Duka dari NTT: Memupuk Gizi Tubuh, Memupus Buku Harapan

5 minutes reading
Friday, 6 Feb 2026 13:20 0 1369 Anshar Aminullah
 

Publik tersentak, sebuah kertas dengan potongan yang tidak rapi dan tulisan di dalamnya pun terlihat cukup sulit terbaca, ditulis oleh seorang anak kecil, yang tidak ada seorang pun pernah menyangka bahwa itu menjadi tulisan terakhirnya, beberapa jam sebelum dia mengakhiri hidup.

Seorang bocah kecil di pelosok Ngada, NTT, memilih mengakhiri hidupnya bukan karena ia bodoh, tetapi karena ia terlalu dini mengenal rasa malu di hadapan kemiskinan. Ia meninggal bukan karena kekurangan gizi, tetapi karena kekurangan harapan.

Ini menjadi ironi. Sebab di satu sisi, pemerintah sedang getol-getolnya memperbaiki gizi anak sekolah melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG). Namun di sudut NTT, seorang anak justru mengalami tragedi yang di luar dugaan, ia harus mengakhiri hidupnya hanya karena persoalan sebuah buku tulis yang tak sanggup dibeli oleh ibunya.

Ironi ini tak hanya sekadar menjadi cerita sedih dari pelosok Indonesia bagian Timur, namun ini adalah cermin yang menampar nurani kita, bahwa di tengah riuhnya agenda pembangunan gizi, justru ada sisi lain kehidupan anak bangsa yang ternyata masih bergelut dengan lapar akan kesempatan untuk belajar dengan layak.

Program makan bergizi gratis memang adalah ikhtiar negara, dalam rangka menjaga tubuh anak-anak bangsa tetap terjamin jumlah gizi yang dikonsumsinya tiap hari. Ia penting, ia perlu, dan ia patut diapresiasi.

Namun paradoksnya justru tampak ketika negara memastikan anak-anaknya kenyang di siang hari, sementara ada anak di jam terpisah yang memilih mengakhiri hidupnya karena tak mampu membeli buku tulis.

Di kondisi inilah ironi itu mendadak berubah menjadi pertanyaan moral: apakah perhatian negara pada anak berhenti di perut, atau telah menjangkau hati dan martabatnya sebagai manusia kecil yang ingin tumbuh utuh?

Negara tampaknya memahami anak sebagai tubuh yang harus diberi makan, tetapi belum sepenuhnya memahami anak sebagai jiwa yang harus dijaga martabatnya.

 

Kritik struktural

Pandangan yang sempit tentang anak inilah yang pada akhirnya kemudian menyingkap akar persoalan yang lebih dalam, bahwa ini bukan sekedar pada niat baik programnya, melainkan pada cara negara menata prioritas kemanusiaannya.

Masalahnya bukan pada program makan bergizi, melainkan pada urutan kepedulian negara. Gizi tanpa akses pendidikan hanya melahirkan anak-anak yang kenyang, tetapi tetap merasa tertinggal bahkan rapuh dalam keyakinan apakah esok hari mereka masih bisa bertahan hidup sekadar untuk mengganjal perut.

Di Sulawesi Selatan, pernah ada masa ketika sekolah dibebaskan dari biaya bukan karena daerah itu kaya, melainkan karena pemimpinnya memilih berpihak pada nasib rakyat kecil.

Program pendidikan gratis kala itu tidak sekedar lahir dari angka statistik, tetapi dari kesadaran bahwa kemiskinan tidak boleh dijadikan hukuman bagi anak-anak. Di Sulawesi Selatan, kebijakan pendidikan gratis pernah menjadi penanda bahwa negara bisa hadir lebih awal daripada rasa putus asa anak-anaknya.

Hari ini negara tampak sangat sigap menghitung aset, menyita rumah, dan mengamankan angka-angka. Namun pada saat yang sama, negara gagal memastikan bahwa ada seorang anak yang tak sempat memiliki buku tulis meski hanya sekedar menggoreskan impiannya yang sangat tipis diraihnya.

Masalah kita hari ini bukan karena negara tidak mampu, melainkan karena negara lebih sibuk mengurus apa yang bisa disita daripada siapa yang harus dijaga. Negara boleh tegas pada pelanggaran, tetapi negara yang besar adalah negara yang tidak membiarkan anak-anaknya tumbuh dengan rasa malu karena miskin.

 

“Pasca peristiwa ini besar harapan kitaagar negara harus menghadirkan rasa aman dan meyakinkan, bahwa tidak ada lagi anak-anak bangsa yang merasa terlalu miskin dan tidak percaya diri walau, hanya sekedar bermimpi memiliki buku tulis.”

Anshar Aminullah 

 

Wajah Hangat Di Balik Sistem

Di tengah kekecewaan pada wajah negara yang tampak begitu jauh dari luka bocah NTT ini, saya justru diingatkan pada sisi lain negara yang sering luput dari sorotan. Ketika notifikasi WhatsApp di ponsel saya berbunyi siang tadi.

Pesan WA yang datang hampir bersamaan dari dua orang kawan lama saya, Edy dan Jaddan, beberapa di antara kami memanggilnya daeng, sebagian diantaranya memangginya bapak. Keduanya ASN di sebuah kabupaten yang pernah sukses menjalankan pendidikan gratis bernama kabupaten Gowa. Dan nama Gowa selalu lekat dengan ingatan, tentang sebuah ikhtiar negara yang pernah hadir lebih awal, melalui kebijakan yang berpihak sepenuh hati pada rakyat dari segala lapisan.

Mereka berdua masih tetap eksis dalam pengabdian, bergulat dengan urusan administrasi rakyat kecil dan perencanaan pembangunan daerah. Dari balik pesan singkat itu, saya kembali diingatkan bahwa di balik wajah negara yang sering tampak lalai, masih ada abdi negara yang bekerja dalam senyap dan memilih tetap memaksimalkan kinerjanya.

Di saat problematika negara bertubi-tubi, mereka berdua tetap hadir memastikan kebutuhan administrasi masyarakat berjalan dan planning pembangunan di Kabupaten tetap berada dalam koridor regulasi dan visi-misi kepala daerahnya. Sosok keduanya menegaskan bahwa negara tidak selalu identik dengan kekuasaan yang dingin. Ia juga hidup dalam kerja-kerja sunyi orang-orang yang setia mengabdi.

Kehadiran mereka memang tidak menghapus duka di NTT, tetapi mengingatkan bahwa harapan tidak sepenuhnya padam. Bahwa negara, sejauh ia masih punya nurani, selalu bergantung pada manusia-manusia yang memilih setia melayani.

Pasca peristiwa ini besar harapan kita agar negara harus menghadirkan rasa aman dan meyakinkan, bahwa tidak ada lagi anak-anak bangsa yang merasa terlalu miskin dan tidak percaya diri walau, hanya sekedar bermimpi memiliki buku tulis.

Sebab kalau urusan buku tulis saja negara masih ngos-ngosan menjamin, maka klaim keberhasilan apa pun layak dipertanyakan dan akan selalu terasa hampa, bahkan lebih “hampa” dari rasa yang pernah dinyanyikan Ari Lasso.

Selebihnya, kita hanya sedang merayakan capaian di atas kertas, sementara selembar kertas lain justru menjadi surat pamit seorang anak kecil.

Ironisnya, di hari yang sama ketika saya menerima kabar bahwa masa berlaku KTP saya resmi berubah menjadi “Seumur Hidup” berkat bantuan kawan lama saya Edy, saya justru diingatkan bahwa ada hidup seorang bocah yang terputus terlalu cepat, hanya karena lembaran kertas bernama buku tulis yang tak pernah sampai ke tangannya.

 

Tulisan ini telah dimuat lebih awal oleh media melalui link di bawah, dan dipublikasi ulang oleh penulis, untuk kebutuhan arsip pribadi dan dokumentasi akademik :

https://herald.id/2026/02/05/duka-dari-ntt-memupuk-gizi-tubuh-memupus-buku-harapan/

 

This will close in 2 seconds