Pemblokiran Rekening dan Erosi Kepercayaan Publik

5 minutes reading
Thursday, 31 Jul 2025 21:16 0 1460 Anshar Aminullah
 

Freedom Convoy, yah, semua bermula saat ribuan sopir truk Kanada di awal 2022. Mereka melakukan protes secara massif terhadap mandat vaksin Covid-19, serta perjalanan lintas batas yang di batasi aksesnya .

Konvoi panjang kendaraan (Freedom Convoy) membentang menuju Ottawa dan berhasil menduduki pusat kota hingga berminggu-minggu. Gerakan ini mendapat dukungan luas bahkan support dalam bentuk donasi publik.

Pemerintah Kanada tidak tinggal diam, tepat di tanggal 14 Februari 2022, melalui Perdana Menterinya Justin Trudeau akhirnya untuk pertama kali mengaktifkan Undang-Undang Keadaan Darurat (Emergencies Act) sejak disahkannya di tahun 1988.

Pemerintah menginstruksikan bank untuk segera membekukan rekening pribadi milik para pengemudi yang ikut protes. Pun juga dengan rekening para pendonor yang menyumbang ke gerakan protes, semua dilibas tanpa memandang nominal.

Apa yang terjadi? kehidupan warganya menjadi cukup terganggu. Tidak sedikit yang tidak bisa mengakses uang untuk bayar tagihan, atau bahkan hanya untuk sekedar makan sekalipun.

Dan imbas yang tak bisa dihindari adalah lahirnya krisis kepercayaan publik terhadap sistem keuangan negara kala itu.

Secara massif, mereka mulai menarik tabungannya dari bank, lalu memindahkan aset ke mata uang kripto. Alasannya cukup rasional, mereka juga takut rekeningnya sewaktu-waktu bisa dibekukan atas perintah negara.

 

Potensi Ketakutan sistemik

Kebijakan pemblokiran rekening Dormant oleh PPATK ini, perlahan membuka perdebatan serius tentang sampai dimana batas kekuasaan negara, kebebasan sipil, serta kontrol finansial terhadap warga negaranya.

Mengapa Negara yang curiga tapi warganya yang terkena getahnya? Pembekuan sementara rekening yang tidak aktif tiga bulan, ini telah memicu kontroversi dalam sepekan ini.

Hal tersebut berada dalam satu frame pendekatan “Biopower” milik Michel Foucault (1976). Dimana konsep kunci dari pendekatan ini adalah bagaimana negara mengelola manusia melalui pengawasan dan dijadikan sebagai alat kekuasaan.

 

“Merusak kepercayaan warga negara yang dilakukan oleh negaranya sendiri, termasuk sistem keuangan beserta tetek bengeknya, ini justru berbahaya bagi stabilitas negara dalam jangka pendek.”

Anshar Aminullah

 

Baik untuk mengontrol tubuh dan kehidupan melalui mekanisme administratif, serta pengawasan ekonomi.

Dalam pedekatan ini juga, negara di era serba digital ini, dia tidak lagi hanya menghukum secara fisik, tapi melakukan pengawasan dan mengatur kehidupan warganya secara halus namun tetap sistemik.

Pemblokiran rekening ini merupakan salah satu bentuk biopolitik finansial (Maurizio Lazzarato, 2011), dimana akses ke ekonomi dikendalikan sebagai cara negara dalam mendisiplinkan masyarakatnya.

Sehingga jika di negara kita ini muncul ketakutan sistemik pada warganya, selain karena merasa diawasi, termasuk dalam tindakan finansial paling pribadi pun, mungkin akibatnya mereka akan menjadi taat tanpa perlu dihukum langsung. Namun tetap saja potensi terjadinya peristiwa aksi protes seperti di Kanada, tetap akan sangat berpeluang.

Merusak kepercayaan warga negara yang dilakukan oleh negaranya sendiri, termasuk sistem keuangan beserta tetek bengeknya, ini justru berbahaya bagi stabilitas negara dalam jangka pendek.

Aturan pemblokiran rekening oleh PPATK yang tidak disertai transparansi dan proses hukum yang jelas, akan dapat berdampak pada persoalan sosial yang sedikit demi sedikit akan meluas. Bahkan di tahap tertentu, hal tersebut mampu menciptakan ketakutan struktural di tengah masyarakat kita.

 

Dampak Sosial Ditengah Susahnya Lapangan Kerja

Di situasi sulitnya mendapat pekerjaan yang layak beberapa tahun ini, dimana media asing bahkan menyoroti krisis lapangan pekerjaan di Indonesia (Jawa Pos, 25/7/25).

Beban makin bertambah berat, oleh karena mayoritas pekerjaan yang tersedia sifatnya tidak stabil bahkan tidak menawarkan jaminan sosial.

Hal ini tentu berdampak ke isi rekening pada tak sedikit orang di sekitar kita. Mencuatnya kabar tentang pemblokiran rekening oleh PPATK, tidak akan sulit menghindari berupa ketakutan secara psikologis yang akan menyusup pelan-pelan.

Bagi mereka yang tidak punya nominal cukup, kehilangan sedikit saja akan terasa seperti kehilangan dunia. Dan disinilah dampak sosial sistemik itu mulai terasa.

Seperti pada dua orang tetangga saya, mereka kini tak lagi memperhatikan buku tabungannya. Satu orang terkena PHK massal di PDAM Kota Makassar beberapa waktu lalu, dan satunya lagi di diberhentikan sebagai tenaga honorer di Pemprov Sulsel dua bulan lalu. Mereka berdua lebih sering menempelkan kuku di kening dibanding memegang buku rekening.

Pusing dan linglung akan kesulitan hidup yang mau tak mau harus mereka jalani meski dengan bekerja serabutan. Sesekali mereka tertawa kecil ketika menonton video Ryu Kintaro yang tanpa beban masa lalu memotivasi khalayak menjadi perintis untuk menjadi orang sukses.

Nasib Ryu mungkin berbeda dengan jauh dengan anak salah satu dari tetangga saya ini yang hampir seusia dengan dia. Dimana Ryu sudah memiliki tabungan pertama senilai 1 M, sementara anak tetangga saya masih kadang harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk menguras sisa-sisa isi odol buat sikat gigi, dan sesekali mencampur air ke botol shampo agar busanya di rambut bisa bertambah.

Tentu pelajaran sederhana itu dia dapati dari kebiasaan bapaknya setelah di PHK di tempat kerjanya.

Barangkali yang banyak orang butuhkan hari ini, tidak hanya lapangan pekerjaan, namun sebuah ruang kepercayaan tanpa erosi. Bahwa hidup akan terasa lebih indah dan penuh makna, jika dia bisa dijalani tanpa merasa diawasi, dan tanpa rasa takut rekening dibekukan oleh PPATK.

Dan jikalaupun negara tak mampu memberi sebuah kepastian untuk lebih sejahtera, setidaknya jangan mencabut “kepercayaan warga terhadap negaranya”. Karena hanya itulah satu-satunya tabungan yang tak akan pernah mampu diganggu oleh PPATK sekalipun. Tabungan berharga terakhir yang dimiliki oleh anak bangsa hingga hari ini.

Sebab kadangkala hidup bukan hanya tentang mengejar miliaran, tapi tentang mempertahankan secuil martabat kita, agar rekening saldo pas-pasan tidak ikut jadi sasaran pembekuan.

 

 

This will close in 2 seconds