“Kekuasaan simbolik bekerja melalui kontrol atas reputasi dan moralitas”
(Pierre Bourdieu)
Sejarah mencatat dengan rapih, Catherine the Great dari kekaisaran Rusia (1762–1796). Saat internal istana mencium aroma yang tak wajar, dia diduga kuat memiliki relasi intim dengan orang terdekatnya yang bernama Grigory Potemkin. Menariknya, Potemkin ini bukan sekadar kekasih gelap saja, dia awalnya adalah
penasihat strategis, pemikir utama bagaimana ekspansi Rusia ke Laut Hitam kala itu.
Hubungan mereka disinyalir cukup jauh, bahkan telah melakukan pernikahan secara rahasia tanpa disaksikan ‘KUA’ resmi kekaisaran, dimana status Catherine saat itu telah lama tanpa suami setelah pasangannya, Raja Peter III wafat saat kudeta kekuasaan yang konon malah dibekingi oleh Catherine sendiri.
Sisi menarik lainnya adalah, saat itu, posisi kekuasaan Ratu Catherine masih sangat kuat untuk dijatuhkan dengan isyu skandal perselingkuhan, namun tetap saja narasi seksual berbau negatif itu tetap melekat dalam sejarah.
Nama kedua adalah Queen Caroline Matilda (1751-1775) dari kerajaan Denmark saat abad ke-18. Kasusnya hampir sama dan nyaris berbarengan waktunya dengan Catherine the Great dari negeri tetangga yang kebetulan berada di satu benua, Eropa.
Dia terlibat hubungan serius dengan Johann Friedrich Struensee, seorang dokter pribadi sekaligus penasihat utama kerajaan. Struensee adalah konsultan sekaligus menjadi arsitek reformasi besar yang terjadi di Denmark, mulai dari kebebasan pers serta reformasi di bidang hukum.
Pola hubungan mereka diframing oleh lawan politiknya sebagai skandal moral dan dijadikan untuk mengkudeta istana. Lalu apa yang terjadi? Struensee dieksekusi tanpa sempat bersembunyi di kampung halamannya. Sementara Caroline sendiri diasingkan dan wafat saat usianya masih sangat muda saat itu.
Dua kisah di atas menjadi contoh paling jelas dalam perjalanan sejarah di abad 18, bagaimana hubungan penasihat kerajaan merangkap konsultan politik dengan pemimpin perempuan, semuanya berujung kehancuran kekuasaan yang dipimpinnya juga catatan buruk dan noda hitam dalam sejarah kepemimpinannya.
Deligitimasi Romantis Publik
Periode kekuasaan Catherine seringkali dijadikan sebagai sampel perempuan yang berkuasa di puncak tahta yang tetap dilegitimasi, namun diseksualisasi secara historis dalam catatan kerajaan.
Terkesan vulgar, namun harus diakui bahwa tubuh dan relasi perempuan sering dijadikan arena politik moral. Pada pemimpin pria, kasus atau skandal serupa jarang dihukum secara simbolik, dan dalam banyak peristiwa sejarah, skandal cinta bukanlah penyebab utama kejatuhan, melainkan alat delegitimasi yang ampuh untuk merongrong otoritas.
Kontras dengan hal tersebut, kasus yang menimpa mantan gubernur salah satu wilayah terbesar di Indonesia menunjukkan dinamika yang berbeda. Reputasinya tercoreng, nama baiknya ternoda, dan ia bahkan resmi digugat cerai sang istri.
Meski kedekatannya dengan seorang wanita terjadi saat dia menjabat, pola hubungan mereka tidak berada dalam lingkaran kerja formal maupun jalur kekuasaan, sehingga konteks politiknya berbeda dengan delegitimasi yang dialami kedua perempuan dalam sejarah tadi.
Lantas mengapa politik di Indonesia itu cenderung lebih terfokus pada korupsi, juga seputar abuse of power serta nepotisme, dan beberapa kasus kekeliruan dalam menjalankan administrasi pemerintahan? Hal ini dikarenakan persoalan berbau skandal moral yang bertema romantis-affair, kadang sangat dirahasiakan serta sangat jarang diusut secara hukum.
Hal ini bisa jadi dianggap sebagai kenakalan masa muda berbau hura-hura, yang kalau ketahuan lewat mata manusia itu dianggap lumrah oleh karena oknumnya memang lagi banyak duit dan butuh hiburan.

Lain cerita jika ketahuannya lewat mata kamera, apalagi di videokan dengan posisi handphone sesuai selera dua orang di kamar hotel atau posisi kamera CCTV luput dari pengamatan keduanya. Percayalah, karirnya saat rekaman itu bocor, fiks… tamat setamat tamatnya.
Namun budaya politik lokal seperti ini biasanya lebih memilih untuk menutup-nutupi isu pribadi demi stabilitas politik khususnya internal.
Kehormatan Era CCTV
Dalam pendekatan konsep Habitus milik Pierre Bourdieu (1979), dimana habitus dan upaya menormalisasi satu bentuk kenakalan, yakni saat habitus aktor politik dan publik terbentuk dalam sebuah sejarah panjang antara relasi kuasa, di mana persoalan main perempuan, pesta dugem, dan gaya hidup hedonis hura-hura lainnya, dilihat sebagai bagian lumrah dari hidup pejabat kaya.
Pokoknya selama itu tidak terlalu vulgar dan tidak mengganggu stabilitas koalisi menurut pembenaran dari tak sedikit yang terjebak di dalamnya.
Momentum jatuhnya karier saat video bocor selalu menjadi kiamat bagi reputasi bersih, wibawa, dan kehormatan. Meskipun ketiganya hanya sebentuk “symbolic capital” namun sangat menentukan posisi seseorang di dalam sebuah field politik.
Peluang terselamatkannya cukup tipis, yakni selama skandal hanya diketahui lewat mata manusia secara terbatas, symbolic capital masih bisa dipertahankan.
Namun ketika rekaman visual baik dari handphone ataupun CCTV yang bocor dan menjadi viral, maka terjadi sebuah keruntuhan di level drastis pada symbolic capital, sehingga karier politiknya menjadi “tamat” karena ia telah kehilangan pengakuan kolektif dari khalayak atas kehormatan pada dirinya.
Namun pun demikian, kedua kisah affair di atas tentu menyisahkan banyak pelajaran bagi para pemimpin, khususnya bagi para sebahagian politisi yang langganan khilaf malam hingga dinihari, di keremangan malam di bawah lampu temaram. Pelajaran paling sederhananya adalah jaga hati, jaga diri, jangan rekam, dan jangan pandang enteng kamera Handphone dan kamera pengintai.
Sebab dalam politik hari ini, khilaf hasrat bisa dinegosiasikan, klarifikasi pun tetap bisa dirancang, tapi kamera handphone dan kamera pengintai beserta cloud storagenya bekerja tanpa ampun, dan tanpa amnesia sedikitpun.
Dan jangan lupa, moral masih bisa kita perdebatkan, begitupun niat, tetap bisa dibantah. Tapi rekaman kualitas HD dan 4K, sangat jarang bisa diajak kompromi khususnya pada menit adegan mesranya, dan beberapa hari kemudian masuk pesan di Handphonenya “I Know What You Did Last Summer”.
Anshar Aminullah
Mencatat yang luput, merawat yang nyaris hilang.
