Sudah dua hari ini, di salah satu grup WhatsApp alumni sekolah, salah seorang sahabat saya muncul dengan pertanyaan yang selalu sama: “Adakah yang tahu jadwal mati lampu PLN hari ini? Tolong dishare.”
Di saat layar ponsel sahabat saya mulai meredup akibat baterai menipis imbas pemadaman ini, saya kepikiran bahwa pemadaman bergilir dalam beberapa hari ini bisa jadi adalah niatan PLN menunjukkan bagaimana lagu mati lampunya King Nassar tetap punya korelasi dengan cinta mereka pada pelanggannya yang selalu setia dan sabar:
“Seperti mati lampu yah sayang, seperti mati lampu. Cintaku padamu yah sayang bagai malam tiada berlalu”
Pemadaman listrik bergilir di Makassar ini mungkin terasa mengganggu, tetapi barangkali tidak seberapa dibandingkan dengan ancaman ISPA dan gangguan kesehatan yang harus dihadapi saudara-saudara kita akibat asap dari kebakaran hutan dan lahan. Hingga hari ini, persoalan karhutla belum benar-benar padam.
Saudara-saudara kita di Kalimantan Tengah masih berhadapan dengan kepungan asap, sementara di Barru kebakaran hutan dan lahan juga terjadi. Di Gunung Lakawan, Enrekang, api masih sulit dipadamkan. Di berbagai daerah lainnya, lahan-lahan yang terbakar terus menyisakan persoalan yang bukan hanya tentang api, tetapi juga tentang udara yang dihirup, kesehatan yang dipertaruhkan, dan kehidupan warga yang masih terus terganggu.
Meskipun PLN Unit Induk Distribusi Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat (UID Sulselrabar) hari ini telah mengucap janji pada Walikota Makassar (Kompas, 1/9/26) bahwa listrik akan normal di 5 September nanti, namun 4 hari menunggu itu tetap saja terasa “bagai malam yang tiada berlalu”. Tetap saja terasa lama dan bikin lelah hati ini hayati… .
Dan mungkin ini semacam cara baru PLN dalam menjaga keseimbangan, yakni ketika api terlalu terang, maka sepertinya listriklah yang harus dibuat gelap? Entahlah.
Ataukah mungkin ini adalah interpretasi nilai-nilai pancasila dari PLN, tentang Keadilan sosial versi pemadaman, dimana keadilan itu adalah ketika semua orang mendapat gelap secara bergiliran.
Dan biasanya ketika listrik padam, masyarakat awam serasa dipaksa untuk memahami kondisi dalam sebuah sistem. Tentu sebagai bagian dari rakyat yang taat pajak, kita bisa memahami bagaimana kebutuhan pemeliharaan dalam periode tertentu harus tetap dilakukan oleh PLN. Tetapi pertanyaan sosialnya adalah, seberapa jauh warga harus terus menjadi pihak yang menanggung konsekuensi dari persoalan sistem ini?
Modernitas, Listrik dan Cinta
Dari peristiwa pemadaman bergilir ini, gemerlap lampu di berbagai sudut kota Makassar yang selama ini menjadi simbol sebuah era modernitas yang sudah serba digital. Dimana Makassar yang bisa punya gedung tinggi, pusat perbelanjaan di berbagai tempat, internet yang cepat, dan ekonomi digital, tetapi tetap saja semuanya masih sangat bergantung pada listrik yang menyala.

Dan ketika listrik padam, kita pun kembali sadar, bahwa semodernitas apapun kita dan secanggih apapun teknologi hari ini, ternyata masih saja tetap bergantung pada pengendali on-off bernama sakelar.
Apatahlagi pada para pemilik gawai dari smartphone, tablet hingga laptop, mereka telah menegaskan tentang tiga jenis kebutuhan pokok atau kebutuhan primer yang wajib dipenuhi oleh manusia untuk bertahan hidup, yang dulunya hanya tiga sekarang telah menjadi empat: Sandang, Pangan, Papan dan Colokan. Tahu khan bagaimana uring-uringannya kita saat melihat posisi baterai gadget pada posisi 3%.
Setidaknya hikmah sederhana dari peristiwa pemadaman bergilir di Makassar ini adalah bahwa kita tampaknya semakin pandai memadamkan masalah setelah masalah itu menyala.
Semoga di tanggal 5 September lusa, PLN Unit Induk Distribusi Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat (UID Sulselrabar) benar-benar memenuhi janjinya. Sebab jika mereka tak menepatinya, apalagi ditambah tak ada kabar lanjutan, mungkin inilah isyarat yang pernah diungkapkan oleh Sandy Sondoro :
Kini tak ada terdengar kabar dari dirimu
Kini kau telah menghilang jauh dari diriku
Semua tinggal cerita antara kau dan aku
Namun satu yang perlu engkau tahu
Api cintaku padamu
Tak pernah padam
Sebab cinta kita kepada PLN mungkin memang tidak selalu romantis, karena dipisahkan oleh jarak kWh, dibahagiakan oleh kabar pemadaman yang usai, dan disakiti dengan pulsa token yang sekarat.