Tahun 1879, di suatu malam, Thomas Alva Edison menatap langit gelap sembari berpikir bahwa dunia butuh terang yang simpel dan lebih tahan lama penggunaannya.
Edison lalu menghabiskan malam-malam panjangnya dengan bereksperimen di laboratorium, hingga kali pertama lampu bohlam itu akhirnya berhasil menyala.
Kilauan itu adalah cahaya pertama yang lahir tak hanya sekadar menjadi teknologi terbaru dari sebuah penemuan, tapi juga menjadi simbol harapan, peradaban, dan kemajuan umat manusia.
Dan ratusan tahun kemudian, di sebuah ‘laburatorium’ bernama Brewog Audio, salah satu rental sound system paling disegani di Jawa Timur.
Dia bukanlah seorang ilmuwan, tapi pawang hajatan. Hanya dengan modal kabel, speaker 15.000 watt, dan playlist remix koplo dia sanggup membuat getaran di dada dan memekakkan telinga diangka 100-130 desibel (db). Nitizen memanggilnya Thomas Alva Edisound Horeg.
Jangan salah, kedua penemu ini memiliki persamaan, sama-sama pakai listrik. Hanya saja Edison listriknya untuk menyalakan harapan, sementara Edi Sound untuk memadamkan ketenangan.
Budaya Hormat, Sopan Suara
Pondok Pesantren Besuk di Pasuruan telah dengan tegas mengeluarkan fatwa, haram atas sound horeg ini. Majelis Ulama Indonesia Jawa Timur pun turut mendukung penuh keputusan ini. Bahkan meminta pemerintah daerah segera mengambil tindakan tegas (sumber: detikjatim).
Pro kontra hingga saat ini masih terus berlanjut. Kebisingan ekstrim hingga berjoget dalam keadaan miskin moral, serta potensi kejahatan lainnya, menjadi alasan penunjang pembatasan eksitensi dentuman sound karya Edi ini.
Bahkan cercaan dari tak sedikit nitizen, yang menaruh curiga tampilan Edi Sound dengan mata sayu walau tetap melek, adalah bukan karena faktor pilihan begadang untuk pengembangan kualitas audio, tapi karena efek sesekali konsumsi barang terlarang. Ada yang menulis komentar dengan memanggil BNN merapat ke lokasi uji coba kualitas soung horeg ini.
Perihal dampak negatif jangka panjang sound horeg ini, tak ada maksud untuk sengaja membesar-besarkan. Sebab hal itu justru bisa membawa narasi terlalu jauh dari penalaran kita ke dalam suatu diskusi tentang bagaimana psikologi sosial dari efek tata suara mixernya.
Dan itu justru akan menghadirkan pembenaran sepihak dengan mengabaikan, bahwa masih ada segelintir orang yang justru menikmati sensasi, walau membran telinganya terancam rusak.
Kita hanya mau menekankan aspek budaya saling menghormati saja Tentu dengan tetap mempertimbangkan selera masyarakat sekitar, yang lebih suka suara sopan di telinga karena nyamannya tingkat desibelnya.
Hal ini tentu akan membawa kita lebih melihat dimensi, dari pentingnya kesadaran akan budaya saling menghormati selera volume di telinga masing-masing.
Pembatasan Speaker Anti Empati
Empati sosial tak boleh hilang, meskipun mungkin masih ada masyarakat kita yang makin permisif terhadap gangguan selama masih diberikan pangan dan panggung.
“Suara speaker sound ini tak boleh lebih keras dari suara hati nurani dan akal sehat. Harapan kita seminim mungkin yang terdampak trauma akustik oleh hiburan ini”.
Anshar Aminullah
Dan Empati serta dan Sensitivitas Sosial kita juga di dalam kehidupan bertetangga, ini tak boleh tergerus hanya karena sensasi dentuman bass dan treble.
Sebab tanpa disadari, disaat volume sound horeg naik, bersamaan itu pula empati secara tak langsung justru akan menurun. Dan sekejap terjadi perubahan drastis, dari hiburan musik menjadi teror akustik.
Kita tetap menghormati dan mengapresiasi, kehadiran sound horeg sebagai simbol dari sebuah ekspresi sosial dari para penemunya beserta barisan setia para penonton speakernya.
Suara speaker sound ini tak boleh lebih keras dari suara hati nurani dan akal sehat. Harapan kita seminim mungkin yang terdampak trauma akustik oleh hiburan ini. Edi sound dan para pencipta sound sejenis harus menyadari hal tersebut.
Jika tidak, maka sejarah akan selalu mencatat, bahwa Edison dan Edi Sound adalah dua orang yang beda kelas, beda generasi namun tetap memiliki kesamaan untuk kali kedua, satu membawa cahaya peradaban, dan satunya lagi membawa suara keras penuh pembenaran.
Artikel ini telah lebih awal di publis melalui media :
https://herald.id/2025/07/28/volume-naik-empati-turun-teror-akustik-di-sound-horeg/
