keras.

Dan sepertinya Teheran tahu betul bagaimana karakter  orang Bugis, yang tidak mudah mencampuri urusan orang lain. Tapi jika sudah bicara soal harga diri dan penderitaan, orang-orang Bugis tidak akan pernah sejengkal pun memilih berdiri di luar pagar orang yang dibelanya.

Sebab bagi orang Bugis, martabat bukan sekadar kata, dan solidaritas bukan sekadar gestur  semata . Ia adalah harga mati dan napas kebudayaan yang diwariskan lintas generasi bernama Siri’ na Pesse.

Artikel ini juga telah dimuat lebih awal melalui media pada link di bawah, dan di publish ulang oleh penulis untuk kebutuhan arsip personal :  

https://makassar.tribunnews.com/opini/1830758/ketika-teheran-mengetuk-pintu-orang-bugis

 

This will close in 2 seconds