ANTARA CINTA, KARIER DAN PENETAPAN NOMOR URUT CALON (Memaknai Karier, Cinta dan Urusan Dalam Memilih”)

4 minutes reading
Wednesday, 14 Jul 2021 15:22 0 1334 Anshar Aminullah
 

Entah apa yang menjadi penyebab awal sehingga sering terjadi kebimbangan dalam diri seorang wanita antara cinta dan karier. Namun setidaknya  tesis ini bisa mengacu pada  sisi lain teman wanita saya. Ia layak   menjadi contoh untuk emansipasi dan perjuangan kaumnya. Tak sedetikpun pernah terbersik dihatinya untuk menjadi  ratu kecantikan, padahal kriteria 3 B (+ 1 B tambahan) standar Miss Indonesia sudah dimilikinya (Brain, Behaviour, dan Beautiful + Be Mud-Mud) telah dimilikinya, mungkin dengan pertimbangan  bahwa setahun akan ia merelakan untuk tidak kawin, meski puluhan lawan jenisnya telah berdesak-desakan mengambil nomor antrian untuk mendapat tempat dihatinya.

Dia adalah sosok Kartini kontemporer, full disiplin, jiwa pengabdian yang tinggi, tidak hanya menguasai suatu prof-skill spesialistis, akan tetapi telah memasukkan dirinya bulat-bulat kedalam sebuah karung spesial, paling tidak untuk waktu tertentu. Beberapa kabar burung terlintas bahwa jika dia terlibat dengan Dewa Asmara maka ada kemungkinan terganggulah mekanisme aktivitasnya, terbengkalailah cita dan idealismenya.

Aktivitas keseharian yang kadang sepintas melahirkan sebuah kesan awal bahwa karier menempati posisi nomor satu, cinta menjadi nomor sekian-sekian, dan meski dikalengkan dulu dan ditaruh dikulkas biar awet dan bisa dikonsumsi dilain hari.

Namun bukan bermaksud menggugat, kalau benar cinta terhadap lawan jenisnya adalah subversif terhadap stabilitas karier, maka alangkah malang hidupnya. Padahal wanita Bugis-Makassar khususnya di ujung Sinjai kini tidak sedikit yang sibuk tiap hari mendandani dirinya untuk segera mendapatkan Surat Keterangan dalam bentuk buku kecil milik Imam Pembantu setempat.  Namanya juga wanita ideal, maka saya pun hanya bisa berujar bahwa berikan dunia ini pada wanita, maka mereka akan menawarkan kedamaian dan kebahagiaan seperti yang dikandung alam semesta. Wanita adalah duta-duta Tuhan, yang menyuapi mulutmu dengan cinta, kasih sayang dan keabadian.

Jadi kenapa gerangan, untuk hal-hal tertentu, kaum wanita menolak cinta terhadap lawan jenisnya. Adakah itu hanya sekedar kerja teknis pengorganisasian kerja hidup mereka, ataukah ada filsafat tertentu yang melatarinya. dalam badan hidup ini, apa sesungguhnya yang di sebut cinta?.

Hari ini pada zaman yang makin pintar, seorang laki-laki mungkin  berkata, “ Kekasihku, aku merasakan ada kejutan gejala dalam mekanisme urat syarafku. Ku analisa, fenomena itu timbul suatu rangsangan tertentu dari sesuatu yang menggetarkan seluruh sistem nilai dalam diriku. Rangsangan itu adalah engkau. Satu thesis baru yang makin menimbulkan pertanyaan apakah sesungguhnya sang cinta, yang suka menjadi penembak misterius jantung wanita?.

Ketika seorang wanita cantik yang meniti karier seperti teman wanita saya menunda urusan cinta-mencinta selain cinta kepada-Nya, maka seolah-olah  ia memiliki konsep bahwa cinta adalah sebuah bilik yang untuk sementara digembok saja dulu. Nanti kalau karier sudah mapan bisa dibuka kembali dan lelaki idaman hati silahkan masuk.

Kata karier  sebenarnya tumbuh dalam suatu sistem nilai budaya tertentu (Sinjai pun tak terkecuali)  dimana etos individualisme  sangat menjadi pokok persoalan. Dalam ungkapan kasar karier adalah perjuangan individual yang menyibak jalan lingkungan, artinya memakai atau mengeksploitasi apa saja disekitarnya untuk kepentingan kariernya.

Etos ini memberikan resiko ketika seseorang berhadapan dengan kemungkinan bercinta. Roh cinta kasih yang semula bersifat sosial-universal-tunggal dalam Allah, tersaring menjadi hasrat individual. Individualitas yang satu dengan Tuhan dan alam semesta, artinya juga  dengan sekalian masyarakat makhluk, tereduksi menjadi cinta kasih dalam sebuah ego. Kemudian berdasarkan  suatu pemikiran pengorganisasian  hidup yang rasional, analisa yang dilakukan, dan itu menghasilkan pengkotakan makna cinta.

Yang disebut cinta hanyalah kecenderungan pada Sang Khalik yang tak terbagi selain hanya kepada Allah saja ataukan cinta hanya sebuah hasrat hati kepada lawan jenis. Dan jika itu  diungkapkan, wujudnya ialah bahwa cinta merupakan salah sebuah kamar di dalam rumah. Kamar yang lain adalah study, karier, dan keluarga. Sehingga kamar yang satu dengan yang lainnya saling  merasa asing. Resikonya adalah  terjadinya jebakan-jebakan adab budaya komunitas manusia, sekaligus kebutuhan-kebutuhan psikologis di dalam individu per manusia.

Layak pulalah kalau seseorang yang menempuh karier harus menyisihkan urusan cinta jauh-jauh di dalam bilik hatinya. Sebab cinta yang dimaksud adalah cinta egonya belaka.

Cinta sebuah ego memang sukar diorganisasikan untuk tidak korsleting dengan mekanisme sebuah perusahaan (Rumah Sakit Bersalin pun jika kita sepakat termasuk perusahaan). Sistem nilai yang berlaku memang hampir tak memberi ruang dan peluang bagi makna cinta yang lain, yang lebih luas.

Cinta itu tenaga sebagaimana nafsu. Cinta bisa memberi power  serta sinyal yang kuat bak sebuah HP baru merk Nokia, tergantung pengendalian dan kemampuan transformasinya. Tenaga cinta tidak mutlak harus Semata-mata pada Sang Pencipta (Hablunminallah) tetapi juga harus terkonsentrasi pada Ciptaan-Nya (Hablunminannass), meskipun alternatif itu lebih menonjol.

Seorang wanita  yang mampu  mengendalikan motor cinta yang bersemayam, tak perlu kelabakan  ketika terjadi “benturan” antara kesuntukan karier dengan berseminya cinta  kepada seorang Arjuna. Sumber kelabakan itu ialah jika ia mengakumulasikan tenaganya di sebuah kamar tertutup dengan semangat 45. Bisa meledak jika dirangsang dengan api, atau setidak pecah tertusuk jarum. Kan Semua Barang yang pecah itu nggak baik, iya toh !!!.

Tulisan ini Dipersembahkan Untuk

 Inspirator Akan Makna Cinta yang sungguh mendalam

kepada Sang Pencipta Cinta   diatas sebuah Ketulusan, Keikhlasan dan Pengorbanan.

 

Tulisan ini juga telah dipublis pada blog penulis yang sama di :

https://ansharaminullah.wordpress.com/2011/10/16/antara-cinta-karier-dan-penetapan-nomor-urut-calon-memaknai-karier-cinta-dan-urusan-dalam-memilih%e2%80%9d/