Jangan sekali-kali anda pernah membuat seorang wanita meneteskan air matanya. Karna bisa jadi anda akan mendapatkan murka alam dan segenap makhluk di sekitar anda. Sesungguhnya dalam setiap butiran air mata wanita terdapat untaian doa serta ketulusan hati yang sanggup meluluh lantahkan kokohnya karang dan gunung sekali pun. Air mata wanita adalah alat agar dapat mencurahkan segala perasaannya. Keunikan khusus tentunya, butiran tangisnya sanggup ia gunakan kapan pun ia inginkan.
Air mata ini bukanlah kelemahan bagi wanita, karena sebenarnya air mata ini adalah “air mata kehidupan. Ali Syariati mengatakan bahwa bukankah airmata adalah syair terindah dalam cinta yang paling jujur?. Air mata wanita terkadang mencerminkan iman yang paling melimpah, hasrat yang paling mendalam, perasaan yang paling bergelora. Air mata kaum Hawa merupakan bentuk ucapan paling murni dan bentuk cinta paling halus. Semua ini berbaur dalam satu hati cinta. Semuanya berpadu , melebur dan membentuk sebuah tetesan yang hangat yang bernama air mata, Satu thesis baru!!!
Namun saya tak bermaksud bicara soal air mata, toh penderitaan kita sebagai rakyat kecil masih saja berlangsung dan membuat hati kita dalam bahasa dangdutnya “menjadi pilu” mungkin lebih menarik jika kita membicarakan perihal senyuman, meskipun terkadang kita mendapati orang menangis sambil tersenyum dalam rentang waktu singkat yang dinamakan terharu, dan menangis sambil tersenyum dalam rentang waktu yang cukup lama yang mungkin dinamakan terlalu…. (meminjam istilah bang Haji Oma Irama).
Di era sekarang ini, menemukan seorang wanita yang tersenyum dengan dorongan ketulusan adalah sesuatu yang agak sulit ditemukan, meskipun kebiasaan ini adalah tradisi klasik para wanita jika lagi senang hatinya, di zaman kontemporer ini tak sedikit wanita yang jika senang hatinya justru melampiaskan dengan menenggelamkan diri dalam lautan fatamorgana dunia. Dan ketika dia melemparkan senyuman tak ada jaminan bahwa itu dibingkai ketulusan. Mendapatkan wanita yang punya senyuman yang tulus mengingatkan saya pada sebuah prosa Gulistan.
Konon dahulu kala ada seorang Raja menderita penyakit yang sukar untuk disembuhkan, mungkin jika digambarkan akan membuat kita menjadi jijik mendengarnya. Sejumlah tabib kerajaan akhirnya bersepakat dan memutuskan bahwa penyakit ini hanya akan bisa sembuh jika Raja memakan empedu seorang wanita cilik dengan syarat-syarat tertentu. Sang Raja akhirnya memerintahkan agar orang tersebut dicari diseluruh negeri.
Bahkan sang Raja membuat sayembara jika ada yang mendapatkan wanita dengan kriteria-kriteria sesuai dengan petunjuk tabib, maka Raja akan memberikan hadiah besar bagi yang menemukannya. Seorang anak petani dengan kualifikasi yang disebutkan tabib akhirnya ditemukan. Raja memberikan anugerah yang melimpah kepada kedua orang tuanya sehingga mereka senang anaknya dijadikan korban. Jaksa agung memutuskan untuk menumpahkan darah rakyat untuk menyelamatkan nyawa Raja. Algojo siap memotong kepalanya.
Cerita Sa’di dalam gulistan di atas, jika diterjemahkan secara harfiah. Moral cerita ini sebenarnya sangat sederhana : Sembuhkanlah peyakit sang Raja dengan sentuhan Senyuman manis seorang wanita yang tulus dan bersih. Atau jika raja ingin selamat, dengarkanlah suara hati seorang wanita yang terpancar melalui keindahan senyumannya.
Saya teringat dengan seorang kawan yang berbeda jenis, mahkluk itu bernama waNita tentunya, konon, dalam setiap pancaran sinar lembut di matanya adalah Kearifan, dan setiap senyumannya adalah cinta. Saat tersungging senyumnya adalah cahaya dan spirit. Dalam setiap untaian kalimat-kalimat dari ucapannya adalah kekuatan dan antusiasme.Dia adalah sosok totalis care terhadap orang disekitarnya, nuansa peduli sesama itu sepertinya sudah menjadi virus yang menggerogoti seluruh sistem mekanisme urat nadinya untuk selalu berbagi, entah itu sebentuk suka ataupun rasa duka bagi siapapun yang pernah berinteraksi dilingkup sosial ataupun spiritualis dengannya.
Dalam sebuah momen duka, ketika dia harus kehilangan rekan se-profesinya. Rekan yang mungkin selama hidupnya selalu menyorotkan sinar mata kedewasaan dalam memimpin, rekan yang sorot matanya selalu dipertahankan untuk tidak terkatup kelopaknya, agar tetap menjadi sahabat setianya dari nilai kebenaran betapapun menyakitkan. Sang rekan mungkin pula adalah sosok orang tua bijak yang sesudah mengalami beban dan ranjau sepanjang jalan menjumpai bahwa kebenaran saja yang layak dipertahankan.
Suatu Tradisi Klasik yang Gampang-Gampang Susah.
Senyuman waNita laksana duta-duta Tuhan yang akan menyuapi mulutmu dengan cinta dan kasih keabadian.
Saya hendak menyampaikan sebuah kebiasaan yang baik dan sehat untuk keberlangsungan hidup kita, yakni terbiasalah untuk selalu membuat wanita tersenyum, karna dengan membuat wanita tersenyum maka mereka akan menawarkan kedamaian dan kebahagiaan seperti yang dikandung semesta alam. Memang untuk melihat sebuah senyuman terbaik pada seorang wanita adalah perkara gampang-gampang susah. Mesti dibutuhkan sebuah ketelitian dan penjiwaan serta sebuah sikap yang selalu istiqomah dalam kerasionalannya.
Dan pada saat wanita itu tersenyum sebaiknya kontrol diri harus tetap terjaga. Sebab senyuman wanita ibarat sebuah peluru berkaliber super yang sanggup menembus dinding pertahanan siapapun yang menatapnya. Jika kontrol diri terabaikan, maka dengan mudah anda dilumpuhkan oleh lesatan dahsyat senyuman itu.
Kadangkala memang harus kita akui bahwa senyuman wanita adalah sang penembak misterius jantung para lelaki. Tak terkecuali dengan senyuman teman saya itu. Entah apa penyebabnya sehingga daya magis rasanya melingkari setiap lemparan senyumannya, meskipun itu hanya sebuah potret digital.
Mungkin suatu saat jika sebuah kesempatan terlahir untuk mengekspresikan dan mengapresiasikan keistimewaan dari senyumannya, maka tak ada ungkapan yang tepat terkecuali melafazkan kepadanya “ Wahai Sang waNita, aku merasakan ada kejutan gejala dalam mekanisme urat syarafku. Kuanalisa, fenomena itu timbul oleh suatu rangsangan tertentu dari sesuatu yang menggetarkan seluruh sistem nilai dalam diriku. Rangsangan itu adalah Senyumanmu!!!.
Anshar Aminullah
Merekam retak, sebelum ia jadi runtuh.
Artikel ini lebih awal telah dipublis pada Blog penulis yang sama di :
