Potret Sosial Di Keremangan Malam: Tidak Nabayarka, Hargai Pekerjaanku Pak!

5 minutes reading
Thursday, 16 Apr 2026 16:49 0 1506 Anshar Aminullah
 

Sepertinya akan terdapat kontradiksi menarik ketika kita mencoba memproyeksikan prinsip pasar bebas Adam Smith ke dalam lanskap ekonomi yang remang-remang, tepatnya di balik semak-semak Karebosi atau di lingkar sunyi sekitar permakaman di  Panaikang.

Sebuah rekaman visual berdurasi singkat yang pernah beredar beberapa waktu lalu  di salah satu whatsapp group di kontak saya. Ada  sebuah narasi ganda yang terselip, di satu sisi, ia menyajikan komedi situasi yang cukup menggelitik, namun di sisi lain, ia membangkitkan empati mendalam terhadap mekanisme bertahan hidup, yang meskipun tampak tak lazim, namun tetap tunduk pada hukum permintaan dan penawaran yang universal, kira-kira bahasa ekonominya seperti itu.

 Video Salah seorang Waria Yang Bermasalah Dengan Pelanggannya

Dua kalimat yang terlontar dari salah seorang dalam rekaman tersebut, “tidak na bayar ka” dan “hargai pekerjaanku pak”. Terkesan sangat menghiba namun nuansa menggelitiknya agak susah terpisah.

Bagi anak Makassar era 80-an hingga 2000-an, komunitas Transjender yang akrab dipanggil “Bencong”  ini sering terlihat menawarkan jasa servis short time. Jam  lalu lalang semcam waktu operasional di atas pukul 20-an di sekitar lapangan Karebosi. Dan kira-kira di pertengahan tahun 2000-an migrasi perlahan terjadi. Pusat operasi mereka berada di lokasi baru, di sepanjang jalan di sekitar perkuburan Panaikang.

Terlepas dari kontroversi eksistensinya, kehadiran mereka seolah menjadi bahagian tak terpisah dalam perjalanan gemerlap kota yang dulu bernama Ujung Pandang ini.

 

Statistik Di antara Stigma

Salah satu riset menarik yang dilakukan oleh Kurniati Abidin, et al (2019) mengungkapkan  bahwa waria dalam menafsirkan stigma dan eksklusi sosial yang dihadapinya, itu dengan cara mewujudkannya dalam sebuah tindakan yang terencana seperti pengabaian bersyarat dan penundaan memperkenalkan eksistensinya. Ditambahkan bahwa Waria merespon situasi sosial yang dihadapinya dengan cara yang lebih adaptif dan tidak frontal.

Belum ada angka pasti tentang berapa jumlah Transgender (Waria) di Indonesia. Data resmi pun terasa seperti masih malu-malu untuk memberi kepastian jumlah. Namun jika kita lihat informasi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, sempat terjadi peningkatan jumlah yang cukup signifikan antara tahun 2002 hingga 2009, lalu grafiknya cenderung datar sampai 2012 (Abidin, 2019), seolah-olah statistiknya juga ikut -ikutan bingung harus naik ataukah turun.

Meski demikian, jika kita coba merujuk pada data populasi yang dianggap rentan terhadap HIV, jumlah transgender ini diperkirakan mencapai sekitar 597 ribu orang. Sementara itu, kelompok lelaki yang berhubungan seks dengan lelaki, termasuk biseksual, bahkan menembus angka lebih dari satu juta orang (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2014). Angka-angka ini mungkin belum sepenuhnya presisi, tetapi setidaknya cukup untuk memberikan sebuah pesan sederhana bahwa mereka ada, nyata, bahkan jumlahnya tidak sedikit.

Di sisi lain, penerimaan masyarakat kita terhadap mereka memang menunjukkan perubahan yang pelan tapi agak terasa. Namun seperti banyak hal dalam kehidupan sosial kita, tetap saja penerimaan itu tak sepenuh hati. Di satu momen mereka dianggap bagian dari masyarakat, namun di momen terpisah mereka seperti diingatkan bahwa “tempatnya” tidak sepenuhnya di dalam. Dalam bahasa sosiologi, kondisi ini dikenal sebagai eksklusi sosial.

Yang tidak kalah unik adalah bagaimana penerimaan terhadap mereka ini acapkali masih bersifat sangat selektif, bahkan bisa dibilang “bersyarat”. Masyarakat kita cenderung menerima mereka pada peran-peran tertentu yang sudah terlanjur dianggap cocok dan pas, misalkan saja bekerja di salon kecantikan ataupun menjadi “Paruru Bunting” (kru perias pengantin), ataupun juga pada profesi lain yang dilekatkan secara kultural. Dan di luar itu, penerimaan terhadap mereka sering kali mulai goyah, seolah-olah ada kontrak sosial tak tertulis secara resmi

“Silakan anda hadir, namun di peran yang kami pahami saja yah…!!.”,dan ini memang makin menegaskan bahwa mereka tetap menjadi the third man setelah pria dan wanita dalam kehidupan sosial kita.

Semacam ironi memang. Di satu sisi masyarakat mengakui keahlian mereka dengan penuh apresiasi. Tapi di sisi lain, ruang gerak mereka tetap dibatasi oleh persepsi yang belum sepenuhnya tuntas.

 

Religiutas yang Ambigu

Fenomena di Karebosi maupun Panaikang ini telah menjadi semacam potret sosial di kehidupan kita. Kehadiran aktivitas malam para waria di sekitar perkuburan Panaikang misalnya, memang seperti plot twist, ironis, absurd, tapi juga memang nyata adanya.  Eksistensinya seolah seperti humor gelap yang berasal dari alam jenis ampibi.

Bukankah mestinya mereka harus lebih memiliki kesadaran spiritual yang kuat dengan melihat tempat peristirahatan terakhir tersebut? Kuburan mestinya menjadi alarm spiritual. Mereka harusnya lebih sadar bahwa Hizab itu akan menyulitkan mereka walau punya pengalaman lebih dalam pada aktivitas Hisap. Tapi kadangkala realitas sosial tidak selalu tunduk patuh pada logika harapan. Kadang justru dia memilih untuk berjalan dengan logika kebutuhan

Mungkin kita masih ingat bagaimana seorang Lucinta Luna, transgender selebriti yang memilih untuk kembali menyandang status murni laki-lakinya sebagai Muhammad Fatah saat dia tengah melaksanakan shalat Ied selepas bulan ramadhan lalu.

Atau dengan figur Haji Dorce Gamalama yang tetap menyandang nama Dorcenya hingga akhir hayatnya.  Ini memperlihatkan bahwa perjalanan manusia itu tidak selalu lurus seperti jalan tol. Kadang juga penuh lubang dan debu karena truk tambang galian seperti jalan poros di depan Rumah saya di Bontonompo Selatan, Kabupaten Gowa (maaf jika terlalu lengkap).

Kedua figur ini mungkin bisa menjadi pelajaran tersendiri bagi para transgender  alias para bencong yang masih tetap eksis dalam aktivitas malamnya di sekitar Karebosi maupun di sekitar Panaikang. Bahwa ruang sunyi di kedua tempat tersebut akan tergantikan dengan ruang sunyi tempat seseorang yang mulutnya dikunci dan hanya di wakili oleh tangan dan kakinya yang akan berdialog searah menjawab pertanyaan Tuhannya.

Bahwa cepat atau lambat semua akan klimaks pada akhirnya dalam sebuah pertanggung jawaban akhirat. Saudara-saudara kita ini sebaiknya harus sadar sesadar-sadarnya, bahwa siksa kubur itu akan selalu jauh lebih pedih walaupun  mereka pernah punya pengalaman lebih mengalami siksa dubur.

Sebab di hadapan keadilan Tuhan yang Maha mutlak itulah, setiap kita termasuk mereka itu punya hak untuk mencari jalan pulang, untuk menemukan sebuah kedamaian sebelum pintu pertanggungjawaban itu benar-benar tertutup. Jamaah…. Ooow Jamaah.

 

Anshar Aminullah

Menulis untuk yang tak sempat dijelaskan dunia.

 

This will close in 2 seconds