Untuk kali kedua, klub Nasser Al-Khelaïfi ini berhasil mengangkap piala Liga Champions UEFA dua kali secara beruntun. Klub berjuluk “Les Parisien” ini menang bukan karena semata-mata bermain spektakuler sepanjang pertandingan, namun karena mereka berhasil memaksa dengan epik para pemain Arsenal keluar dari ritme idealnya.
The Gunners sendiri sebenarnya tidak kalah unggul dengan strateginya, ini terlihat selama lebih dari satu jam Arsenal mampu menjaga keunggulan dan membuat PSG frustrasi. Namun setelah PSG mampu menyamakan kedudukan, para pemain Arsenal semakin dalam di posisi bertahannya, bahkan justru terlihat kehilangan inisiatif dalam permainan.
Meskipun akhirnya keberuntungan masih berpihak pada PSG setelah drama adu pinalti, namun kedua tim di partai final ini telah mampu menjalankan satu gagasan permainan yang sama melalui instruksi pelatih masing-masing.
Dalam bahasa lain, ini disebut “Sistem Aksi Kolektif (The Collective Action System)”. Dan dalam bahasa kebangsaan, mungkin kita bisa menyebutnya “Sistem Integrasi Progresif (Progressive Integration System)”, semacam kalimat tegas, bukan sekadar slogan yang dibacakan saat pidato kenegaraan.
Bukan Keseragaman
Meski PSG dihuni para pemain yang berasal dari berbagai negara serta latar belakang berbeda, namun di lapangan mereka tetap memiliki satu tujuan yang sama. Itulah sebabnya mengapa mereka tetap mampu bermain sebagai satu kesatuan.
Sekilas mirip dengan cita-cita sila ketiga dalam Pancasila. Ini bukan berarti bahwa semua orang harus sama. Persatuan itu bisa jadi orang yang berbeda-beda namun tetap bersedia berada dalam satu tujuan yang sama.
Bangsa kita ini tidak kekurangan slogan tentang persatuan. Yang sering kurang justru pada strategi untuk menerjemahkan persatuan itu sendiri menjadi sebuah kebijakan, menjadi keberpihakan total pada tenaga guru dan para dosen, serta mewujud menjadi keadilan sosial.
Peringatan Hari Lahir Pancasila 2026 tahun ini cukup gamblang berbicara tentang “Fondasi Perdamaian Dunia”. Namun di saat yang sama, ruang publik kita justru masih sering dipenuhi polarisasi, saling curiga, dan silaturahmi yang tak kunjung membaik dari para mantan tim sukses yang kalah ataupun yang menang, atau bahkan yang terbuang oleh calonnya yang telah duduk manis di kursi kekuasaan.
Sering kali kita saksikan, hal-hal negatif justru lebih mudah menyatukan publik di dunia maya daripada dalam sebuah cita-cita besar.
Jika kekalahan Arsenal mampu menyatukan jutaan Gooners dalam kesedihan. Coba kita tengok di Indonesia, bangsa ini justru acapkali lebih cepat bersatu saat tim kesayangannya kalah, juga saat harga sembako naik, atau ketika media sosial gaduh karena pergantian calon Paskibraka utusan Sulsel yang nyaris mengarah ke isyu rasis.
Persatuan karena kegelisahan juga tampaknya lebih mudah terwujud dibandingkan persatuan karena cita-cita. Jika kita cermati pemberitaan di berbagai media di tiga pekan terakhir, di salah satu Kabupaten terpadat, berbagai aksi demonstrasi yang meneriakkan soal moral, namun yang teriak justru kehilangan etika dalam postingan media sosialnya, memaki pemimpin yang tersudut oleh kekhilafannya.
Sepertinya sebagian di antara kita lupa, bahwa Tuhan masih baik pada kita yang getol berteriak soal moral, padahal Allah masih menyimpan rapat perilaku masa lalu kita yang bisa jadi tak beda jauh, atau bahkan lebih parah dari yang kita hujat.
Bermain Kolektif
Indonesia sering hebat dalam melahirkan gagasan. Reformasi 1998 hebat, desentralisasi hebat, pemilu langsung hebat. Tetapi setelah euforia awal, kita sering kehilangan energi untuk menjaga kualitas institusi yang sudah dibangun. Ibarat Arsenal yang unggul 1-0 lalu sibuk mempertahankan skor, bangsa ini kadang lebih sibuk mempertahankan citra daripada memperbaiki permainan.
Banyak bangsa, organisasi, bahkan partai politik sering gagal bukan karena kurang pintar, tetapi karena terlalu sibuk membuktikan bahwa mereka tidak pernah salah. Padahal, berbagai lembaga terus mendorong perbaikan tata kelola, transparansi, integritas, dan reformasi sistem sebagai syarat kemajuan jangka panjang.
Bangsa besar itu tidak dibangun dalam semalam, dan Pancasila lahir bukan untuk menyeragamkan Indonesia, melainkan menyatukan perbedaan agar bergerak ke arah yang sama.
Itulah mungkin sebabnya Bung Karno dan para pendiri bangsa ini menempatkan sila “Persatuan Indonesia” di tengah-tengah Pancasila bukan tanpa alasan; melainkan kemampuan memprediksi situasi bangsa ini di masa depan, bahwa tanpa sila persatuan, keempat sila lainnya hanya akan menjadi deretan daftar harapan.
Olehnya itu, bangsa ini tidak boleh kalah dari PSG atau Arsenal yang mampu menyatukan pemain dari berbagai benua untuk mengejar dan mengangkat trofi, meski kita di sini masih sibuk mengangkat isu dan gosip rumah tangga orang lain.
Sayangnya, perbedaan hasil di akhir sangat terasa kontras, PSG pulang membawa piala, sementara kita pulang membawa rasa lelah sebagai panpel, spanduk, dan notulensi rapat evaluasi yang hasilnya akan dievaluasi lagi dengan anggaran lebih besar di tahun depan.
Tapi kita tetap punya harapan besar, disaat Indonesia mampu menyatukan 280 juta penduduk untuk mengejar cita-cita yang jauh lebih besar yang bernama keadilan, kemakmuran, dan persatuan.
Selamat Hari Lahir Pancasila!
Artikel ini juga telah tayang lebih awal melalui media di link di bawah, dan dipublish ulang oleh penulis sebagai arsip pribadi:
https://makassar.tribunnews.com/opini/1839802/jika-pancasila-pemersatu-bangsa-psg-pemersatu-luka-fans-arsenal
