Salah satu riset tentang Uses and Gratification menjelaskan bagaimana pengguna secara aktif memilih media seperti video pendek atau reels demi mendapatkan kepuasan atau pelarian instan agar terjadi lonjakan dopaminnya, yang jika berlebihan justru menumpulkan fungsi otak.
Hal ini sangat berpeluang menjadi penyumbang bagaimana terjadinya pembusukan otak (brain root) yang memengaruhi kesehatan kognitif dan mental. Ironisnya banyak yang tidak menyadari bahwa dia sudah terkena efek tersebut. Akibatnya hal yang sepeld pun sangat gampang membuat mereka mengambil tindakan nekad dengan menciderai bahkan menghilangkan nyawa yang ditemani bersinggungan.
Perubahan sosial tentu adalah sesuatu yang sangat sulit dihindari. Khususnya pada perubahan dalam memegang teguh prinsip-prinsip nilai-nilai moral dan agama yang kita rasakan sendiri sangat-sangat terasa pergeserannya dalam 1 dasawarsa terakhir sejak era smartphone semakin maju teknologinya.
Faktor berkenaan tekanan ekonomi, dimana kenaikan harga barang-barang karena BBM telah lebih dahulu naik. Susahnya mendapat pekerjaan serta daya beli masyarakat yang ikut melemah, ini mampu memberikan beban mental sehingga seseorang bisa sangat sensitif untuk menyelesaikan persoalan dengan cara-cara ekstrim.
Tentu rasa was-was bahkan menjadi paranoid akan bisa mendera masyarakat kita disitiuasi maraknya kejadian-kejadian ekstrim ini. Tentu kembali kepada nilai-nilai agama dan keaeifan lokal akan menjadi solusi preventif yang cukup bagus. Pemerintah bersama tokoh agama dan tokoh masyarakat mungkin harus lebih intens lagi duduk bersama untuk bisa secara aktif memberikan pencerahan bagi masyarakat kita.
Wawancara ini telab dimuat lebih awal pada edisi cetak Berita Kota Makassar 16 Juni 2026. Dan dimuat pada link di bawah serta diposting ulang oleh narasumber pada website ini sebagai arsip pribadi :