Ku Akhiri Saat Indah Masa Lajangku “Sebuah Refleksi Efek Feedback Lagu Cinta H. Rhoma Irama”

6 minutes reading
Wednesday, 14 Jul 2021 15:22 0 1395 Anshar Aminullah
 

Rasanya tak sulit untuk mencari pendengar yang cukup setia pada lagu-lagu bang Haji Rhoma Irama, mulai dari sudut-sudut terdalam sebuah kota, hingga kepelosok desa di Nusantara ini sepertinya Bang Haji adalah figur yang tak pernah kehilangan kesetiaan para pendengar terhadap hentakan irama melayu yang menjadi ciri khasnya. Irama yang masih tetap bertahan dalam kemoderenan cita rasa musik para anak muda selama ini.

Namun jangan berharap anda dengan mudah mendapatkan pendengar dengan type yang cukup sabar terhadap lagu-lagu Rhoma Irama.Memang adakah perbedaan antara pendengar yang setia dengan pendengar yang sabar pada lagu-lagu Bang Haji? Dalam realitas kekinian,setia dan sabar adalah 2 kata sifat yang selalu diharapkan saling beriringan dan bergandengan. Setia mengandung makna pengkodisian terhadap pilihan hati nurani dalam suasana apapun. Sementara Sabar adalah pengkondisian suasana pikiran dan emosional berdasarkan stimulan di sekitarnya.

Beberapa bulan yang lalu saya menerima pesan Blackberry dari seoran teman, cukup akrab dan cukup unik karna tak sekalipun kami pernah bertatap muka di dunia nyata. Namun cukuplah rasanya dunia maya menjadi penghubung erat ikatan emosional sebagai seorang teman. Dia menceritakan bagaimana setiap harinya dia mendengar lantunan musik dangdut dengan penyanyi tunggal dan nyaris tak tergantikan. Sumber musik tersebut bukanlah dari dalam bilik kamar kostnya melainkan dari sudut sebuah ruangan milik tetangganya.

Nyaris semua lagu yang terputar semua dikenalnya, jika bukan liriknya minimal arah perpindahan chord dari alunan syahdu gesekan Soneta group. Konon dia tak begitu suka dengan lagu-lagu Bang Haji, namun dengan terpaksa dia mencoba untuk bersabar saja disetiap pergeseran waktu yang teriringi dengan suara mp3 yang diputar oleh tetangganya. Mungkin alunan lagu-lagu yang diputar oleh tetangga teman saya itu telah menjadi ujian pertama tingkat kesabarannya  pasca berlalunya bulan Ramadhan ditahun yang sama saat itu.

Tak sekalipun dia mencoba melakukan protes keras terhadap ulah tetangganya karna bisa jadi berdampak pada dua kemungkinan. Pertama, peningkatan volume sound system sang tetangga dan selanjutnya teman saya ini sudah tak konsisten lagi dengan sikap istiqomahnya dalam sebuah kesabaran, Bahwa dia harus senantiasa berusaha menjaga konsistensi dan keutuhan orientasi hidupnya yang luhur dengan senantiasa memelihara hubungan dengan Allah dan dengan perbuatan baik kepada sesama manusia.

Kedua, terjadinya perubahan bentuk raut muka dari senyum bersahabat menjadi senyuman tak bermartabat. Dan efek itu telah dipikir matang-matang olehnya. Dia mungkin begitu sadar dengan rizki Allah, sehingga komitmennya terhadap kehidupan yang rukun dalam bertetangga sangat dia junjung, bahwa dia mengemban tugas membangun dunia ini dengan memelihara kedamaian dan ketenangan hidup sesuai hukum-hukum yang berlaku secara utuh tidak hanya dalam bagiannya secara parsial semata.

Disaat yang sama pula, teman saya ini juga barangkali telah menyadari bahwa bang Haji telah melakukan sebuah kreativitas dalam memuji Allah dan mensyiarkan Islam. Apatah lagi Rhoma telah terang-terangan menyebutkan kalau dakwahnya ini adalah untuk memerangi Iblis, Jin dan Syeitan yang bertugas sebagai birokratnya Dajjal.

Berselang beberapa minggu kemudian teman saya ini kembali mengirimkan sebuah pesan lewat Blackberry. Dia menyampaikan bahwa lagu-lagu bang haji sudah tak terdengar lagi seperti biasanya, padahal si tetangga masih setia berdomisili di rumah tersebut. Saya tak sempat bertanya apakah dia bahagia bahagia dengan suasana baru itu, suasana yang sepertinya sedikit menyiksa Psikis dan sedikit berdampak ke fisiknya. Perlu diketahui, kadangkala penyiksaan psikis pada seseorang jika berlangsung dalam range waktu yang cukup berlarut-larut akan menghadirkan suasana bathin yang melekat dan justru akan membuat seseorang akan merindu dan terbiasa bahkan menikmati penyiksaan bathin itu.

Banyak historikal masa lalu yang mungkin menjadi referensi sederhana buat kita untuk percaya, bahwa jika ketidak nyamanan psikis dan fisik masa lalu seseorang akan menghadirkan dua suasana yang bersifat kemungkinan. Jika bukan trauma maka dia adalah sebuah kerinduan akan keterulangan sejarahnya. Pada tahun 1970-an, Ratu Belanda pernah berkunjung ke Indonesia. Kala itu banyak Veteran kemerdekaan yang turut hadir untuk menyambut.

Yang mengherankan adalah bahwa tidak sedikit di antara Veteran itu yang menangis dihadapan Ratu Belanda seraya berujar bahwa kami rindu dengan suasana dulu Ibu Ratu, kapan kita berhenti untuk tidak merdeka lagi?. Lucu dan unik memang, disaat jutaan orang merasakan nikmatnya kemerdekaan ternyata masih ada segelintir orang yang merindukan suasana penyiksaan Psikis dan fisik penjajah Belanda.

Penyiksaan Psikis dan fisik semestinya melahirkan kesadaran tentang adanya penahapan kesadaran akan adanya dimensi waktu dalam setiap usaha besar atau “perjuangan”. Dan kesadaran akan dimensi waktu itu menjadi landasan bagi adanya kualitas spiritual sabar dan tabah, yaitu sikap berani menanggung penderitaan sementara, dengan mengingkari diri dari kesenangan sementara. Karena itu Cak Nur mengatakan bahwa bukankah dalam kitab suci kita diajarkan untuk saling berpesan untuk tabah dan sabar dalam konteks peringatan akan pentingnya kesadaran akan makna dimensi waktu.

Saya tidak akan melakukan sebuah jastifikasi perihal senang atau tidaknya Psikis dan fisik teman saya itu terhadap intensitasnya beberapa waktu lalu lagu-lagu dangdut Rhoma Irama, namun setidaknya bahwa nilai-nilai pada setiap lirik lagu bang Haji dapat dia resapi dan dimaknai. Karna untuk menuju kearah penangkapan makna, maka perlu ada jaminan otentisitas dari kreatifitas berpikirnya sebagai usaha untuk memberi responsi kepada tantangan cara bersikapnya selama ini. Setidaknya dalam kesibukan di bilik kamarnya buat menyelesaikan pekerjaan kantor yang masih tersisa hingga larut malam, dapat menyadarkan dia bahwa BEGADANG itu dapat membuat muka pucat karena darah berkurang.

Sebagai seorang abdi negara juga mungkin banyak tahu perihal kebiasaan GALI LOBANG TUTUP LOBANG, kebiasaan yang menjadi rutinitas di banyak orang yang menjadikan tanggal baru dan tanggal tua adalah momen yang cukup bersejarah dalam masa pengabdiannya. Juga mungkin setidaknya dia sanggup mengajarkan bagi sesama rekannya bahwa dalam hal KEGAGALAN CINTA cukuplah sekali kita merasakannya. Klimaks dari peresapan nilai-nilai dan makna  lirik bang Haji olehnya adalah kesanggupannya dengan tegas untuk mengungkapkan pada calon suaminya kelak bahwa tak enak hidup jadi BUJANGAN, selain malam tidurnya sendirian, olehnya itu segera wujudkan CITRA CINTA kita, jangan hanya MENUNGGU, sebab sudah tak sabar rasanya mengakhiri masa lajang dan hidup berdampingan sebagai ISTRI SOLEHA dan BERKELANA menjalani BAHTERA CINTA dan MENGGAPAI MATAHARI dalam dekapan karunia ILAHI.

Tak berlebihan rasanya jika peresapan nilai lagu juga dilakukan oleh suaminya kelak. Minimal sang suami melakukan peresapan makna dari lagu Goyang Sutra milik si Julia Perez, selebihnya mari kita mengajarkan pentingnya pelajaran tata cara mandi junub bagi para remaja kita.

 

Tulisan ini juga telah dipublis lebih awal di blog penulis yang sama di :

https://ansharaminullah.wordpress.com/2011/12/30/ku-akhiri-saat-indah-masa-lajangku-sebuah-refleksi-efek-feedback-lagu-cinta-h-rhoma-irama/

 

This will close in 2 seconds