Fenomena Pindah Parpol : Kesadaran “Life world” dan Pendidikan Hati yang terabaikan?

7 minutes reading
Wednesday, 14 Jul 2021 16:19 0 1363 Anshar Aminullah
 

Dalam kenyataan dan fakta sosial politik di Indonesia, berpindah partai dari partai satu ke partai lainnya adalah hal yang lumrah dan telah membangun gugus-gugus kenyataan sosial yang cepat ataupun lambat akan mengarah kepada sebuah nilai politik. Bahwa jika hendak bertahan dalam arus kekuasaan maka segeralah persiapkan tempat berlabuh baru untuk sebuah “gerak keutamaan” yang jika bukan mencari, mungkin merebut, atau dia mungkin berstatus mempertahankan sesuatu yang bernama jabatan dan kekuasaan itu.

Mencoba meminjam sebuah konstruksi berfikir Sudaryono (Harian Kompas : 2015), sebuah pemikiran yang diambil dari Teori Lapis Kesadaran milik Husserl (1954, 1970), Kesadaran Transedental, Kesadaran intensional dan kesadaran Life World. Bahwa kesadaran Life World , adalah “keutamaan” yang berhulu pada kesadaran nilai-nilai yang bersemayam dalam waktu yang panjang serta dalam skala satuan masyarakat yang luas berupa acuan nilai, ajakan kebaikan, ajaran keselamatan dan patokan keutamaan (Transedental).

Kesadaran Life World ini juga berasal dari sebuah niat-niat tulus yang merupakan awal dari sebuah kebaikan. Apa yang utama dalam kesadaran Life World ini, yakni sesuatu yang dilaksanakan tanpa target pujian, keuntungan ekonomi, kenaikan rating, maupun perolehan suara politik.

Sementara pendekatan makna Pendidikan Hati dapat dilakukan dengan mencoba menilik sebuah argumen, dimana dalam sebuah tesis Doni Koesoema. A mengungkapkan bahwa Dalam berpartai, Hati dan Nurani adalah dua hal yang tidak boleh terpisahkan (istilah ini sama sekali tak berkaitan dengan parpol tertentu), dia adalah dua pondasi dasar kemanusiaan yang mampu melahirkan pemimpin besar.

Jika tesis tersebut kita implimentasikan dalam aktivitas berpartai, maka Dalam berpartai pun demikian adanya, bahwa seorang politikus sejati seyogyanya melihat dengan hati dan bertindak dengan nurani, baru kemudian dengan akal dan keterampilannya mendesain tatanan dunia baru yang lebih baik. Bahwa aktivitas berpartai politik adalah proses menjalani sekaligus memberikan sebuah pembelajaran politik bagi kadernya dan juga bagi rakyat.

Pembelajaran politik adalah sebuah proses pendidikan non formal dan tertempa langsung oleh alam atau bersifat alami. Olehnya itu, ketika hendak memberikan sebuah pembelajaran yang baik maka pendidikan dengan Hati adalah sebuah keharusan agar tidak saja mampu melahirkan politikus handal beretika, juga akan melahirkan para pembaru sejarah.

Terjadinya gelombang Migrasi Politik beberapa waktu terakhir ini memang cukup menarik perhatian publik lokal, selain karena media cetak dan elektronik yang cukup memegang peranan penting dilentingan gemanya, poster, spanduk dan baligho juga diklaim bertanggung jawab atas Boom Effect kebesaran nama Parpol tersebut. Disaat bersamaan pula, juga terjadi kondisi berbanding lurus atas Viral tingkat lokal dimedia sosial pada momen ini. Dan alhasil, masyarakat kita telah tergiring pada sebuah dentuman kebesaran prosesi pelantikan organisasi politik bernama partai itu.

Sebagai sesuatu yang cepat ataupun lambat akan mengarah kepada sebuah kultur berpolitik modern lingkup Indonesia, berpindah-pindah partai kerap jadi sinyalemen kemungkinan terjadinya kondisi psikis personal objek pelaku berada dalam sebuah kerentanan hidup. Itulah mungkin konstruksi apa yang oleh Professor Komunikasi dari North Carolina University, Torin Monahan (2010) dia sebut sebagai “Insecurity Subject “ (Subjek yang gelisah).

Kemudian mereka akan menjadi tergiring untuk percaya bahwa ruang berpolitik, tempat orang-orang berkumpul dan lalu lalang berpolitik dalam sebuah partai haruslah steril dari sikap-tindakan yang mengancam keselamatan dan kelanggengan kekuasaan dan jabatan mereka. Jika itu terjadi secara intensional, maka tak ada jalan lain kecuali mencari tempat berlabuh baru yang jika digambarkan dalam modifikasi adagium Rene Descartes :Aku berpindah, maka aku ada.

Kehilangan Future Ethic

Tak sedikit yang mungkin akan mempertanyakan persoalan perpindahan seorang kader suatu partai ke partai lain apakah bukan sebuah “pengabaian” etika?

Menurut hemat penulis, bahwa berparpol bukan semata-mata urusan untuk diri sendiri tapi menyangkut persoalan khalayak. Bukan hanya menyangkut masa kini, tapi juga menyangkut masa depan. Bahwa jika kesadaran Life World terabaikan dalam berparpol maka secara tak langsung berimplikasi pada terjadinya pengabaian Future Ethic (Etika Masa Depan). Future Ethic menuntut Kader Parpol memiliki pola visi prospektif. Ini adalah sebuah sikap cerdas berpolitik yang melihat sesuatu dimasa depan bukan sebagai sebuah realitas tersembunyi tetapi merupakan hasil yang telah diprakirakan oleh aktivitas-aktivitas berpolitik yang dilakukan dengan segaja dan sistemik sebelumnya.

Bahwa berpolitik sekarang ini janganlah terjebak pada kekwatiran diatas normal soal anak cucu yang tak bisa bahagia dengan warisan berlebih saat karier politik meredup sehingga cenderung abai pada Future Ethic itu. Olehnya itu Future Ethic tak boleh berlabel khilaf jangka panjang dalam diri seorang kader parpol/ politisi.

Mencoba mentransfigurasikan kalimat pendapat Daoed Joesoef dalam aspek politik, bahwa Etika Masa Depan lahir dari kesadaran bahwa setiap politisi akan menjalani hidupnya dimasa depan bersama dengan rakyat disekitarnya. Maka politisi yang juga selaku khalifatullah di bumi, bertanggung jawab tidak hanya atas dirinya, tetapi juga terhadap rakyat disekitarnya.

Berarti masa depan (future) menuntut seorang politisi agar jangan berpura-pura khilaf pada tanggung jawab atas konsekwensi dari setiap aksi (misalnya berpindah-pindah parpol) yang dilakukannya sekarang ini, termasuk langkah yang dia ketahui harus diambil, tetapi dia abai merealisasikannya (misalnya bertahan di Partai yang membesarkannya).

Mengembalikan Kesadaran Life World dan Pendidikan Hati

Menghadirkan sebuah kesadaran Life World dan pendidikan Hati dalam diri seorang politisi adalah hal yang gampang-gampang susah. Dan seyogyanya Parpol tempat bernaungnya harus memegang peranan penting untuk hal itu. Sebagai referensi menarik untuk sebuah Parpol adalah apa yang diungkap oleh Bung Hatta lewat Klub Studinya, bahwa sebelum menjadi pemimpin rakyat mereka harus terlebih dahulu menata cara berfikir mereka sendiri, mereka harus mampu lebih maju dari dirinya sendiri (dalam Islam dikenal dengan istilah Tawaddu dan Istiqomah), bukan merasa lebih mampu dari orang lain (menyombong).

Bahwa sebuah Parpol memiliki tanggung jawab dalam proses perekrutan dan menerjungkan politisinya ke arena politik, bukan semata-mata karna telah berjasa mencari dana bagi kas partai atau menjadikannya pemenang sebagai ketua atau memenangkannya dari Pilpres hingga Pilkada. Ataukah berada pada garis keturunan dari trah person tertentu (Daoed Joesoef : 2015). Tapi Kader yang diterjungkan langsung itu seharusnya berdasarkan mutu pendidikan formal, kemampuan berfikir, kematangan bersikap, tanpa target pujian, tak mengejar keuntungan ekonomi, dan secara objektif-profesional mengundang respek dan bisa diakui kelebihannya. Dan penekanan paling penting dari sebuah parpol untuk para politisinya ataupun para kadernya adalah jangan pernah mengabaikan Future Ethic atau Etika Masa Depan.

Sangat disayangkan memang jika sebuah Partai Politik yang telah ikut membesarkan seseorang hingga kejenjang tinggi sebuah kekuasaan dan sebuah jabatan, lalu kemudian ditinggalkan oleh kader atau anggotanya untuk selanjutnya kepartai lain dengan berbagai alasan yang kadang dipaksakan rasionalisasinya. Mestinya ketika berada di parpol tersebut perlu dicamkan sedalam-dalamnya bahwa sebuah kepercayaan besar telah diberikan untuknya dalam rangka membesarkan parpol tersebut. Tak mudah mendapatkan sebuah kepercayaan besar, justru jauh lebih mudah ketika menanggalkan kepercayaan itu. Namun sekali lagi, kesemuanya itu tetap kembali kepada individu masing-masing perihal pilihan bertahan ataukah berpindah pada sebuah parpol.

Mungkin masih relevan disaat sekarang ini apa yang pernah diungkapkan oleh seorang Chairil Anwar “Jangan Jadi pengecut, hidup sekali harus berarti, ada yang berubah ada yang bertahan. Karna zaman tak bisa dilawan, namun yang pasti kepercayaan harus diperjuangkan”. Iya, perjuangkanlah kepercayaan itu, jangan tercap pepatah Habis Manis Sepah dibuang. Karna berparpol bukan hanya semata-mata untuk menuju pada sebuah tujuan politik tapi dia juga adalah sebuah gerak spiritual menyatu dengan alam.

Pada digit yang masih teraba, apapun gerak berpolitik kita pastikanlah Kesadaran Life World dan Pendidikan Hati berada mengiringinya, karna secara otomatis alam akan ikut merestuinya. Bahwa setiap “Organisme” politisi akan beradaptasi untuk bertahan pada setiap perubahan lingkungan politik. Jadi, nasib rakyat selalu menjadi taruhan didalamnya. Jangan pernah melakukan gerak politik yang tak direstui oleh alam, karna terkadang alam membalas dengan cara yang tidak terduga.

 

(Tulisan ini pernah di muat di harian Fajar rubrik Opini, 5 September 2016)

Juga pernah dipublis di Blog penulis yang sama :

https://ansharaminullah.wordpress.com/2020/07/18/fenomena-pindah-parpol-kesadaran-life-world-dan-pendidikan-hati-yang-terabaikan/

 

This will close in 2 seconds