Senyuman Wanita “Sang Penembak Misterius Jantung Lelaki”

6 minutes reading
Wednesday, 14 Jul 2021 15:22 0 1397 Anshar Aminullah
 

Jangan sekali-kali anda pernah membuat seorang wanita meneteskan air matanya. Karna bisa jadi anda akan mendapatkan murka alam dan segenap makhluk di sekitar anda. Sesungguhnya dalam setiap butiran air mata wanita terdapat untaian doa serta ketulusan hati yang sanggup meluluh lantahkan kokohnya karang dan gunung sekali pun. Air mata wanita adalah alat agar dapat mencurahkan segala perasaannya. Keunikan  khusus tentunya, butiran tangisnya sanggup ia gunakan kapan pun ia inginkan.

Air mata ini bukanlah kelemahan bagi wanita, karena sebenarnya air mata ini adalah “air mata kehidupan. Ali Syariati mengatakan bahwa bukankah airmata adalah syair terindah dalam cinta yang paling jujur?. Air  mata wanita terkadang mencerminkan iman yang paling melimpah, hasrat yang paling mendalam, perasaan yang paling bergelora.  Air mata kaum Hawa merupakan bentuk ucapan paling murni dan bentuk cinta paling halus. Semua ini berbaur  dalam satu hati cinta. Semuanya berpadu , melebur dan membentuk sebuah tetesan yang hangat yang bernama air mata, Satu thesis baru!!!

Namun saya tak bermaksud bicara soal air mata, toh penderitaan kita sebagai rakyat kecil masih saja berlangsung dan membuat hati kita dalam bahasa dangdutnya “menjadi pilu” mungkin lebih menarik jika kita membicarakan perihal senyuman, meskipun terkadang kita mendapati orang menangis sambil tersenyum dalam rentang waktu singkat yang dinamakan terharu, dan menangis sambil tersenyum dalam rentang waktu yang cukup lama yang mungkin dinamakan terlalu…. (meminjam istilah bang Haji Oma Irama).

Di era sekarang ini, menemukan seorang wanita yang tersenyum dengan dorongan ketulusan adalah sesuatu yang agak sulit ditemukan, meskipun kebiasaan ini adalah tradisi klasik para wanita jika lagi senang hatinya, di zaman kontemporer ini tak sedikit wanita yang jika senang hatinya justru melampiaskan dengan menenggelamkan diri dalam lautan fatamorgana dunia. Dan ketika dia melemparkan senyuman tak ada jaminan bahwa itu dibingkai ketulusan. Mendapatkan wanita yang punya senyuman yang tulus mengingatkan saya pada sebuah prosa Gulistan.

Konon dahulu kala ada seorang Raja menderita penyakit yang sukar untuk disembuhkan, mungkin jika digambarkan akan membuat kita menjadi jijik mendengarnya. Sejumlah tabib kerajaan akhirnya bersepakat dan memutuskan bahwa penyakit ini hanya akan bisa sembuh jika Raja memakan empedu seorang wanita cilik dengan syarat-syarat tertentu. Sang Raja akhirnya memerintahkan agar orang tersebut dicari diseluruh negeri.

Bahkan sang Raja membuat sayembara  jika ada yang mendapatkan wanita dengan kriteria-kriteria sesuai dengan petunjuk tabib, maka Raja akan memberikan hadiah besar bagi yang menemukannya. Seorang anak petani dengan kualifikasi yang disebutkan tabib akhirnya ditemukan. Raja memberikan anugerah  yang melimpah kepada kedua orang tuanya sehingga mereka senang anaknya dijadikan korban. Jaksa agung memutuskan untuk menumpahkan  darah rakyat untuk menyelamatkan nyawa Raja. Algojo siap memotong kepalanya.

Tiba-tiba wanita kecil itu mendongak  kelangit dan tersenyum . Raja  bertanya  “dalam keadaan ini kamu masih bisa tersenyum?” wanita kecil itu menjawab “ayah dan bunda saya seharusnya menjaga dan merawat anak-anaknya; jaksa agung mestinya tempat menyampaikan pengaduan; dan Raja mestinya menjadi sandaran untuk menegakkan keadilan. Tetapi kini ayah dan ibuku mengantarkan aku pada kematian karna pertimbangan dunia, jaksa telah menjatuhkan vonisnya, dan sultan menari keselamatan dengan menghancurkanku.
Selain kepada Tuhan , tidak ada lagi yang dapat melindungiku. Kemana aku harus lari dari cengkeraman tanganmu? Akan kucari keadilan yang bertentangan dengan kekuasaanmu.” Wanita kecil itupun tersenyum manis kepada sang Raja, dan hati sang Raja sontak tersentuh dengan senyuman itu dan ia pun menangis dan berkata “lebih baik aku binasa daripada menumpahkan darah yang tidak bersalah. Raja mencium kepala wanita kecil itu, memeluknya dan memberikan kepadanya hadiah banyak dan membebaskannya.  Menurut sahibul hikayat, pada saat itu juga Raja sembuh dari penyakitnya .

Cerita Sa’di dalam gulistan di atas, jika diterjemahkan secara harfiah. Moral cerita ini sebenarnya sangat sederhana : Sembuhkanlah peyakit sang Raja dengan sentuhan Senyuman manis seorang wanita yang tulus dan bersih. Atau jika raja ingin selamat, dengarkanlah suara hati seorang wanita yang terpancar melalui keindahan senyumannya.

Saya teringat dengan seorang kawan yang berbeda jenis, mahkluk itu bernama waNita tentunya, konon, dalam setiap pancaran sinar lembut di matanya adalah Kearifan, dan setiap senyumannya adalah cinta. Saat tersungging senyumnya adalah cahaya  dan  spirit. Dalam setiap untaian kalimat-kalimat dari ucapannya adalah kekuatan dan antusiasme.Dia adalah sosok totalis care terhadap orang disekitarnya, nuansa peduli sesama itu sepertinya sudah menjadi virus yang menggerogoti seluruh sistem mekanisme urat nadinya untuk selalu berbagi, entah itu sebentuk suka ataupun rasa duka bagi siapapun yang pernah berinteraksi dilingkup sosial ataupun spiritualis dengannya.

Dalam sebuah momen duka, ketika dia harus kehilangan rekan se-profesinya. Rekan  yang mungkin selama hidupnya selalu menyorotkan sinar mata kedewasaan dalam memimpin, rekan yang sorot matanya selalu dipertahankan untuk tidak terkatup kelopaknya,  agar tetap menjadi sahabat setianya dari nilai kebenaran betapapun menyakitkan. Sang rekan mungkin pula adalah sosok orang tua bijak yang sesudah mengalami beban dan ranjau sepanjang jalan menjumpai bahwa kebenaran saja yang layak dipertahankan.

Saat sang rekan mendapat lemparan senyuman termanis dari Sang Pencipta untuk segera masuk dalam pelukan kasih sayang-Nya yang serba Maha , dalam sebuah terminal persinggahan dimensi alam berbeda yang dinamakan kematian. waNita itupun berduka, namun saya tak menjadikan dukanya itu sebagai prioritas yang mesti dicermati, tetapi  bahwa saat itu si waNita ini justru menunjukkan satu bentuk ekspresi  kesadaran spiritual tertinggi kedua dengan mengingat maut sebagai sebuah kepastian, maut yang dilewati rekannya adalah pintu pasti yang akan dilewati oleh siapapun yang pernah bernyawa, dan bukankah kesadaran spiritual tertinggi pertama adalah mengingat Allah dan Rasulnya, dan kesadaran spiritual tertinggi kedua adalah mengingat kematian.

 

Suatu Tradisi Klasik yang Gampang-Gampang Susah.

Senyuman waNita laksana duta-duta Tuhan yang akan menyuapi mulutmu dengan cinta dan kasih keabadian.

Saya hendak menyampaikan sebuah kebiasaan yang baik dan sehat untuk keberlangsungan hidup kita, yakni terbiasalah untuk selalu membuat wanita tersenyum, karna dengan membuat wanita tersenyum maka mereka akan menawarkan kedamaian dan kebahagiaan seperti yang dikandung semesta alam. Memang untuk melihat sebuah senyuman terbaik pada seorang wanita adalah perkara gampang-gampang susah.  Mesti dibutuhkan sebuah ketelitian dan penjiwaan serta sebuah sikap yang selalu istiqomah dalam kerasionalannya.

Dan pada saat wanita itu tersenyum sebaiknya kontrol diri harus tetap terjaga. Sebab senyuman wanita ibarat sebuah peluru berkaliber super yang sanggup menembus dinding pertahanan siapapun yang menatapnya. Jika kontrol diri terabaikan, maka dengan mudah anda dilumpuhkan oleh lesatan dahsyat senyuman itu.

Kadangkala memang harus kita akui bahwa senyuman wanita adalah sang penembak misterius jantung para lelaki. Tak terkecuali dengan senyuman teman saya itu. Entah apa penyebabnya sehingga daya magis rasanya melingkari setiap lemparan senyumannya, meskipun itu hanya sebuah potret digital.

Mungkin suatu saat jika sebuah kesempatan terlahir untuk mengekspresikan dan mengapresiasikan keistimewaan dari senyumannya, maka tak ada ungkapan yang tepat terkecuali melafazkan kepadanya “ Wahai Sang waNita, aku merasakan ada kejutan gejala dalam mekanisme urat syarafku. Kuanalisa, fenomena itu timbul oleh suatu rangsangan tertentu dari sesuatu yang menggetarkan seluruh sistem nilai dalam diriku. Rangsangan itu adalah Senyumanmu!!!.

 

Anshar Aminullah

Merekam retak, sebelum ia jadi runtuh.

Artikel ini lebih awal telah dipublis pada Blog penulis yang sama di :

https://ansharaminullah.wordpress.com/2011/12/30/senyuman-wanita-sang-penembak-misterius-jantung-lelaki/

 

This will close in 2 seconds