Rek–ToR: Rekening, Term of Reference, Di Tengah Mencari Jiwa di Balik Jabatan

5 minutes reading
Tuesday, 4 Nov 2025 13:50 0 1380 Anshar Aminullah
 

Masih ingat dengan Lawrence H. Summers? Dia menjabat sebagai Presiden Harvard (setingkat Rektor) di rentang masa jabatan tahun 2001-2006.

Summers datang ke posisi tertinggi di universitas setelah karir panjang di pemerintahan dan ekonomi, dari Chief Economi World Bank hingga menjadi wakil menteri keuangan di bawah pemerintahan  Presiden USA, Bill Clinton.

Kehadirannya kembali ke Harvard University dengan program yang cukup bagus. Dia menginisiasi agenda besar termasuk perluasan riset sains, dana kampus, dan perubahan kurikulum. Tidak ada satupun di agendanya percepatan pembayaran Ampra dosen serta uang menguji skripsi dan tesis mereka yang lama tak kunjung terbayarkan.

Mungkin karena Harvard tak mengenal kondisi demikian. Kondisi itu mungkin saja  hanya terjadi pada tempat yang mirip, sebuat tempat kuliah swasta  yang jika namanya mengacu titik lokasi, Kampus Harpart (Hartako – Parantambung) atau sebelah utara di antara daerah Hartako dan Parantambung.

Kepemimpinan Summers mengalami konflik intens dengan fakultas dan elemen akademik mengenai bagaimana terdegradasinya jiwa universitas, termasuk bagaimana soal nilai-nilai akademik, inklusivitas, dan budaya kampus.

Tak sedikit yang mengkritiknya khususnya dalam pengejaran agenda besar dan manajemen institusi, aspek rekening atau keuangan serta  Term of Reference atau kerangka kerja dan aturan menjadi terlalu dominan dalam kepemimpinannya, sementara dalam aspek refleksi diri atau kepemimpinan yang menghidupi nilai akademik, dan jiwa  institusional menjadi agak terpinggirkan. Dan tentu ini menjadi persoalan yang cukup urgen dalam internal Harvard.

Kisah Summers menggambarkan saat seorang akan mencalonkan diri sebagai Rektor, dia tak hanya harus memiliki kompetensi teknis, kesiapan dana serta jaringan yang luas. Aspek rekening pribadi dari hasil usaha sampingan tetap jadi penopang dan jaminan kemapanannya. Kemapanan finansial yang bukan dari hasil usaha bisnis nilai dan hasil kode keras ke Mahasiswa bahwa supaya lancar urusan administrasinya amplopnya harus ada “raccik-raccikna”

 

Butuh Yang Lebih Gacor

Dalam pendekatan dengan fungsi tersirat, maka idealnya seorang Rektor harus matang dalam hal visi tata kelola atau term of reference. Dan mereka juga harus mampu menakar kedalaman jiwa: refleksi diri, pemahaman terhadap nilai institusi, kesadaran akan kultur akademik di kampus yang akan dipimpinnya.

Seorang Rektor itu mestinya sibuk memimpin, bukan  cuma sibuk “lapor ketua”, yang tiap hari kerjaannya kayak remix birokrasi: por lapor ketua, anggota mau lapor ketua, kampus lagi gacor ketua. Dan apa yang terjadi? Tak butuh waktu lama untuk membuatnya keluar dari khittah sebagai  pemimpin tertinggi di akademik kampus, ia lebih mirip MC resmi para pemegang saham.

 

Video Pilreg Yang Lebih Gacor

 

Polanya selalu cari aman atas jabatan. Bahkan hingga ketua bersin pun, ia sudah siap bawa tisu dan laporan versi revisi.

Padahal kampus yang dia pimpin itu ingin bangkit dan butuh pemimpin, bukan penjaga mood atasan. Sebab kalau ia terus berada di kondisi demikian, para dosen dan para pemilik suara di pemilihan nanti bisa saja berbisik serempak: “Yang lalu biarlah berlalu, buat apa pusing, orang lama udah kalah rating, buka hati for yang baru, kubur masa lalu karena yang baru lebih gacor!”

Dan begitulah gambarannya jika seorang rektor yang terjebak dalam zona aman. Sejarah pun enggan mencatatnya, bukan karena lupa, tapi karena tidak ada yang patut diingat. Dan kelak, kalau ia lewat di depan kampus, mantan mahasiswa hanya mengernyit dahi sambil mencoba mengingat: “Itu siapa, ya?”

Wajahnya lupa, namanya pun terlupa, tapi rasanya masih teringat, yakni jelas rasa kepemimpinan yang hambar.

Karena di dunia kampus yang baru bukan sekadar lebih pengalaman dan lebih bisa mengkampanyekan diri. Tapi kampus berstatus swasta itu butuh yang lebih berani, lebih peka, dan yang lebih gacor.

 

Menakar Reputasi

Memang tidak apple to apple jika membandinkan Universitas nomor satu di dunia ini dengan Universitas swasta khususnya yang  akan melakukan pemilihan Rektor baru. Namun beberapa catatan yang bisa dikorelasikan dari kepemimpinan Lawrence Summers di Harvard.

Terjadinya kontroversi terbesar yang sangat berpengaruh dan menjadi faktor penyebab pengunduran diri Lawrence Summers sebagai Presiden Harvard yakni mosi tidak percaya dari fakultas Universitas Harvard yang terjadi pada Maret 2005. Hadirnya mosi ini sebagian besar dipicu oleh konflik dan perselisihan publik yang melibatkan Summers.

Kontroversi ini menyebabkan ketidakpuasan luas di kalangan fakultas terhadap kepemimpinannya, yang akhirnya membuat Summers mau tak mau harus mengumumkan pengunduran dirinya di tahun 2006 setelah masa jabatan lima tahunnya  yang diwarnai banyak gejolak.

Pertanyaannya, jika ada dari calon Rektor yang pernah menimbulkan kontroversi, ataukan ada calon yang kebijakannya kontroversi di kantong mahasiswa selama menjabat, mengajar dan menguji, ataukah ada calon yang kontroversi soal eksistensi dan pengabdiannya di kampus yang kadang timbul-tenggelam, beranikan dia mengambil sikap mengedepankan menjaga reputasi kampus dibanding hasrat memimpinnya dengan cara mundur dari pencalonan?

Tentu ini bukan hal yang mudah, sebab kesempatan memimpin kampus disaat standarisasi dan kriterianya mungkin sudah tidak membutuhkan reputasi dan nama besar seperti dulu lagi sangat terbuka lebar.

Saya punya dua referensi nama Rektor di tempat saya pernah kuliah S1. Nama pertama Prof. Dr. dr H.M Rusli Ngatimin MPH, dan nama kedua Prof. Dr. H. Abdul Muin Salim, M.A. Silahkan cek di google reputasi mereka selebihnya silahkan cek reputasi masing-masing untuk duduk di tempat yang pernah mereka berdua tempati di masa yang berbeda. Jangan pernah jadikan alasan bahwa zaman sudah berubah dan kondisi kampus yang tak memungkinkan.

Sebab jika terjadi kemunduran pada kualitas dan reputasi calon Rektornya, lalu berdampak pada minat pendaftar calon mahasiswa, serta sikap apatis para alumninya, maka mungkin itu pertanda bahwa almanak akan terjadi kemunduran total dalam beberapa tahun kedepan, dan anda yang bergelut dalam dinamika akademik di dalamnya pasti sudah merasakan gejala itu khan?

 

Jadi, sebelum semua calon rektor yang akan maju  sibuk memoles visi-misi mereka dan mengkampanyekan figur dan rekam jejak akademiknya, mungkin ada baiknya mereka bertanya pada diri sendiri bahwa apakah saya benar-benar masih “gacor” di ruang sains dan ilmu pengetahuan? Sebab kampus yang ingin bangkit butuh pemimpin yang suaranya nyaring karena dunia luar butuh tahu dan melihat kualitas dan kapasitasnya.

Maka, jika merasa nada kualitas kepemimpinan kelak terancam  sumbang dan reputasi memang tak memungkinkan, maka mungkin sudah waktunya untuk beristirahat sejenak, bukan malah ikutan rebutan panggung. Karena di dunia akademik itu tidak selamanya yang baru bisa lebih gacor, tapi justru yang bijaklah yang benar-benar akan mendengar dan terdengar di panggung nasional.

 

This will close in 2 seconds