Tuesday, 29 Sep 2026

Judulnya Islam, Ributnya Politik

5 minutes reading
Thursday, 10 Sep 2026 11:01 0 1338 Anshar Aminullah
 

Sudah dua hari ini penjual “Tahu bulat digoreng dadakan” langganan saya, rupanya juga mengikuti perkembangan ribut-ribut jagat maya. Meski sedikit bingung dan bertanya-tanya “Mas, mengapa sebuah buku tentang Islam segera berubah menjadi pertarungan politik bahkan sebelum gagasannya selesai dibaca dan dipahami?

Mas, angkat saja dulu itu gorengan tahunya, balas saya. Biarkan para komentator dadakan bertema Islam saling panas memanasi, menghabiskan kuota internet, yang sepertinya belum ikhlas dikembalikan sisa kuota diakhir masa paketnya oleh provider. Cukup kita nikmati saja tahu dadakan panas-panas, sambil menyeka sisa debu vulkanik yang masih sedikit terasa hari ini, sembari saya menekan angka dihadapan barcode Qris gerobak jualannya.

Di era media sosial sekarang ini, tidak mengherankan jika buku tidak selalu dibaca sebagai teks seutuhnya. Ia acapkali dibaca hanya melalui potongan judul, kutipan, unggahan, komentar, dan posisi politik pembacanya, tanpa mencoba mengeksplorasi dan bertanya lebih dalam di sebuah dialektika sehat. Ironisnya, tak sedikit nitizen yang justru mengira diskusi soal buku ini tetap bisa dengan pendekatan ala-ala pertanyaan:

Lu kenal Veronica ko?, Veronica yang om Strom pu ana nona ni ko?, Om Strom yang biasa tambal jalan lobang tu ko?

Jelas beda lah. Pendekatan Veronica ko itu sangat singkat, beda dengan polemik buku ini, isi bukunya membutuhkan waktu dan suasana yang pas untuk dibaca. Kalau kurang dimaknai, maka polemiknya bisa lahir hanya dari satu unggahan saja sudah mampu membuat geger dunia maya.

Mungkin tidak ada salahnya jika kita coba lebih santai dalam cara kita merespon hal-hal yang kontroversi. Mari coba sedikit berhusnuzhan, bahwa bukan berarti setiap ekspresi keislaman seorang politisi otomatis merupakan pencitraan. Baca dengan seksama isinya, dan coba resapi satu demi satu kalimatnya, meski itu hanya sebuah bahasa Inggris kecil:

“Bluetooth device has connected successflly” kata mama Maria pu istri om Strom.

 

Kurangi Ribut, Kenali Manusianya

Dalam konsep contestation of meaning, persoalan judul buku pada akhirnya tak sedikit person yang terjebak dalam ruang perebutan tafsir makna perihal : siapa yang saja yang berhak mendefinisikan dan merepresentasikan Islam di ruang publik.

Sementara dalam The Sacred Canopy milik Peter L. Berger (1967), ia justru melihat agama sebagai bagian dari proses social construction of reality. Yaitu ketika realitas keagamaan tidak hanya berada dalam wilayah keyakinan privat, tetapi dibentuk dan dilegitimasi, serta dipertahankan melalui institusi serta interaksi sosial.

Dalam konteks buku “Islam Ala Prabowo”, pertanyaan yang hadir jika dikaitkan dengan tesis Berger di atas adalah: bagaimana jadinya jika “Islam” dikonstruksi dan direpresentasikan saat ia dilekatkan pada seorang aktor politik?

Gambar : Cover buku “Islam Ala Prabowo”

 

Sisi yang menariknya justru ketika kata Islam bertemu dengan aktor politik, akan terjadi proses redefinisi makna, dimana agama akan masuk ke ruang politik, lalu nuansa politik akan ikut memengaruhi cara publik membaca ekspresi beragama aktor politik tersebut.

Bicara Islam juga bukan hanya sebatas perkara bagaimana ia direpresentasikan di ruang publik, tetapi juga bagaimana ia dihidupkan dalam diri dan hubungan antarmanusia. Kata Cak Nun, Islam itu bukan sekadar identitas, tetapi proses bagaimana “menaklukkan diri”. Sehingga penegasan identitas kita dalam berIslam berupa tauhid vertikal (ilahiyah) dan tauhid horizontal (basyariyah) harus selalu menjadi bagian terpenting dalam kehidupan beragama kita. Bahwa dalam beragama itu tidak berhenti pada hubungan manusia dengan Tuhan semata, tetapi ia juga harus diterjemahkan ke dalam hubungan manusia dengan manusia.

Jika itu terimplementasi, maka ukuran keberislaman kita tidak semestinya berhenti pada siapa yang paling sering berbicara dan ribut tentang Islam di postingan dan kolom komentar media sosial, tetapi juga siapa yang paling mampu menghadirkan keadilan, kemanusiaan, dan penghormatan kepada orang lain.

Sebuah tulisan harusnya bisa mengajak pembaca melihat batas yang semakin kabur antara iman, identitas, komunikasi politik, dan legitimasi kekuasaan. Dan kita juga mesti harus jujur mengakui, bahwa pada konteks ini ada ironi kecil dari cara beberapa di antara kita dalam membaca buku tersebut yang mulai agak terasa. Yakni saat bacaan buku baru sampai di daftar isi, tapi polemiknya entah kenapa sudah lebih dulu sampai di daftar pustaka dan sesaat kemudian bacaannya sudah tamat tanpa sempat membuka halaman satu persatu.

Padahal kehidupan bermakna jauh-jauh hari telah mengajarkan sesuatu yang sederhana: kalau ada yang keliru, yah… diklarifikasi; kalau ada yang tersinggung, ditanggapi bijak; kalau ada yang salah, yah.. minta maaf. Tidak perlu semuanya dibawa sampai dua kali pemilu empat kali pemilihan RT. Toh “hidup ini hanya permainan dan hanya tempat bersenda gurau” kata pemeran utama dalam kisah bajingan pebinor di salah satu film bajak laut.

Kalau ribut-ribut buku ini masih terasa terlalu serius, barangkali kita perlu mengambil jeda sebentar dan mengajukan pertanyaan yang jauh lebih sederhana. Dan sebelum capek sendiri saat kita sibuk memastikan siapa yang ikut menulis dan siapa yang tidak, barangkali kita perlu kembali bertanya pada “Veronica ko”. siapa tahu kita makin sadar bahwa dalam politik, kadang kita terlalu cepat berusaha mengenali nama, tetapi lupa mengenal manusianya.

Nama bisa begitu cepat diagungkan atau diperdebatkan, sementara manusianya justru cepat terlupakan. Hingga suatu hari kita sadar, bahwa pemilik nama tersebut pada akhirnya hanya tinggal catatan tanpa makna, tepat di saat reputasinya dipanggil pulang oleh sejarah.

Tulisan ini sebelumnya telah diterbitkan melalui link media di bawah ini, dan dipublikasi ulang oleh penulis sebagai arsip pribadi dan dokumentasi akademik personal : 

https://makassar.tribunnews.com/opini/1849990/judulnya-islam-ributnya-politik

This will close in 2 seconds