Tepat 10 tahun silam, pada tahun 2016 Korea Selatan menyaksikan dimulainya skandal besar-besaran yang menjatuhkan presiden perempuan pertama mereka, Park Geun-hye.
Skandal ini cukup mengguncang masyarakat dan memicu protes besar-besaran di Negeri Ginseng tersebut.
Hal ini bermula dari sebuah relasi yang tak wajar bagi masyarakat Korea Selatan, Park dengan seorang teman lamanya, Choi Soon-sil. Kedekatan keduanya memunculkan tuduhan tentang aktivitas pada kedekatan mereka berdua telah mengakibatkan kebocoran informasi yang bersifat rahasia negara. Choi adalah teman lama sekaligus penasihat Presiden Korea Selatan Park Geun-hye, berawal dari sebuah relasi pribadi yang berubah menjadi saluran kekuasaan informal.
Kedekatan keduanya memang bukan relasi romantis laki-laki–perempuan, tapi sebuah relasi kedekatan personal antar perempuan yang merembes masuk ke wilayah kekuasaan.
Persoalan menjadi berbeda dan sekaligus lebih sensitif ketika pola kedekatan itu terjadi antara pemimpin perempuan dan penasihat laki-laki, terlebih ketika kedekatan tersebut mulai merembes ke dalam proses pengambilan keputusan pemerintahan. Meskipun dampaknya sangat berpeluang akan sama dengan kejadian di kampung Rose Blackpink tersebut.
Ketika Data Bergetar
Dalam karyanya pada seri The History of Sexuality, Michel Foucault menegaskan bahwa kekuasaan tersebar (diffuse), produktif hadir dalam relasi sosial paling intim, termasuk persoalan seksualitas dan hubungan personal (1976). Argumen ini semakin menegaskan bahwa kekuasaan tidak hanya beroperasi dari atas, tetapi juga menyusup dalam relasi sehari-hari, dari sini kita bisa mulai memahami, bahwa kedekatan personal dalam ruang profesional bukanlah sesuatu yang netral.
Hingga dalam pendekatan ini, realitas politik kontemporer justru memperlihatkan bagaimana relasi kekuasaan mampu bekerja lebih halus dan nyaris tak terduga.
Terlebih jika hari ini kita dihadapkan pada sebuah realitas dalam dunia perkonsultasian, seputar elektabilitas, popularitas dan peluang menang dalam percaturan politik, dimana politik hari ini tidak lagi sekadar soal angka survei tapi juga soal getaran yang tidak masuk dalam margin of error.
Itu karena selama ini dalam dunia politik modern, kita cukup percaya pada produk release mereka yang bernama Data. Tapi rupanya kita lupa, bahwa ada satu variabel yang belum berhasil diukur oleh lembaga survei mana pun, yah, perasaan berbasis Data berakhir ‘Dada’.
Berawalnya dari membaca grafik elektabilitas, lalu lama-lama membaca bahasa mata klien.
Jika Data adalah personifikasi dari rasionalitas, modernitas, profesionalisme. Sementara dada adalah persona dari sebuah hasrat, kedekatan dan sisi manusia yang tak terukur
Ketika batas ini mulai kabur, justru reaksi publik pun menjadi hal yang tidak terelakkan. Publik mungkin bisa memaafkan angka yang turun, tapi tetap akan sulit memaafkan standar moral yang ikut runtuh.
Publik punya peran dalam membesar-besarkan skandal ditambah peran Media digital mempercepat dramatisasi menjadikan keduanya sebagai pasangan sempurna dalam memperbesar kekeruhan sebuah isu negatif.
Mungkin hari ini yang kita nikmati bukan skandalnya, tapi sensasi bahwa elit ternyata sama rapuhnya dengan kita. Selebihnya nasib saja yang menentukan bahwa konsultan dan yang dikonsultani lagi kena apes, sedangkan kita yang memilih lale (nakal erotis) tipis-tipis ini hanya kebetulan saja beruntung lolos sementara.
Di situasi seperti ini justru kita merindukan zaman Nokia 3310 atau Siemens C35. Zaman disaat handphone hanya memiliki kemampuan 3G (baca : Tri Ji) nelpon G, SMS G, dan Senter G, tanpa dukungan teknologi perekaman gambar bergerak untuk mengabadikan kenangan vulgar di tempat yang hanya disinari cahaya mengarah remang-remang.
Pada akhirnya, politik mungkin tetap tentang elektabilitas. Hanya saja, jalannya kadang melewati data dan sesekali, dada. Karena di negeri ini, bahkan strategi pun kadang kalah oleh chemistry.
Sebab pada titik tertentu, seorang konsultan dengan kita-kita ini yang belum kena apes, akan sampai pada pemahaman yang nyaris sama tentang apa arti kata “Lale”. Yakni semacam penyakit yang paling sering menyerang kaum pria, semacam Virus, kira-kira begitu. Lantas bagaimana dengan wanita? Jawaban konsultan dan kita-kita ini tentu akan tetap kompak menjawab “yah Kadang nasuka-suka Tonji”.
