Menanti Mantra Politik Sang Petahana

4 minutes reading
Wednesday, 14 Jul 2021 15:22 0 1389 Anshar Aminullah
 

Dalam hitungan mundur. Head to Head ini akan mencapai titik nadir menegangkannya di 15 Februari, hari H menuju Point Of The Return dalam berdemokrasi Di Takalar.

Dalam pemberitaan sebuah media cetak lokal (12/2), sebuah lembaga Konsultan Politik merelease hasil surveynya, dimana petahana ditempatkan pada posisi 61,3 % dan sang penantang pada posisi 29,8 %. Range angka yang cukup jauh ini diibaratkan seseorang bertubuh kecil melawan raksasa. Sangat sulit rasanya untuk mendapatkan sebuah kemenangan. Situasi ini mengingatkan kita pada legenda pertarungan David dengan fisik yang kecil dan tanpa baju besi, melawan Goliath, sosok tinggi besar berbaju besi lengkap dengan pedang dan perisainya.

Berdasarkan pemilahan kompetensi dan performa, maka diatas kertas dalam kalkulasi siapapun, petahana akan selalu diunggulkan. Jika sebuah implikasi analisis awal ditarik lebih luas lagi, maka petahana selalu diunggulkan dengan modal dasar penguasaan terhadap struktur pemerintahan, dari levelan Kecamatan, Desa hingga ke dusun-dusun. Sokongan keuangan yang kuat, investasi politik dari para calon investor, seakan menjadi sinyalemen yang kuat kepada sang penantang, agar duduk manis saja bersantai dengan anak istri dirumah, sambil menunggu hasil perhitungan cepat, guna menasbihkan kemenangan dan kekuatan super sang petahana.

Ironi dua sahabat – Saudara ipar

“Umat manusia membuat sejarahnya sendiri, tapi bukan dalam kondisi yang mereka pilih” (Marx : 1963) adalah sebuah aforisma yang lebih meyakinkan kita jika dikonfigurasikan dengan realitas sejarah kedua pasangan calon ini.
Di tahun 2007, tahun yang cukup “romantis” bagi Calon Bupati dikedua pasangan ini. Duet HB-SK melawan petahana kala Itu Ibrahim Rewa (alm). Duet Keduanya cukup memberikan perlawanan. Petahana dengan keunggulan 42,61 % dan HB-SK 24,59 %, sebuah capaian yang lumayan hebat untuk seorang penantan petahana yang diprediksi awal dapat meraih suara kisaran 65%.

Sementara Calon Wakil pada kedua pasangan ini, untuk kali kedua berhadapan pada momen yang sama. Mereka adalah saudara berlabel Ipar. Entah bagaimana kondisi persaingan dan pola komunikasi dalam tubuh keluarga besar mereka menyingkapi rivalitas ini. Namun yang pasti, bahwa keluarga ini sedang mengalami ujian berat. Mereka dihadapkan bukan pada sebuah pilihan “mencari titik temu”, namun sebuah keadaan yang akan memaksa mereka untuk “saling mengalahkan”.

Ironi dua orang sahabat dan dua orang ipar ini mengajarkan kita bahwa, tak ada yang abadi didalam dunia politik. Yang abadi adalah kepentingan. Rivalitas kedua calon ini mengakibatkan tak terhindarkannya pengaruh konfigurasi kedua kekuatan politik ini pada kecenderungan “disharmoni” kehidupan masyarakat umumnya dan, bahkan, kalangan intelektual, yang berkembang sampai kepada sikap kritis “Kita benar, Mereka Salah”.
Namun perlu diingat, mereka adalah putra-putra terbaik Takalar. Mereka tak sedang melakukan machtsvorming (membangun kekuatan untuk kepentingan diri sendiri dan kelompok), sebab mereka semua tahu bahwa itu melanggar hukum alam peradaban manusia.

 

Pilkada Rasa Pilgub

Indikasi ini ada, maklum saja, Pemilihan Gubernur Sulawesi Selatan akan dihelat tahun depan. Para bakal calon sudah mengambil peran mereka masing-masing di momen ini. Dua kelompok besar sedang beradu strategi. Menarik memang, saat memperhadapkan keduanya secara diametral, sebab bukan saja merupakan sebentuk simplifikasi peta kekuatan, tapi adanya penggambaran realitas predominasi di Pilgub Sulsel 2018.

Kehadiran NH dianggap sebagai sebuah kewajaran, sebab posisi politik Partai Golkar di pasangan Petahana sangat tegas pada sikapnya (aspek kader dan aspek potensi menang). Di lain sisi, kehadiran TYL dikandidat sebelah juga dianggap sebagai sesuatu yang sah-sah saja. Kehadirannya juga merepresentasikan dua hal, sebagai personifikasi trah clam politik tertentu, juga pertimbangan dukungan secara kelembagaan di Parpol (baca Nasdem). Kehadiran keduanya justru menjadi pemandangan yang cukup menarik perihal bagaimana konstalasi politik kedepan, siapa suksesor pasca kepemimpinan dua periode SYL di Sulsel.

Sebagai catatan tambahan, Dalam 1 dekade terakhir, dalam hemat kami, telah terjadi little Evolution pada lembaga Konsultan Politik akan setiap reliese hasil surveynya. Pertama, terkadang hasil tak seindah kenyataan. Kedua, terkadang hasil buat menipu lawan. Dan ketiga, dititik lebih ekstremnya, terkadang hasil real tak diketahui oleh klien namun diketahui oleh “pengorder”. Entah yang mana fakta sesungguhnya pada release hasil tadi, namun yang pasti bahwa apresiasi positif tetap perlu kita berikan kepada mereka.

Dengan melihat peta sederhana dari kekuatan masing-masing calon Bupati, rasa-rasanya illustrasi David dan Goliath di Pilkada Takalar bisa saja terjadi. Dengan mencermati kecenderungan yang lahir pasca release hasil survey diatas, ada kemungkinan, jika kubu Goliath selama ini terjebak menganggap enteng kubu David. Yah, David, bertubuh kecil namun memiliki banyak kekuatan besar yang menyokongnya secara diam-diam dari belakang.

Secara tak langsung Goliath sesungguhnya telah kalah sebelum batu umban David menghantamnya. Yaitu saat dia lengah dan meremehkan David. Dalam konteks sesungguhnya, Selebihnya biarkan garis tangan yang berbicara akan nasib Sang David dikubu penantang menghadapi Goliath dikubu petahana, toh juga pada akhirnya seorang Petahana terkadang membutuhkan sebaris “Mantra Politik” agar takdir berkata lain pada dirinya, takdir akan sebuah cita yang terpatri dihati kedua pasangan, sebagai Pemimpin yang amanah dengan Rakyat sebagai tahtanya.

 

(Artikel Ini Pernah diterbitkan Di media online Makassar Terkini 13 Februari 2017)

Artikel ini juga telah di publis lebih awal di blog penulis yang sama di :

https://ansharaminullah.wordpress.com/2020/06/16/menanti-mantra-politik-sang-petahana/

 

This will close in 2 seconds