Percakapan Terakhir di Kesunyian, Ia Masih Menunggu di Kebun

4 minutes reading
Saturday, 4 Apr 2026 00:39 0 1335 Anshar Aminullah
 

Jelang sahur di pekan terakhir Ramadhan tahun 2026 ini. Sambil menemani saya menyantap bakso racikannya, plus sepiring nasi yang dia siapkan sebagai bahagian sedekah jumatnya ke para pelanggannya, Erick dg Ngaya, si penjual bakso cinta untuk starla itu berkisah ke saya di dinihari itu.

Sambil memandang ke sudut tembok di samping herobaknya, dia memulai cerita pengalaman pribadinya, walau terlihat dia masih diselimuti trauma, dia menghela nafas panjang lalu memulai kisahnya.

Di suatu sore, tepatnya di pertengahan tahun 2023, Erik kembali pulang ke kampungnya. Seperti kebiasaannya setiap kali pulang, ia menyempatkan diri mampir ke kebun peninggalan ayahnya, sebuah tempat yang selalu ia rindukan, terutama untuk menikmati segarnya air kelapa muda langsung dari pohonnya. Di sana, masih ada sosok yang setia menjaga: seorang kakek tua yang akrab ia panggil Om Erang, kerabat dekat yang sejak lama membantu merawat kebun itu.

Sore itu, kebun terlihat lebih sunyi dari biasanya. Angin berhembus pelan, seolah hanya lewat tanpa suara. Erik melangkah masuk tanpa firasat apa pun, hingga sapaan itu datang lirih, dalam bahasa Makassar, menanyakan kapan ia tiba dan mengapa sudah lama tak berkunjung. Erik tersenyum lebar, menjawab singkat bahwa ia baru saja sampai beberapa jam yang lalu.

Percakapan mereka pun mengalir perlahan, seperti biasanya, namun entah mengapa terasa sedikit berbeda. Suara napas sang kakek nyaris tak terdengar di sela-sela ucapannya. Bahkan daun-daun yang jatuh di sekitar mereka seakan kehilangan bunyinya. Ada sesuatu yang berubah di kebun itu sore itu, sesuatu yang tidak bisa dijelaskan Erik saat itu, namun diam-diam mulai meninggalkan kesan yang ganjil.

Dalam sinar senja, kebun itu terasa sepi dan sedikit mencekam, tak ada suara kicauan burung, jangkrik ataupun serangga lainnya. Namun Erik mengabaikannya, mungkin karena kelelahan saja berjalan kaki dari rumahnya ke kebun tersebut pikirnya.

Sang kakek berbicara sedikit berbeda, sedikit lebih lambat dan tak ada interaksi tatapan mata dengan Erik. Sang kakek itu bercerita tentang kehidupan, tentang pengalaman masa lalunya yang kurang lebih Erik sudah beberapa kali mendengarkannya. Di sela pembicaraan terselip juga tentang jika suatu waktu sudah tidak bertemu lagi.

Perbincangan itu berjalan tanpa terasa. Magrib mulai menjelang. Namun tak biasanya, sang kakek tak sekalipun menawarkan air kelapa muda. Sesi wajib dari setiap pertemuan mereka di kebun, dimana sang kakek ini yang biasanya akan petik saat Erik baru tiba. Namun pikir Erik mungkin karena terlalu larut dalam obrolan sehingga sesi minum air kelapanya terlupakan.

Ketika langit mulai kehilangan cahayanya, Erik pun pamit, mereka saling mengucapkan salam perpisahan, singkat, datar dan tak ada yang terasa aneh sampai ia melangkah menjauh dari kebun. 

Tak sekalipun dia menoleh ke belakang ke si kakek guna memastikan bahwa pandangan si kakek turut mengikuti perjalanannya, sebab pikirnya dalam waktu dekat dia akan kembali lagi membawakan baju baru dan beberapa lembar rupiah untuk kebutuhan sang kakek.

Sepanjang perjalanan pulang, yang terbayang hanyalah gestur sang kakek yang sedikit kaku tanpa nyala tembakau dan tanpa sekalipun sesi saling bertatapan mata.

Erik pun tiba, ia memasuki halaman rumahnya setelah berjalan cukup jauh dari kebunnya. Beberapa anggota keluarga menatapnya sedikit berbeda dan nampak aneh.

Dari mana? Tanya sang kakak.  Erik menjawab seolah tak ada yang aneh. “Dari kebun… ketemu dan ngobrol lama dengan kakek, Om Erang”.

Beberapa detik suasana hening, lalu tawa kecil pecah dari beberapa anggota keluarganya. “Kakek yang mana” tanya sang ibu.  “Yang jaga kebun kita” jawab Erik.

Kali ini tak ada yang tertawa, wajah mereka yang ada ditempat itu berubah. Seseorang dari keluarganya menatap dia dalam-dalam lalu berkata pelan “Kakek itu…. Sudah meninggal hampir 40 hari yang lalu”

Erik membeku, tangannya mendadak dingin. Yang terputar ulang di kepalanya hanya cara si kakek itu tersenyum, nada bicaranya yang sangat bijak, suara nafasnya dan bagaimana dia bersikap ke dia di sore tadi.

Semakin Erik coba menyangkal, semakin jelas dan sangat nyata baginya. Dan malam itu, hingga malam tadi saat saya singgah mendengarkan kembali kisah ini, satu hal yang tidak bisa Erik hindari adalah, bahwa ia tahu, ia benar-benar tidak sendirian di kebun sore itu.

Al Fatihah Untuk sang kakek, Om Erang.

 

 

This will close in 2 seconds