Masih ingat kisah perang Troya, penyebabnya terdengar sepele namun sangat prinsipil bagi kerajaan Sparta kala itu, sebuah kerajaan besar tempat leluhur Alexander Agung bernama Achilles sang legenda Yunani Kuno. Kenekatan Paris, pangeran Troya membawa lari atau menculik Helen of Sparta yang masih berstatus istri raja Menelaus membuat situasi menjadi tidak terkendali.
Tidak sedikit bangsawan Troya sebenarnya mengetahui betul bahwa pangeran Paris telah melakukan kesalahan fatal. Namun kakaknya sang putra mahkota, Hector, tetap maju memimpin ratusan ribu pasukan Troya. Hector tidak selalu setuju dengan tindakan Paris, tetapi ia memilih membela keluarga. Pangerang Hector adalah sosok terhormat yang memilih menanggung konsekuensi dari ketidak mampuan adiknya menahan syahwat pada seorang lawan jenis yang masih menyandang status pasangan sah.
Pun demikian dalam banyak kisah pada beberapa dinasti kerajaan di Eropa, terutama di abad pertengahan. Acapkali terjadi situasi di mana seorang pangeran melakukan pelanggaran serius, diantaranya penculikan perempuan bangsawan ataukah berupa skandal seksual. Uniknya, saudara-saudaranya tetap mengerahkan pasukan untuk melindunginya karena yang dipertaruhkan bukan hanya individu, melainkan kehormatan seluruh keluarga dan dinasti.
Bahkan tidak sedikit perang feodal sebenarnya berawal dari motif yang tampak pribadi tetapi justru berkembang menjadi konflik besar karena solidaritas keluarga bangsawan yang tetap dipertahankan.
Pola-pola pembelaan buta dalam sejarah kuno tersebut rupanya bukan sekadar romantisasi masa lalu. Fenomena seperti di atas cukup banyak dibahas dalam studi tentang oligarki, patronase politik, dan elite power. Bahwa yang dipertahankan sering kali bukan individunya yang telah melakukan kesalahan, melainkan lebih pada upaya menjaga kelangsungan jaringan kekuasaan yang melekat pada individu tersebut.
Secara sosiologis, tindakan itu dapat dibaca sebagai paradoks kekuasaan dimana seseorang kadangkala terlihat dikorbankan secara simbolik, justru agar sistem yang melahirkannya tetap bisa bertahan secara nyata hingga masa kekuasaannya akan berganti secara sah. Logika paradoks ini sejalan dengan pemikiran Niccolò Machiavelli, dimana seringkali dipakai untuk menyelesaikan fenomena semacam ini.
Dalam kacamata Machiavellian, terlihat saudara dapat dikorbankan secara simbolik, tetapi justru musuh yang berpotensi mengancam dinastinya yang harus dihancurkan secara tersistematis dengan pola silent ataupun secara frontal-ekstrim.
Dalam beberapa kasus misalnya, beberapa penguasa justru sering kali lebih takut pada lawannya yang memperoleh legitimasi daripada pada kerabat yang berbuat kesalahan fatal. Jika relasi kuasa dieksplorasi dengan menggunakan pendekatan Michel Foucault, mungkin akan terlihat bahwa yang penting bukan siapa yang salah atau benar, melainkan siapa yang memiliki kemampuan untuk menentukan siapa yang dianggap salah.
Dalam perspektif ini, operasi bawah tanah terhadap lawan-lawan politik kerapkali bukan sekadar ajang pembalasan semata, melainkan sebuah upaya mempertahankan kemampuan mendefinisikan kebenaran menurut versi dinasti yang berkuasa, dan tetap mampu mengontrol narasi publik yang beredar luas.
Menariknya justru strategi mengontrol narasi dan menciptakan ilusi ini sudah dirumuskan ratusan abad sebelum para pemikir Barat melahirkannya. Jika kita membuka lembaran lebih lama lagi di Tiongkok, lebih 2.538 tahun lalu, dengan menyandang status sebagai seorang penasehat Raja Helu dari kerajaan Wu di periode musim semi 512 SM, Sun Tzu pernah mengingatkan bagian dari warisan pemikirannya yang kita kenal dalam The Art Of War:
“Seluruh peperangan didasarkan pada tipu daya” yang kurang lebih artinya, apa yang terlihat di permukaan belum tentu merupakan tujuan yang sebenarnya. Kalimat ini masih sangat relevan dengan situasi masyarakat modern sekarang ini.
dimana kadangkala kita masih sering terjebak dalam situasi yang tampak dipermukaan, terlalu cepat mengambil kesimpulan saat ada semacam situasi seseorang yang tersudut menampilkan kelemahannya namun sebenarnya justru dia sedang menjebak lawan yang menyerangnya. Situasi ini telah ditekankan oleh Sun Tzu “Ketika kuat, tampaklah lemah“.
Dengan strategi ini, pihak yang tersudut terlihat telah ditinggalkan atau bahkan telah dihukum karena kesalahannya. Situasi yang mau tak mau akan membuat lawannya akan menjadi lebih berani, keluar dari persembunyian, mengungkap jaringan mereka, hingga mengurangi kewaspadaan.

Pun juga dengan menciptakan situasi dengan membuat musuh salah membaca medan perang oleh karena informasi yang salah. Mengambil keputusan berdasarkan informasi yang salah, membuat kemenangan sering diperoleh sebelum pertempuran itu sendiri terjadi, yaitu ketika musuh sudah salah dalam memahami situasi.
Dan pada akhirnya, saat kita melihat konstelasi politik hari ini mulai dari level Nasional hingga di tingkat lokal, dimana pilihan dalam keberpura-puraan menjadi strategi dan kelemahan sengaja dipentaskan sebagai umpan, kita justru diingatkan agar jangan kehilangan kompas kemanusiaan serta sisi humanis yang tetap berada dalam bingkai kearifan lokal “Sipakatau, sipakainga, dan Sipakalabbirik”. Para elite politik mungkin sedang memainkan strategi “retak untuk menang” demi mempertahankan dinasti dan jaring kekuasaannya.
Namun, masyarakat kita hari ini tidak boleh ikut retak dan terpecah belah hanya demi menjadi bidak dalam papan catur yang sedang mereka mainkan sambil tertawa bersama di balik layar.
Kemenangan sejati sesungguhnya bukanlah tentang siapa penguasa yang berhasil menjebak lawan-lawannya dan memperdaya mantan kawan-kawan seperjuangannya, melainkan bagaimana kita tetap mampu saling merajut empati dan kebersamaan di tengah badai manipulasi narasi yang membanjiri layar handphone kita.
Biarlah panggung politik meretakkan dirinya sendiri, asal bukan kemanusiaan dan persaudaraan kita yang ikut menghilang dalam sandiwara politik mereka.
Anshar Aminullah