Luka Di Atas Rasa Merdeka

3 minutes reading
Thursday, 21 Aug 2025 10:30 0 1385 Anshar Aminullah
 

Seberapa penting pendekatan yang menuntut empati mendalam terhadap posisi dan kondisi para guru kita di negeri ini?

Para guru kita yang secara historis posisinya tak terbantahkan sebagai pilar pembentuk generasi, bukan sebagai beban, catat sekali lagi “bukan sebagai beban” melainkan aset bangsa.

Menyebut mereka sebagai “beban” membuka luka emosional karena mengabaikan nilai intrinsik profesi pendidikan dan simbol perjuangan moralnya.

Di masa lalu, ketika era Persia kuno, saat para magus atau dikenal sebagai kaum cendekia dan pendidik pada agama Zoroastrianisme, mereka sering dianggap bahagian dari kelompok yang membebani negara karena hidup dari persembahan dan dana kerajaan.

Namun berbeda dengan raja-raja Persia bijak seperti Darius I (522 SM-486 SM). Dia justru menekankan pentingnya mereka sebagai penjaga moral dan hukum.

Dan apa efek signifikan dari anggapan mereka pada kaum cendikia dan pendidik pada agama Zoroastrianisme? Saat kekuasaan mulai menganggap mereka hanya sebagai kelompok tempat memboroskan anggaran, dan menjadi beban kerajaan atas pengeluarannya, tanpa berusaha melihat nilai sosialnya.

Tidak butuh waktu lama, akhirnya timbul ketidakpuasan pada rakyat, melemahnya legitimasi moral penguasa, dan pada akhirnya mendorong melemahnya ikatan sosial di dalam kerajaan.

Dan yang paling besar terkena dampaknya, yakni terbukanya ruang bagi pemberontakan di daerah-daerah satrapi (daerah administratif yang dipimpin oleh seorang setingkat Gubernur), hal ini dikarenakan di pusat tidak lagi dianggap adil dan bermoral oleh rakyatnya.

Pada akhirnya, Kekaisaran Achaemenid pun runtuh ketika di tahun 330 SM, Alexander Agung menyerbu, meskipun beberapa sejarawan menilai ada sisi yang lemah dari kohesi perihal moral-intelektual memiliki berperan di dalamnya.

 

“Memandang guru sebagai beban anggaran bukan sekadar soal angka dalam APBN, melainkan refleksi apakah negara memilih jalan memperkuat peradaban atau justru mengikis pondasinya sendiri.” 

Anshar Aminullah

 

Minim Empati

Pernyataan Menteri Keuangan Sri Mulyani yang cenderung melihat rendahnya gaji guru dan dosen merupakan tantangan serius bagi APBN, yang menurutnya ketika dilihat dalam konteks kesejahteraan pendidik, hal tersebut dianggap sebagai beban. Pernyataan ini tentu saja memicu kontroversi yang hebat, terutama dari kalangan pendidik yang merasa direndahkan. Terlepas dari kekhilafan Menteri Keuangan yang sulit tergantikan ini,

Namun pernyataan Sri Mulyani seolah mengabaikan fakta di lapangan, bahwa seorang guru memikul tanggung jawab yang sangat besar. Mereka menyiapkan dan menyampaikan informasi tentang garis-garis besar pelajaran sebelum pelajaran dimulai, atau pada waktu permulaan jam pelajaran, hal ini berarti, kerja intelektual, moral, dan emosional yang panjang tentu menjadi bahagian dari aktivitas para guru ini.

Memandang guru sebagai beban anggaran bukan sekadar soal angka dalam APBN, melainkan refleksi apakah negara memilih jalan memperkuat peradaban atau justru mengikis pondasinya sendiri.

Retorika yang ringan yang mungkin dianggap sebagai goyunan oleh Sri Muliani, memang sangat terasa menyepelekan realitas pahit kehidupan para pendidik di negeri ini. Hal ini juga memperlihatkan bagaimana ketidakhadiran dimensi etis dan kepekaan publiknya saat melontarkan pernyataan tersebut.

Sebagai tokoh senior di negara ini, dengan akses ke data keuangan di semua lini, maka empati intelektual seharusnya membuat menteri keuangan, Sri Mulyani menggunakan framing yang lebih menghormati dan menghargai

Khususnya bagaimana sudut pandangnya pada tantangan pendanaan untuk kesejahteraan para guru kita. Sehingga dengan demikian, dialognya akan menjadi lebih kolaboratif, bukan berakhir pada terpicunya memicu luka pada profesi mulia ini.

Tapi nasi sudah jadi bubur, kita sisa menunggu saja klarifikasi pemerintah atas luka ini. Setidaknya, pernyataan ini semoga saja tidak terlalu membebani pikiran tenaga pendidik kita yang masih merasakan euforia kemerdekaan ke 80 Indonesia, yang kebetulan masih bergembira dengan kemeriahan pesta rakyat, serta berbagai lomba di acara 17an kemarin.

Sebab mungkin dengan euforia itu, akan menjadi salah satu cara untuk berpura-pura bahagia, walau dengan senyuman tipis pada sebuah luka diatas rasa merdeka.

Artikel ini juga lebih awal telah terbit dan dipublikasikan ulang di website pribadi untuk keperluan dokumentasi pemikiran dan arsip penulis di media :

https://herald.id/2025/08/19/luka-di-atas-rasa-merdeka/ 

 

This will close in 2 seconds