Kita sedang hidup di sebuah zaman saat akses terhadap pengetahuan sangat mudah dijangkau dan begitu melimpah, namun kedalamannya akan makna yang justru kian menipis. Menjadi semacam paradoks yang nyata dan perlahan telah berhasil membentuk karakter Gen Z dan Gen Alpha di Indonesia hari ini.
Terjadinya overload informasi namun tidak berbanding lurus dengan kedalaman makna. Kedua tipe generasi ini tumbuh dalam melimpahnya informasi, baik dari Facebook, TikTok, IG dan YouTube. Minimnya filter epistemik, banyakan scrolnya, memaknainya urusan di belakang.
Melimpahnya informasi yang tanpa filter ini pada akhirnya justru menciptakan kebingungan baru, yakni terdampaknya mereka pada situasi krisis otoritas perihal siapa yang mesti harus mereka lebih percayai. Padahal dulu kita yang ada di generasi 80an dan 90an selain orang tua, guru dan tokoh agama, minimal guru mengaji di kampung menjadi sumber nilai yang paling awal dan mudah kita akses.
Coba lihat sekarang, algoritma memiliki pengaruh yang jauh lebih besar dari ketiga sumber nilai di atas. Akibatnya kebingungan normatif mendera mereka terutama saat memutuskan yang mana yang lebih dipercayai antara yang benar menurut nurani dan logika mereka, atau justru lebih percaya pada yang viral. Sumber nilai tradisional itu melemah dan digantikan dengan otoritas baru yang mereka anggap lebih kredibel.
Generasi Cerdas Tapi Gamang
Dominasi otoritas baru yang serba digital ini justru melahirkan paradoks, dan kita semua bisa lihat khan, generasi ini cerdas tapi gamang. Kondisi ini mendekati pada apa yang Durkheim katakan tentang “Anomie”, yakni situasi saat norma tak mampu lagi mengikat kuat.
Platform digital telah berhasil membentuk ekspektasi mereka untuk serba cepat, viral cepat dan kaya cepat. Mereka mengidolakan dan bahkan bercita-cita menjadi seorang Atta Halilintar, Timothy Ronald si juragan Bitcoin. Ataukan menjadi seperti Ryu Kintar, konten kreator cilik dengan omset miliaran yang mencitrakan dirinya perintis bukan pewaris.

Obsesi mereka pada kekayaan yang tak perlu berusaha lama-lama alias instan tersebut justru berbanding terbalik dengan nilai kepahlawanan masa lalu, sehingga kini amat susah mendapati generasi ini yang bercita-cita menjadi seperti para pendiri bangsa misalkan saja dr Wahidin Soediro Hoesodo, ki Hajar Dewantara ataukan menjadi sosok wanita seperti RA Kartini lebih-lebih jadi Cut Nyak Dien, mungkin tak sedikit yang mempertanyakan keberanian mereka angkat senjata melawan musuh selain di dunia Freefire dan Mobile legend dalam gawai mereka.
Kecenderungan individualistik yang meningkat levelnya yang tidak dibarengi dengan kematangan sosial menjadi persoalan lanjutan dari kedua Generasi ini. Mereka memang lebih ekspresif, cukup sadar identitas malah lebih berani berbeda. Positif sih iya. Namun dengan daya tahan sosial yang lemah akan membuat mereka mudah cemas, susah menerima kritik rapuhnya relasi sosial mereka.
Kerentanan mental ini sebenarnya coba dimitigasi melalui institusi formal. Kita bisa lihat pada aktivitas formal pendidikan mereka sekarang, ini tak sedikit yang sudah mencicipi sekolah yang berlabel agama dengan kurikulum hafalan hadis dan Quran yang banyak meskipun pembayaran tiap bulannya juga lumayan banyak nominalnya.
Dan apa yang terjadi? Tanpa ditunjang literasi digital yang memadai, sang anak seolah hidup di dua dunia, baik itu dunia yang kaku dan dunia digital yang cair namun tanpa jembatan penghubung yang sehat.
Yang menjadi kendalanya atas harapan mereka adalah struktur ekonomi kita di Indonesia yang kurang mendukung. Dan salah satu yang bisa memanfaatkan peluang dengan baik khususnya saat Selat Hormuz diblokir hanya motor Thunder yang mampu bolak-balik SPBU mengisi tangki motor mereka penuh berkali-kali.
Kesenjangan antara ekspektasi dan realitas ekonomi ini menegaskan bahwa masalahnya bukan sekadar perilaku. Tanpa bermaksud mencari-cari titik lemah dalam bentuk persoalan Gen Z dan Gen Alpha di Indonesia mulai dari soal moral, gaya hidup, ini terlalu dangkal. Sebab ada yang lebih substansi yakni pada perubahan struktur sosial, ekonomi dan teknologi yang jauh lebih cepat bagi mereka dibanding kemampuan adaptasi keluarga, di sekolah maupun terhadap bangsanya.
Masih jelas di memori kita, pada era 80an dan 90an, saat wawancara betul-betul karena kompetensi. Proses rekrutmen mereka murni berdasarkan talent dan orang datang melamar atau ikut seleksi asli membawa kemampuan.
Jaman sekarang, suasananya terasa berbeda pertimbangannya kadangkala justru bergerak ke arah kebalikan dari ‘talent’.
Suatu waktu, teman saya pernah beranekdot tentang seorang HRD di sebuah perusahaan. Dimana ada satu sesi wawancara yang cukup membekas. Seorang pelamar dari Gen Z datang dengan penuh percaya diri. Cara bicaranya rapi, gesturnya terlatih, jawabannya terdengar seperti sudah agak khatam.
“Coba sebutkan kelemahan kamu,” tanya HRD seperti biasa.
Pelamar itu tersenyum ringan, tanpa ragu.
“Saya orangnya terlalu nggak enakan, Pak. Kadang susah nolak dan yang terakhir pas dicium di leher pak”.
Dari anekdot di atas menjadi gambaran bahwa kita sedang mendengar bukan sepenuhnya jawaban, melainkan hasil dari refill alias isi ulang yang terlalu sering, di mana kedua generasi ini berlomba mengisi diri sebanyak mungkin, tapi mereka justru lupa memastikan apakah yang diisi itu benar adanya atau hanya sesuatu yang siap dijual ulang tapi dalam versi yang matang diluar namun mentah di dalam.
Anshar Aminullah
Seorang yang percaya bahwa ide harus lebih panjang umur dari penulisnya.
