Marah pada Ludah, Abai Pada Kata

6 minutes reading
Friday, 2 Jan 2026 19:12 0 1336 Anshar Aminullah
 

Maskapai United Airlines akan selalu mengingat tanggal dan bulan ini. Pada 9 April tahun 2017, tepatnya di bandara internasional O’Hare di kota Chicago, Illinois, Amerika Serikat. Maskapai ini berpolemik dengan salah satu penumpangnya, namanya dr. David Dao.

Dia adalah seorang penumpang yang oleh netizen dan sebagian besar penumpang lainnya, plus kru dalam penerbangan itu dianggap keras kepala, tidak kooperatif, dan membuat suasana dalam pesawat gaduh oleh karena menolak turun dari pesawat United Airlines.

Kasus yang bermula oleh karena penerbangan tersebut kelebihan penumpang (overbooked, dan maskapai perlu memberikan tempat kepada empat awak pesawat, lalu Dao menolak meninggalkan kursinya meskipun sudah diminta beberapa kali.

Tak butuh waktu lama, berseliweranlah video dan kemudian viral yang memperlihatkan dr. David Dao diseret paksa turun dari pesawat.

Pada jam-jam awal, semuanya sesuai prediksi, banyak netizen menyalahkan Dao. Ia dicap sebagai pelanggan bermasalah, dan fokus publik hampir pada satu kalimat dengan maksud yang sama, “kenapa tidak mau turun saja agar persoalan bisa selesai.”

Namun beberapa hari kemudian, pada akhirnya terjadi perubahan opini. Hal ini dikarenakan ada fakta lengkap terungkap setelahnya. Dao adalah dokter yang akan menangani pasien keesokan hari, dan harus berangkat melalui penerbangan itu untuk segera melakukan tindakan medis urgen pada pasien tersebut.

Dan pada akhirnya, United Airlines yang overbooking secara sistemik, di mana prosedur pengusiran dinilai telah melanggar etika dan HAM. Opini publik berbalik drastis, United Airlines meminta maaf, dan wajib membayar kompensasi besar serta berdampak pada berubahnya kebijakan dalam penerbangan mereka di kemudian hari.

Peristiwa ini mengajarkan kita pada penilaian publik, yang kerap bergerak lebih cepat daripada pengungkapan fakta secara utuh, dan bahwa kebenaran sering kali baru menemukan tempatnya setelah emosi mereda ke titik normal.

 

Viral Lebih Penting dari Verifikasi

Persoalan “diludahi” ini sejatinya tidak sesederhana kita menghakimi siapa yang benar dan siapa yang keliru. “Meludahi” kasir adalah tindakan yang kita sepakati sebagai sebuah kekhilafan berlebih di mana pelakunya memang melanggar etika publik, dan kurang bisa dibenarkan dalam banyak keadaan. Perilaku itu memang merendahkan martabat manusia dan mencederai banyak person, khususnya yang berempati pada sang kasir di sebuah mini market setelah menonton videonya.

Pada titik ini, wajar jika publik marah dan mengecam. Namun membiarkan kecaman sepihak justru berisiko menutup ruang pemahaman yang lebih jernih. Kita seolah puas ketika satu orang diposisikan sepenuhnya sebagai pelaku, sementara proses sosial dan relasi yang mendahului peristiwa itu dibiarkan berada dalam ruang gelap tanpa bisa dilihat dengan terang  benderang .

Publik semestinya juga menyadari satu hal, bahwa setiap ledakan emosi, betapapun salah bentuknya, selalu memiliki latar yang jarang tampak di rekaman singkat CCTV. Kasir diuntungkan karena berada pada posisi sosial yang rentan.

Dia bekerja di bawah tekanan target, aturan, dan tuntutan kesabaran yang kadangkala susah diatur batasnya. Di lain sisi, pengunjung adalah seorang dosen yang membawa beban psikologis, ekspektasi, dan kadang frustrasi yang tidak terkelola dengan baik.

Di situasi seperti ini, konflik sering lahir dari relasi kuasa yang tidak berimbang. Dosen, kasir, pelanggan, semuanya membawa beban sosial mereka masing-masing. Dan mesti dipahami bahwa areal pelayanan publik justru acapkali menjadi ruang dengan tekanan emosional tinggi.

Ketika komunikasi gagal, kata-kata melukai, dan relasi kuasa bekerja tanpa empati, ruang rasional pun runtuh. Yang tersisa hanyalah luapan emosi yang tak lagi terkendali dalam bentuk “meludahi”.

Namun spontanitas meludahi ini mesti juga dilihat sebagai tindakan yang salah dari manusia yang rapuh berstatus akademisi tersebut.

Sebab jangan sampai yang tertuduh meludahi ini justru lebih awal menjadi korban kekerasan simbolik melalui kata, nada, gestur, atau penghinaan.

Bukankah bahasa bisa merendahkan harga diri. Dan bahasa juga bisa memicu emosi menjadi meledak. Ironis dan apesnya saat bahasa justru tidak sempat direkam kamera. Dan ketika komunikasi gagal antara sang dosen dan kasir, yang muncul bukan rasionalitas, tapi justru luapan.

”Meludahi memang adalah sebuah kesalahan. Tetapi menghakimi tanpa memahami adalah kesalahan kolektif yang lebih sunyi, bahkan jauh lebih berbahaya”.

Anshar Aminullah

 

Martabat di Tengah Amarah

Apa yang terlihat beberapa hari ini adalah fenomena pengadilan media sosial, saat video pendek menggantikan proses klarifikasi. Akibatnya, hukuman sosial dijatuhkan sebelum kebenaran utuh hadir.

Di tengah riuh penghakiman publik yang terus bergulir hingga di ujung pergantian tahun ini, proses etik formal sesungguhnya telah berjalan secara institusional. Selain telah dipecat dari kampus diperbantukannya, juga akan dikembalikan ke LLDIKTI, hari ini dari beberapa informasi yang beredar, sang dosen telah menjalani pemeriksaan oleh Komite Etik LLDIKTI.

Dari proses tersebut, direkomendasikan sanksi administratif berupa penurunan jabatan akademik, dari Lektor Kepala menjadi tenaga kependidikan. Sebuah konsekuensi institusional yang secara perlahan menandai berakhirnya satu fase pengabdian panjangnya di dunia akademik.

Tulisan ini semata ingin mengajak publik untuk sejenak bercermin dan mengambil hikmah pada kasus dr. David Dao. Ini perihal apakah kita sedang adil, atau hanya ikut marah-marah membabi buta?

Manusia bisa salah, tapi tak harus kita musnahkan martabatnya. Ini bukan bermaksud membela siapapun. Ini hanya sekedar mencoba mengajak kita flashback pada nilai warisan masa lalu, bahwa nenek moyang kita mengajarkan bagaimana nila setitik mampu merusak susu sebelanga, dan panas setahun sanggup dihapus oleh hujan sehari.

Sehingga wajarlah jika kekhilafan sang dosen yang terekam di CCTV membuat martabat dan harga dirinya menjadi bulan-bulanan serta penghakiman oleh tak sedikit nitizen, seolah-olah selama 33 tahun selama mengabdi di perguruan tinggi, kerja sang dosen hanya meludahi mahasiswa-mahasiswinya di kelas. Sekali lagi ini kurang adil !.

Kurang bijak ada yang merasa paling bersih. Dimana saat peristiwa diludahi ini terjadi tak sedikit kata-kata umpatan gampang keluar. Sementara saat ‘diludahi’ agar gampang masuk, sebagian oknum justru memilih untuk diam dan menikmatinya.

Meludahi memang adalah sebuah kesalahan. Tetapi menghakimi tanpa memahami adalah kesalahan kolektif yang lebih sunyi, bahkan jauh lebih berbahaya.

Atau jangan-Jangan sebahagian dari kita inilah yang lupa berhenti meludahi sesamanya dengan penghakiman? Dan tanpa kita sadari pula, jangan-jangan sang kasir inilah yang malah telah berhasil ‘meludahi’ rasionalitas kita, ‘meludahi’ rasa hormat kita pada kampus tempat sang dosen mengajar, dan bahkan berhasil  ‘meludahi’ rasa hormat ribuan mahasiswa-mahasiswi yang telah diajar oleh sang dosen.

Sebuah proses yang sang kasir sendiri tidak sadari, bahwa dia telah ditempatkan pada posisi korban yang harus dibela oleh sikap menghakimi kita secara sepihak, tanpa pernah mencoba memandang fakta secara utuh.

Wallahu a’lam

Artikel ini lebih awal telah di terbitkan pada link di bawah, dan diposting ulang sebagai arsip personal penulis : 

https://herald.id/2026/01/01/marah-pada-ludah-abai-pada-kata/#google_vignette

 

This will close in 2 seconds