Pada budaya dan perilaku manusia beserta sistem nilai yang disusun pada kolektivitas kehidupan kita sekarang ini, tak sedikit yang memandang Pamanca ini sebagai The Second Self-Defence (Beladiri kelas dua). Hanya karena faktor keberadaan para pemain seni beladiri A’manca’ (baca Pamanca) keberadaannya banyak dikampung-kampung atau di pelosok-pelosok desa, sehingga justifikasi sebagai beladiri kampungan sangat melekat pada mindset generasi kita saat ini.
Kerancuan cara berfikir semacam ini bisa jadi dilatarbelakangi oleh semacam kebutaan sejarah, apatisme kesinambungan kultur, serta perilaku dan sikap berkiblat pada westernisasi, yang berujung pada lahirnya generasi muda yang ‘Attalek-talekang’ atau merasa dianggap modern. Identitas sosial kita justru semakin tergerus saat gempuran secara bertubi-tubi dan tersistematis oleh tontonan-tontonan dari luar, yang menempatkan para ksatria India, Kung-Fu, Ju-Jitsu, Wing Chun, dan yang paling trend sekarang ini beladiri dari Israel, Krav Maga.
Para jagoan yang memainkan beladiri tersebut, selain karena body yang atletis serta wajah yang ganteng, seakan makin mempertegas digenerasi kita soal kelas wahidnya mereka dibanding para jagoan seni beladiri kampung (Pamanca) yang identik dengan pakaian ala pemuda desa dengan face sederhana, dan bahkan menjadi prioritas eliminasi pertama dicasting untuk sebuah sinetron Televisi.
Pamanca dan Filosofi jagoan
Mencoba mengakulturasikan sebuah pendapat Cak Nun tentang Tarekat orang yang tak pernah lohor, maka Seni beladiri A’manca’ ini ibarat kata adalah sebuah tarekat penjaga diri yang diwariskan secara turun temurun, bahkan sebagai sebuah ‘ritual’ tersendiri dalam sejarah para kasatrianya Bugis-Makassar. Dikomunitas Pamanca lah terkadang bertemu berbagai kalangan dari berbagai jenis kepribadian dan tipe khas prilaku masyarakat kita.
Orang maling dan orang Budiman bertemu sebagai Pamanca, sebab orang maling terkadang tidak sanggup melanjutkan kehidupan tanpa menghadirkan A’manca sebagai ventilasi dan ruang pemberontakan hati nurani dalam dirinya sendiri. Sementara orang budiman perlu menghadirkan A’manca sebagai singgasana amalan kasih budi kesesamanya.
Orang miskin dan orang kaya bertemu sebagai Pamanca. Sebab orang miskin membutuhkan A’manca guna menggali terowongan untuk menembus dinding batu karang nasib sengsaranya. Sementara orang kaya akan selalu merasa aman jika menghadirkan A’manca dalam kehidupannya.
Orang gembira dan orang sedih bertemu sebagai Pamanca. Sebab disanalah mereka bisa keluar dari keputusasaan dan keluar dari pusaran dendam keduniaan.
Betapa beladiri warisan nenek moyang kita ini mengandung banyak filosofi bahkan ‘tarekat’ tertentu dalam kehidupan, yang mungkin bisa jadi adalah jawaban terhadap banyaknya persoalan yang mendera, bahkan menjadi Penghilang sekat yang luarbiasa antara satu dengan yang lain dalam masyarakat kita. Bahwa seorang Pamanca adalah Jagoan yang bukan sembarang jagoan. Dia mengajarkan filosofi sebenarnya menjadi seorang jagoan. Bahwa jagoan yang sesungguhnya adalah yang bisa meredam egoisme berlebih dalam dirinya.
Yang jagoan itu adalah yang mampu berbaur dengan yang lain tanpa merasa lebih dan memiliki sifat tulus dalam berbuat. Dan seorang jagoan itu adalah yang mampu tetap sederhana dalam keseharian dan mampu berbagi dalam kelebihan yang dimilikinya.
Fenomena Viral Film Pamanca
Satu bulan terakhir ini, di Sulawesi Selatan, se-Indonesia bahkan konon sudah sampai ke Singapura dan Negeri Jiran Malaysia soal fenomena Film Pamanca yang akan melibatkan salah satu dari 3 Bintang action Mandarin terkenal saat ini. Ada beberapa pihak yang sangsi akan hal itu. Namun yang optimis dan menyambut dengan antusiasme yang kuat, jauh lebih tak terhitung jumlahnya.
Film ini sesungguhnya bukanlah upaya komersialisasi dan bisnis semata. Namun ini adalah sebuah gerakan penyelamatan Kultur kita sebagai masyarakat Bugis-Makassar dan suku-suku lain di Sulawesi Selatan. Film ini adalah upaya untuk memperkuat akar kesadaran masyarakat kita pada sejarahnya. Ali Syariati telah menegaskan, Bahwa semakin mendalam kesadaran suatu masyarakat terhadap sejarahnya, dan semakin mendalam tahap perkembangan historis tertentu ke arah tahap perkembangan kaum intelektualnya terhadap hakikat dan bentuk tahap sejarahnya, maka makin cepat masyarakat tersebut dapat melampaui perkembangan tahap demi tahap.
Film Pamanca ini adalah niatan tulus untuk menggali kesadaran sosial historis masyarakat kita, agar bergerak efektif sehingga dapat melompati tahap perkembangan historis yang lebih tinggi lagi, Dan tak kalah penting, 10-20 tahun kedepan beladiri ini tidak hanya sekedar menjadi cerita pengantar tidur anak-cucu kita. Dan pada akhirnya beladiri A’manca’ serta para Pamanca akan selalu dikenang dan diingat oleh para generasi kita sekarang dan yang akan datang, bahwa Pamanca bukan hanya sekedar jagoan beladiri, tetapi mereka adalah para pahlawan kebudayaan.
Mereka adalah para pahlawan yang tak pernah tertulis dalam sejarah sebagai orang yang telah berjuang dengan ketulusan dan keikhlasannya, merawat dan melestarikan warisan budaya para leluhur kita. Dan dengan ketulusan dan keihklasan mereka itulah pada akhirnya akan mensinyalkan kepada dunia luar perihal posisi nilai tawar dan kesejajaran Pamanca diantara beladiri-beladiri lain di panggung sejarah peradaban umat manusia.










