
Sejarah akan selalu mencatat kehebatan Liu Bang, sang Kaisar Gaozu dari Dinasti Han yang memimpin pada 202–195 SM. Meski menjadi pemimpin yang disegani, ia tidak pernah malu mengakui asal-usulnya yang sederhana sebagai anak seorang petani.
Dalam budaya Tiongkok kuno, Liu Bang kerap dijadikan teladan penguasa yang berbakti kepada orang tua. Ia memegang teguh ajaran spiritual yang selaras dengan Konfusianisme, yang mengutamakan penghormatan dan ketaatan kepada kedua orang tua, terutama kepada ibu.
Ia membawa sang ibu tinggal di istana kekaisaran dengan segala fasilitas dan penghormatan. Bentuk penghormatan tertingginya adalah mengangkat sang ibu menjadi “Taihou” atau Permaisuri Agung, gelar tertinggi bagi ibu seorang kaisar pada masa itu.
Mari kita bergeser ke sebuah kisah sarat hikmah dari peradaban lain. Jauh setelah masa Liu Bang, di Jazirah Arab, Islam mengenang seorang pemuda miskin dari Yaman yang tak terkenal di bumi tetapi masyhur di langit: Uwais al-Qarni.
Rasulullah SAW menyebut namanya dalam sabdanya sebagai seseorang yang doanya mustajab dan memiliki kedudukan tinggi di sisi Allah. Keistimewaan itu lahir dari baktinya yang luar biasa kepada sang ibu. Namanya akan selalu melekat dalam ingatan umat Islam sepanjang masa.
Dua kisah ini mengingatkan saya pada seseorang yang kebetulan berasal dari kampung saya. Mungkin kebetulan saja, garis keturunan kakek saya juga berakar di sebuah kampung kecil di Takalar bernama Salaka, dan di desa terpencil bernama Jipang.
Tak jauh dari rumah mendiang kakek saya, ada seorang tokoh yang menghidupkan kembali dua kisah tersebut dalam ingatan saya, mungkin karena baktinya kepada kedua orang tua, terutama kepada ibunya, seorang guru Madrasah yang selalu dikenang murid-muridnya atas kebaikan hati dan ilmu yang dicurahkannya di kelas.
Yah, Hj. Sitti Siada Dg Siang, demikianlah nama yang selalu tersimpan rapi di memori para murid-muridnya.
Tak banyak pengetahuan seputar Almarhumah ibunda beliau tercinta ini. Namun cerita dari beberapa sumber melahirkan sebuah inspirasi menjadi bahagian epik dari tulisan sederhana ini.
Warisan Nilai
Di tengah kekeringan nilai di era digital, manusia justru semakin mendambakan keseimbangan: dunia yang tercapai dan akhirat yang terpenuhi.
Tidak heran jika orang-orang kaya maupun pejabat lintas sektor senang berkumpul, entah di warung kopi sambil menyeruput secangkir hangat, bermain domino, menghadiri majelis dzikir, atau bahkan berangkat umrah bersama.
Kemampuan menjaga silaturahmi baik dengan keluarga terdekat maupun masyarakat lapisan terbawah merupakan salah satu warisan terindah dari didikan seorang ibu. Nilai ini tidak hanya membentuk karakter personal Dg Timung, tetapi juga membekas secara sosial.
Seseorang yang telah mampu menjaga ritme positif ikatan sosial di berbagai lapisan akan cenderung sukses mensublimkan dirinya. Kalaupun ada guncangan yang mengancam konsistensinya, fondasi sosial dan nilai-nilai yang telah dipupuk sebelumnya akan selalu menuntunnya kembali ke jalan yang lurus.
Berkah Doa Sang Ibu
Berkah dari bakti Dg Timung dan bakti dari kedua saudaranya untuk sang ibu dan tentunya tetap ada sosok sang bapak, adalah seperti aliran air dari mata air yang jernih, tidak pernah surut, selalu memberi kehidupan. Ia tidak hanya menjadi pelindung, tetapi juga penopang mimpi dan kesejahteraan mereka.
Dari ikatan darah yang dipelihara dengan cinta dan ketulusan itu, terbangunlah dinding kokoh yang menopang setiap langkahnya. Maka, tak mengherankan bila takdir menempatkan kedua saudara dan saudarinya sebagai orang nomor satu di dua kabupaten berbeda.
Ini bukan karena sekadar perjalanan politik semata, melainkan karena restu sang ibu yang mengalir bagaikan angin yang tak terlihat namun menguatkan layar perjalanannya.
Sebagai pusat dari segala kekuatan itu memang tetaplah doa sang ibu. Seorang guru Madrasah yang sederhana namun berjiwa agung, yang menanamkan nilai-nilai kebijaksanaan sejak Dg Timung belajar mengeja huruf hingga ia menapaki jalan kehidupan yang penuh tantangan.
Di setiap kenaikan pangkat di kepolisian, di setiap tugas berat yang ia selesaikan, ada doa seorang ibu yang terbang menembus langit. Dari restu itulah, ia menembus batas-batas kemampuan manusia biasa, menjadikan dirinya bukan hanya berada di level perwira, tapi menjelma menjadi teladan yang dihormati di instansinya.
Kini, nama Dg Timung menjadi lebih dari sekadar sosok semata, ia adalah simbol bahwa kesuksesan sejati tidak dibangun dari cita-cita semata, tetapi dari akar yang kuat, keluarga yang dijaga, dan seorang ibu yang selalu dimuliakan.
Jejak Dg Timung akan selalu tertulis tidak hanya di tanah Gowa dan Takalar, namun gema inspirasinya akan terus menyebar hingga pelosok negeri. Ia mengajarkan, tanpa banyak berkata, bahwa bakti pada ibu bukan hanya sebagai kunci kesuksesan, tetapi kunci untuk meninggalkan warisan energi inspirasi lintas generasi di setiap zaman.
Selamat Ulang Tahun ke 57 Tahun Bapak Komjen. Pol. Dr. H. Mohammad Fadil Imran, M. Si, Dg Timung