Permenungan Terhadap Realitas Kakinian Perilaku Wanita “Sebuah Ikhtiar Untuk kembali pada kesadaran Primordial”

5 minutes reading
Wednesday, 14 Jul 2021 15:21 0 1332 Anshar Aminullah
 

Nabi bersabda Bahwa Wanita mengungguli orang bijak,

sedangkan laki-laki yang sesat mengunggulinya ; Karena pada mereka

 kebuasan binatang melekat, cinta dan kelembutan adalah sifat manusia,

amarah dan gairah nafsu adalah sifat binatang.

Wanita adalah seberkas sinar Tuhan: dia bukanlah kekasih duniawi.

Dia berdaya cipta : engkau boleh mengatakan dia bukan ciptaan.

(Jalaluddin Rumi)

 

Ada sebuah thesis yang cukup menarik

menurut penulis terhadap eksistensi kaum Hawa dalam konteks masa sekarang “  Masihkah pancaran sinar kelembutan yang merupakan manifestasi dari cahaya Tuhan itu hadir dalam setiap kehadirannya?”.

Sadar ataupun tidak kenyataan pahit harus tetap ditelan olah kaum Hawa bahwa sebagian besar dari mereka sudah

tidak menyadari akan hal ini, hingga dalam setiap gerak perilaku mereka jika kita obyektif dengan sebuah penilaian maka mereka adalah bukan diri mereka sendiri.

Menurut Ibn Al-‘ Arabî Menyaksikan dan merenungkan Tuhan dalam diri wanita merupakan jenis kesaksian yang paling sempurna yang diberikan kepada manusia. Tradisi menyatakan bahwa bahwa Tuhan mengungkapkan diri-Nya sendiri dengan cara paling lengkap dan paling sempurna  dalam diri manusia, yang diciptakan dalam citra nama Allah. Itulah sebabnya mengapa Nabi Muhammad mencintai kaum wanita-dikarenakan kesempurnaan penyaksian yang nyata di dalam diri mereka.

Sebab yang nyata tidak pernah dapat disaksikan terlepas dari materi. Sebab Tuhan dalam Esensi-Nya tidak tergantung pada semua dunia. Karena situasinya mustahil dalam kaitan ini, dan penyaksian yang berlangsung hanya dalam beberapa materi, maka penyaksian atas yang Nyata dalam diri kaum wanita merupakan penyaksian yang terbesar dan yang paling sempurna.

Ada hal yang cukup ironis akan eksistensi wanita disekitar kita, ada sebuah persoalan yang muncul Misalkan saja jika ini dimulai dari sebuah pandangan sekilas kepada wanita, menahan pandangan kepada seorang wanita  menurut Ibnu Qayyim Al Juziyyah bisa mendatangkan kekuatan firasat, mendatangkan cahaya dan keceriaan hati ini terkait dengan sebuah hadis “ Pandangan mata itu (laksana) anak panah beracun dari berbagai macam anak panah iblis. Barang siapa menahan pandangannya dari keindahan-keindahan wanita, maka Allah mewariskan kelezatan di dalam hatinya, yang akan dia dapatkan hingga hari dia bertemu dengan-Nya.”.

Lantas bagaimana menyaksikan dan merasakan keindahan dari seberkas cahaya Tuhan itu jika kita  harus menahan pandangan kepada wanita. Saya ingin mengungkapkan  kepada para pembaca tulisan ini akan sebuah pertanyaan yang harus ditelaah secara akademik filosofis  terkait dengan hal di atas, yakni kenapa ketika memandang wanita yang kelihatan bagian yang di kategorikan

auratnya orang pasti akan termangu,  terpesona dan bahkan terkesiap, dan  kenapa jika seorang lelaki yang memperlihatkan auratnya semuanya akan berlarian menghidarinya ?.

Pada prinsipnya bagian-bagian yang tidak layak untuk diperlihatkan oleh seorang wanita sesungguhnya terdapat cahaya Tuhan, matahari saja yang  memiliki kemuliaan 2 (dua) tingkat dibawah manusia sanggup menyilaukan mata seseorang jika memandangnya, apatahlagi seorang wanita yang memiliki tingkatan kemuliaan yang lebih dari matahari.

Berbeda memang dengan seorang lelaki yang akan membuat disekitarnya berlarian jika memperlihatkan bagian tertentu dari tubuhnya, wanita mewakili keindahan Tuhan, laki-laki mewakili keperkasaan Tuhan, wanita diciptakan untuk mewakili sinar keindahan Tuhan dimuka bumi dan laki-laki diciptakan untuk menafsirkan keindahan itu.

Ada sesuatu yang terasa mengganjal dalam benak kita akan sebuah kenyataan hidup di zaman sekarang ini, yakni ketika cahaya Tuhan itu mulai redup pada diri seorang wanita. Kesadaran akan eksistensi mereka selaku makhluk yang diamanahkan mengembang tugas mulia dengan mewakili keindahan Tuhan di Bumi perlahan memudar seiring

perkembangan zaman. Ada sebentuk kesombongan dengan amanah yang diberikan kepadanya, yakni seenak perut dan sesuka hatinya memperlihatkan ke khalayak kemuliaan & keindahan  tersebut.

Cahaya Tuhan itu adalah sesuatu yang suci, cahaya yang suci itu bisa bertahan jika dia bisa diposisikan pada tempatnya, dia akan meredup seiring intensnya diposisikan bukan pada tempatnya. Batasan antara hak dan yang bathil menjadi sudut keprihatinan bagi kita akan sebagian wanita yang masih  sulit memahaminya.

Realitas kekinian menyiratkan sebuah kondisi bahwa tidak sedikit wanita sulit keluar dari sebuah paradigma berpikir yang kurang konstruktif akan bagaimana memahami sebuah konsep kesucian dalam dirinya. Terkadang mereka menafsirkan bahwa kesucian itu hanya sebatas pada sebuah benda hasil ide kreatif Tuhan yang jika dia pecah maka kesucian itu pun telah hilang.

Tetapi jika melakukan hal-hal yang tidak sampai pada tataran tersebut dengan kata lain substansi sama namun gayanya  yang sedikit  berbeda tidaklah sampai mempengaruhi kesucian seorang wanita. Gaya berpikir seperti inilah yang perlu dibenahi dengan memberikan pemahaman bahwa wanita itu adalah makhluk yang bermartabat, punya moral, serta etika, baik yang tersirat dan tersurat di dalam hukum adat ataupun didalam hukum  agama.

Menurut Sachiko Murata Wanita adalah suatu mikrokosmos, dia memusatkan pada dirinya sendiri kekuatan dari setiap realitas reseptif  yang ada. Wanita menyatukan dalam dirinya kekuatan dari seluruh alam. Akibatnya, tidak ada sesuatu pun di alam raya ini yang lebih kuat. Dengan tetap mengacu pada pendapat Sachiko Murata diatas maka seorang wanita idealnya harus sadar dengan kekuatan dan kemuliaan yang dimilikinya. Ia harus bisa  melihat  sebuah keutamaan yang dipunyainya dari berbagai sudut pandang, sehingga lahir sebuah kesadaran akan hidup dan kehidupannya sendiri.

Saksi pertama ialah kesadaran kita sendiri,

Memandang diri kita menurut penglihatan kita sendir;i

Saksi kedua ialah kesadaran orang lain,

Memandang diri kita menurut penglihatan orang lain;

Saksi ketiga ialah kesadaran akan hakikat Tuhan,

Memandang diri kita menurut penglihatan hakikat Tuhan.

Bila kau tetap teguh di hadapan terakhir ini,

Dapat kau pandang dirimu sendiri hidup dan tinggal tetap sebagaimana Tuhan.

Hidup ialah mencapai martabat kita sendiri

Hidup ialah melihat Hakikat tanpa selubung sama sekali.

 

Artikel ini juga telah dipublis lebih awal di blog penulis yang sama di :

https://ansharaminullah.wordpress.com/2011/10/16/permenungan-terhadap-realitas-kakinian-perilaku-wanita-sebuah-ikhtiar-untuk-kembali-pada-kesadaran-primordial/