Kalimat apa yang paling dinanti banyak orang terutama ras terkuat di bumi alias “emak-emak“ dalam beberapa tahun terakhir? Yah… satu kata sederhana tapi sangat membuat bahagia: ‘Paket…!’.
Rasa-rasanya, ia hanya kalah tipis bahkan hampir selevel dengan seruan legendaris: ‘Pos…!’ Era ketika PT Pos Indonesia masih berjaya di setiap surat yang kita tulis dengan rindu yang tidak instan dalam sebuah amplop yang masih menyisakan wangi parfhum, lengkap dengan wangi perangko yang dibasahi di lidah sebagai ganti lem kanji.
Yang membedakannya, kalau dulu orang menunggu kabar dari postman. Sekarang, kita menunggu barang dari keranjang. Dulu yang membuat berdebar adalah isi suratnya dengan sisa wangi yang masih menempel, sekarang yang bikin deg-degan justru pada paketnya apakah sesuai ekspektasi. Seolah suasana zaman telah berubah, dari menanti makna, menjadi menanti kiriman.
Jika kita mencoba membaca kembali sejarah bangsa ini, menanti surat sejak dahulu kala adalah aktivitas intelektual yang banyak melahirkan perubahan besar , salah satunya melalui jemari seorang perempuan.
Dahulu R.A Kartini paling sering menulis surat, dimana dia sering menenggelamkan dirinya dalam pikiran-pikiran yang mendorong kemajuan dan peningkatan peran perempuan dalam berbagai bidang. Sebuah spirit yang hingga hari ini sangat terasa bagaimana pikiran itu mampu membuat kaum perempuan di Indonesia mampu berbicara banyak dalam berbagai segmen.
Transformasi pemikiran itu kini telah teraktualisasi nyata dalam keterlibatan publik. Hari ini, Perempuan memang sudah banyak masuk dalam dunia politik salah satunya. Namun apakah mereka telah sepenuhnya membawa perspektif perempuan, ataukan justru masih terjebak dalam sistem yang sama? Hari ini masih kita dapati konstruksi sosial yang masih kadang bias serta suara mereka masih yang sering dinilai emosional, bukan rasional.
Namun, tantangan di ruang publik tersebut acapkali masih berbenturan dengan gaya hidup di era baru ini. Kita harus akui bahwa sistem sosial-ekonomi kita hari ini ikut mengarahkan perempuan menjadi konsumen aktif bukan hanya aktor sosial. Keranjang digital memang bukanlah tempat barang checkout mereka semata, tapi acapkali keranjang itu menjadi tempat pelarian dari tekanan sosial akan sebuah ekspektasi peran bahkan mungkin rasa kesepian.
Perempuan hari ini sesungguhnya bukalah korban belanja online, tetapi seseorang yang sedang bertahan ditengah kompleksitas zaman. Dibalik paket yang datang ada kebahagiaan tersendiri dibalik kemasannya. Mereka mungkin ingin berdaya tapi hati mereka lelah. Juga banyak harapan untuk mandiri sepenuhnya namun masih terjebak konsumsi karena godaan diskon. Dan mungkin mereka ingin lebih maksimal berkontribusi namun masih terdistraksi.

Mereka harus menghadapi tantangan agar mampu dalam memanajemen keuangan keluarga. Godaan belanja online saat mengisi keranjang digital yang begitu mudah diakses dengan satu kali klik, aktivitas checkout ini sangat menuntut ketangguhan seorang perempuan dalam mengelola keuangan keluarga mereka agar tetap produktif dan tidak terjebak budaya konsumerisme.
Agar tidak terus terjebak dalam distraksi tersebut, maka sebagai kunci utamanya adalah niatan kuat dalam membangkitkan kesadaran akan pentingnya literasi digital. Sebab sangat penting memang membangkitkan kesadaran akan pentingnya literasi digital bagi mereka sebagai pilar. Dimana Kartini modern sesungguhnya adalah garda terdepan dalam mewujudkannya dalam keluarga mereka khususnya pada putra-putrinya. Ini berarti bahwa mereka dituntut untuk tetap bijak bisa membedakan antara kebutuhan yang produktif serta konsumtif di dalam setiap centang keranjang belanja digitalnya.
Seorang Kartini masa lalu tak pernah sekedar menulis surat semata. Dia mengharapkan di masa depan para Kartini modern untuk bergerak dan menciptakan makna. Spirit Kartini juga bukanlah soal masa lalu semata, tetapi keberanian untuk sadar dan memilih.
Dia boleh menunggu paket tapi jangan lupa menjemput peran terbaiknya untuk bangsa. Peran besar itu tidak harus soal selalu berada di panggung besar. Bisa jadi hari ini peran besar itu bisa dimulai dari hal yang cukup sederhana, yakni bisa tetap menahan diri mengisi keranjang orange.
Karena hidup para Kartini modern tak bisa selamanya diisi dengan notifikasi, melainkan tentang bagaimana menanti peran, sembari tetap tersenyum bahagia menanti suara di luar pagar
“paket…….!”
Anshar Aminullah
Seorang yang percaya bahwa ide harus lebih panjang umur dari penulisnya.
