
(In Memoriam Lutfi)
Kak, mohon maaf, saya belum sempat membuat tulisan opininya yah!. Kalimat itu rupanya menjadi kalimat chat panjang terakhir kali, dan penutup untuk selamanya dari berkali-kali di banyak kesempatan diskusi dengan kami berdua.
Rabu siang, dalam kondisi tubuh yang lunglai tak berdaya, berulang kali namanya dibisik melalui telinganya “Lutfi, yang kuat, tetap sadar Lutfi, insya Allah sembuh”. Kalimat bisikan itu memang tak akan sanggup lagi dia jawab dengan suara.
Dia hanya menjawab dengan sinyal di kelopak matanya yang tertutup sembari meneteskan air mata. Dengan sisa tenaga dalam ketakberdayaannya, sebuah respon singkat dia menggenggam tangan sahabatnya, Tika.
Sore itu menjadi hari penuh doa dan harap agar terjadi keajaiban. Padahal di pagi harinya dia masih terlihat sehat dan sempat berpamitan pada sang ibunda tercinta. Selang beberapa jam berikutnya, tragedi itu terjadi. Tak banyak luka bekas kecelakaan di mukanya. Semua terlihat biasa saja.
Namun diagnosa “Trauma Capitis Berat” dari dokter membuat penglihatan saya mendadak gelap saat pesan WhatsApp hasil diagnosanya saya baca, seolah akan kehilangan episode cerita terbaik dalam hidup. Saya punya beberapa pengalaman untuk kondisi ini. Dan tidak banyak pasien yang bisa melewati kondisi dengan posisi GCS diangka 3.
Sempat naik di posisi 4, namun sepertinya itu hanya sebuat sinyal simbolik semangat terakhir yang dia berikan kepada segenap keluarga dan kawan-kawannya, disaat ambulance melaju ke rumahbsakit rujukan, bahwa dia akan segera pulih.
Kebiasaan semasa hidupnya, memang selalu bisa tidak hanya memberikan semangat bagi rekan-rekan se timnya, namun juga mampu menyelesaikan setiap persoalan krusial yang berkenaan dengan administrasi dan data.
Bekerja Dengan Hati, Ikhlas Saat Dibutuhkan
Hampir semua orang yang pernah bekerja dan berada dalam satu kelas di ruang akademik, menyuarakan kalimat yang sama, hatinya tulus, membantunya selalu ikhlas, dan pribadi yang selalu menepati janji.
Komitmen dan loyalitas, juga menjadi bagian yang sulit dilepas dari pribadinya sepanjang hayat bagi siapapun yang berstatus sebagai rekan ataupun atasannya.
Tak pernah banyak protes dan banyak mengeluh seberat apapun pekerjaannya. Hal ini pulalah yang membuat siapapun yang bekerja dengannya, selalu merasa nyaman dan optimis, bahwa pekerjaan ini endingnya akan berakhir dengan hasil positif, berhasil hingga di level sangat memuaskan.
Bahkan disela aktivitas kuliahnya di level doktoral, hampir semua tugas dan tanggung jawabnya tak banyak berkurang porsinya, semuanya dia tuntaskan. Meski mungkin membutuhkan sedikit tambahan waktu dari biasanya, namun substansi finalisasinya tak pernah bergeser seinci pun.
Bagaimana pribadinya pada para mahasiswa (i) yang pernah berinteraksi dengan dia dalam sebuah aktivitas belajar-mengajar? Biarlah kesedihan dan rasa kehilangan yang berbicara di setiap postingan medsos dan story orang-orang yang pernah bertanda tangan di absensi matakuliahnya.
Bahkan secara pribadi pun, hingga tulisan ini tergoreskan, perlahan saya masih menyeka airmata, hanya karena tiba-tiba mengingatnya lalu menyebut namanya dalam sebuah untaian doa untuk teman diskusi terbaik ini.
Siang Yang Cerah Saat Langit Memanggilnya Pulang
Tidak biasanya, perasaan tak enak dan hati yang gelisah saat membuka pesan dari teman baik kami berdua, Hera. Singkat, namun mampu memupus asa akan harap sebuah keajaiban untuk seorang Lutfi.
“Kakak, meninggalmi Lutfi”. Saya mencoba menenangkan diri sejenak. Namun semakin mencoba tenang, saya semakin diserang oleh banyak kenangan singkat, saat kebersamaan kami semasa hidupnya.
Jumat yang cerah, tepat di awal Agustus. Di pusaranya keluarga dan sahabat-sahabatnya menumpahkan sedih di tanah yang masih basah. Sebuah gundukan tanah penanda terakhir bahwa seorang Risma Arifin, Lismayana, Andi Indrawati dan Rahmi tak akan pernah lagi mendengarkan tawa kecil dan senyuman khas seorang Lutfi.
Pada pusaranya itu pula, sekaligus menjadi prasasti abadi bahwa rekannya si Tika, Hera, Fidah, Ani, Ahmad Kurnia serta seluruh rekan setim dan teman kuliahnya tidak bisa lagi dia temani membersamai banyak keseruan bercanda dan berdiskusi, dan membahas segala macam hal urusan administrasi akademik.
Kita tak pernah menangisi kepergian Lutfi. Sebab ujung waktu adalah keharusan, dan mati adalah pintu alam lanjutan yang harus dilewati oleh siapapun yang bernyawa, saat tiba urutan antrian bernama ajal, tepat berada di posisi pemilik identitas.
Tapi kita bersedih, oleh karena terlalu banyak cinta dan keikhlasan yang dia simpan di hati para sahabat dan keluarganya. Dan begitu banyak kisah dan cerita yang belum usai, yang dia bawa serta pulang menuju pangkuan Ilahi.
Selamat jalan menuju keabadian Lutfi! Dibalik kepergianmu yang begitu cepat, kami menyimpan duka yang tak sempat kami ungkapkan, tawa yang belum sempat kita ulang walau sejenak, dan rindu yang tak akan pernah berakhir walau terpisah dimensi alam.
Tanah di pusaramu boleh menutup ragamu, tapi kenangan tentangmu akan terus hidup dalam ingatan, dalam kerja-kerja kecil yang pernah ikhlas kau bantu, dan dalam diam yang tiba-tiba terasa lebih sunyi tanpa hadirmu.
Seperti bisik angin yang pelan, engkau pergi saat matahari terang menyinari siang dan engkau pulang menghadap Rabbmu tepat sebelum senja penuh sendu itu tiba.
Lutfi, trima kasih telah hadir sejenak mengisi hari-hari kami. Sampai Jumpa di Keabadian kelak!
Tulisan ini juga telah terbit lebih awal didan dipublikasikan ulang di website pribadi untuk keperluan dokumentasi pemikiran dan arsip penulis di media :
https://sulsel.herald.id/2025/08/03/langit-tak-menunggu-dia-pulang-sebelum-senja/