25 Tahun Pengabdian Pak Azir, Menjaga KNPI di Tengah Banyak Versi

3 minutes reading
Sunday, 14 Dec 2025 15:29 0 1404 Anshar Aminullah
 

Adakalanya sangat penting kita belajar tentang daya tahan. Bahwa daya tahan tidak selalu hadir dalam bentuk perlawanan yang heroik dan dramatis.

Ada daya tahan  lain yang bekerja lebih senyap, daya tahan untuk tetap selalu hadir, tetap bekerja, dan tetap menjaga sesuatu yang rapuh agar tidak sepenuhnya runtuh. Daya tahan yang tidak tercatat dalam berita, tidak dielu-elukan dalam visi-misi calon ketua dan rapat formatur, namun  mampu menopang institusi dari dalam.

Namanya Azir Maulana. Tahun ini genap 25 tahun pengabdiannya di KNPI Sulawesi Selatan. Ia bukan ketua, bukan pengambil keputusan strategis, dan tak pernah mengklaim legitimasi apa pun.

Namun justru di tengah KNPI yang terbelah ke dalam berbagai versi, pak Azir tetap berada di sekretariat, menjaga ritme kerja harian sebuah organisasi yang secara simbolik terus diperebutkan, tetapi secara praktis harus tetap hidup apapun kondisi dan suasananya.

Pasca berpulangnya almarhum pak  Abdul Wahap, sosok yang juga pernah mengurus banyak pengurus lintas generasi di KNPI Sulsel, ibarat kata, dia tak hanya sebagai teman, juga kakak bahkan sebagai ‘bapak’ angkat dari seluruh mantan pengurus KNPI se Sulawesi Selatan yang pernah berinteraksi dengannya. Berpulangnya pak  Wahab membuat beban kerja pak Azir praktis meningkat dua kali lipat.

Ia mengurus administrasi dan kesekretariatan, melayani kepengurusan yang silih berganti, dan tetap menjaga hubungan dengan mereka yang datang dari latar belakang berbagai DPD Kabupaten/ Kota dan OKP berbeda-beda. Gaji kadang lancar, kadang tertunda. Tapi sekretariat tetap dibuka.

Arsip tetap dijaga, rutinitas pun tetap berjalan walau sedikit melambat plus aroma kopi serta teh buatannya pun kadang ikut hilang dalam jamuan keseharian pengurus yang datang ke sekretariat.

Kadangkala kami berdiskusi ringan, di sela-sela waktu yang senggang. Bukan diskusi besar tentang politik tingkat tinggi, melainkan obrolan sederhana tentang kepemudaan Sulsel, tentang bagaimana organisasi ini dulu dibangun dengan idealisme, dan bagaimana hari ini ia bertahan lebih karena kerja-kerja sunyi orang-orang seperti almarhum Pak Wahab dan Pak  Azir.

Pak Azir adalah representasi dari  ‘bapak’ angkat baru yang menjaga keberlanjutan institusi ketika elite pemuda sibuk berebut legitimasi. Ketekunan pak Azir adalah simbol daya tahan yang jarang disadari. Ia tidak memaksa perubahan, tetapi mencegah kehancuran total KNPI Sulsel. Ia tidak berteriak, tetapi memastikan KNPI tetap memiliki denyut kehidupan.

Dan kita bisa bayangkan bagaimana kehilangan arahnya roda organisasi jika pada akhirnya pak Azir memilih untuk berhenti mengurusi pemuda di KNPI Sulsel, dialah satu-satunya sekarang ini yang paling khatam soal cara mengelola kesekretariatan di KNPI, jika dia memilih pensiun, maka bisa diprediksi macet totalnya roda organisasi.

Dan jika hari ini KNPI Sulsel dihadapkan pada kenyataan  berbagai versinya, maka dimanapun versi lainnya berdiri diluar dari lingkaran sekretariat pak Azir, percayalah, mereka bisa dipastikan akan merasakan ada bagian  urgen dan vital yang kurang lengkap bahkan hilang dalam perjalanan  ber KNPI mereka.

Karena mungkin, dari figur-figur seperti pak Azir inilah kita belajar makna pengabdian yang paling manusiawi, bahwa bertahan bukan karena segalanya adil, tetapi karena ada sesuatu yang masih layak untuk dijaga, sebuah organisasi berhimpun bernama DPD KNPI Sulawesi Selatan.

Anshar Aminullah

Mencatat yang luput, merawat yang nyaris hilang.

 

This will close in 2 seconds