YASIKA — Yahya, Sinta, dan Karta: Tiga Kisah, Satu Pelajaran di Hari Guru

5 minutes reading
Wednesday, 26 Nov 2025 20:10 0 1297 Anshar Aminullah
 

Sejarah akan selalu  mengingat Guru terbesar filsafat, Socrates. Di Yunani dia  justru diuji dengan level paling berat oleh  kekuasaan saat itu.

Dia mendapat tekanan yang datang justru dari internal, bukan eksternal, termasuk dari orang-orang yang pernah membersamainya dalam berdialektika. Sekilas terlihat agak mirip dengan dinamika Gus Yahya di tubuh NU.

Desakan agar  mundur sebagai ketua umum PBNU lumayan banyak menghiasi layar TV dan layar Hape kita sepekan ini.

Socrates yang juga adalah guru moral, teguh meski tubuh melemah, sedikit mirip dengan Sinta Nuriyah  Wahid, dimana tidak hanya moralitas, ajaran, serta ketekunannya yang terus bicara soal keilmuan meski fisiknya rapuh.

Spirit ini ditegaskan saat beberapa waktu lalu istri mendiang Presiden RI keempat ini menyempatkan bertemu Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung Wibowo di Balai Kota dalam rangka  membicarakan rencana pembangunan Pusat Kajian Islam Asia Tenggara di kawasan Ciganjur,

Socrates juga pernah mengalami  tidak hanya dibungkam secara sosial, juga negara melarangnya mengajar, lalu memberikan hukuman berat kepadanya. Dia adalah salah satu contoh tertua dalam sejarah sebagai guru ilmu yang dinonaktifkan oleh karena kuatnya  sistem yang menjerat dia dalam sebuah tuduhan kepadanya.

Mungkin ada kemiripan dengan Prof  Karta Jayadi, guru besar yang keilmuannya diakui murid-muridnya, namun ruang formalnya dipersempit oleh sistem administrastif di negeri ini, dimana beberapa pekan lalu dia dinon-aktifkan sebagai orang nomor satu di salah satu kampus terkemuka di Sulsel, sambil menjalani sanksi administratif atas beberapa persoalan yang menderanya.

Di dalam tiga kisah dan peristiwa yang berbeda ini, seolah hadir menjadi guru kehidupan, dan persona Socrates seolah kembali datang sebagai guru yang lebih modern, sekaligus menjadi cermin nurani yang diam-diam berbicara pada ummat manusia ditengah lilitan berbagai problematikanya hari ini.

 

Makna Saat Krisis Intelektual

Dalam pendekatan moral authority dan  exemplary leadership oeh Max Weber (1922), dimana diungkapkan bawa otoritas karismatik dan legitimasi itu  lahir dari integritas moral serta keteladanan, bukan dari sebuah jabatan.

Ketiga tokoh “YASIKA” kita ini memiliki otoritas moral yang berdiri di atas struktur formal yang justru sedang menguji eksistensi mereka. Weber bahkan menekankan, bahwa manusia akan selalu mencari kehadiran  “figur pencerah” yang diharapkan mampu memberikan makna moral, bukan sekadar aturan.

Sederhananya, konsep Weberian, manusia selalu membutuhkan guru sebagai “otoritas makna” lebih dari “otoritas jabatan.”

Namun, menempatkan Gus Yahya, Ibu Sinta Nuriyah Wahid, dan Prof Karta sebagai figur berotoritas moral ala Weber tentu bukan berarti kita sedang membuat persamaan mutlak di antara ketiganya. Justru kesamaannya terletak pada kebutuhan manusia akan guru sebagai sosok yang menjaga integritas ilmu dan moralitas di tengah dunia yang terus bergerak.

Dan dari sinilah kita bisa melihat bahwa upaya penyamaan ketiga situasi dan karakteristik tersebut bukanlan sebuah  pengungkapan makna semantik semata.

Karakteristik perpaduannya kesamaan murni pada upaya pencarian dan memantapkan posisi Ilmu pengetahuan, diharapkan sebagai sarana untuk menghadapi simpang siur gejala, agar manusia dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan, dan juga dalam kerangka ‘evolusi’ untuk mencapai kehidupan ummat yang makin lama tetap konsisten sisi manusiawinya.

Perkara ribetnya adalah, dalam era kemajuan teknologi informasi dewasa ini, melimpahnya informasi dengan segala macam citra alami telah mampir dan mengisi otak manusia yang berdampak pada pemikiran yang beragam.

Hal ini dapat menghasilkan penafsiran beragam pula atas satu input. Sehingga kehadiran sosok guru dengan kompetensi, fasilitas, dan jaminan yang memadai tentu akan mampu menghindarkan generasi kita di masa depan dari penyalahgunaan terminologi saintifik, dimana suatu ide yang sama sekali tidak saintifik namun akan menggunakan data saintifik untuk membodohi masyarakat yang tidak paham sains.

Mereka melakukannya tanpa nurani agar masyarakat dapat menerimanya sebagai suatu temuan saintifik yang solid, padahal ini justru sebuah kepalsuan.

Dan hal tersebut dapat kita saksikan hari ini, moral dan etika intelektualitas bagi tak sedikit person saat ini mulai menipis, saat ChatGPT dan kawan-kawan telah bekerja keras untuknya, sehingga jurnal atau buku-buku yang dihasilkannya adalah hasil kerja keras jemarinya mengetikkan prompt atau instruksi ke AI, bukan kerja otaknya berhari-hari untuk merancang ide dasar lalu keseluruhan gagasan itu dituangkan dalam setiap ketikan huruf demi huruf, paragraf demi paragraf, dan Bab demi Bab sebagai sebuah proses kedalaman berpikir berhari-hari

Makna Di Hari Penuh Makna

Momentum Hari Guru tahun ini sejatinya dapat menjadi ruang perenungan yang penuh makna. Hari Guru kali ini mengajarkan kita satu pelajaran besar: bahwa para “guru publik” baik ulama, ibu bangsa, maupun rektor sedang menjalani babak kehidupan yang diliputi makna oleh karena jabatan, keinginan, dan kesempatan yang berbeda-beda.

Namun dari ketiganya, kita justru belajar kembali tentang keberanian, integritas, keikhlasan, dan pentingnya menjaga rasa hormat di tengah bangsa yang sedang berusaha merapikan tatanan pasca dinamika politik 2024.

Di sisi lain, kondisi perekonomian yang kurang ramah membuat semakin banyak rakyat merasakan dampaknya. Guru-guru kita di berbagai daerah, terutama yang masih berstatus honorer dan belum kunjung memperoleh kepastian nasib pasca seleksi PPPK, menjadi catatan khusus yang tak boleh kita abaikan di Hari Guru ini.

Hari Guru bukan sekadar momen mengingat keikhlasan para pahlawan tanpa tanda jasa. Lebih dari itu, kita perlu menyegarkan kembali kesadaran bahwa kehidupan pun memiliki gurunya sendiri bernama peristiwa dan moral pun punya penjaganya bernama para filsuf, salah satunya Socrates.

Semua itu pada akhirnya berakar dari kerja keras guru-guru kita di ruang-ruang kelas dasar, yang dulu mengajarkan kita mendobrak kemalasan, menghindari kesombongan intelektual, serta menjaga agar ilmu dan iman tidak tercerabut dari kehidupan sehari-hari kita.

Dalam banyak kasus di beberapa tahun terakhir, keteladanan guru justru diuji oleh realitas hidup yang semakin dikuasai logika ekonomi. Dan mungkin, di antara hiruk-pikuk hari ini, catatan kecil patut kita renungkan:, bahwa

pelajaran dari 3 peristiwa ke 1 hikmah di atas kita bisa mendapatkan hikmah dibalik peristiwa setiap personnya. Namun beda halnya jika angkanya berubah dari 40 ke 1, kita mungkin  justru bisa mendapatkan sorotan, minim di hikmah tapi tetap maksimal di rupiah.

Dan berkat keteguhan pikiran, yang ditempa oleh proses panjang aktivitas belajar dalam bimbingan para guru, kita menjadi sadar, bahwa teknologi boleh memudahkan, AI boleh membantu, tetapi tidak ada algoritma yang mampu menggantikan kejernihan hati seorang gurun.

Selamat Hari Guru.

Artikel ini juga telah dimuat lebih awal dan dipublikasikan ulang di website pribadi untuk keperluan dokumentasi pemikiran dan arsip penulis di media : 

https://makassar.tribunnews.com/opini/1820499/yahya-sinta-dan-karta-yasika-tiga-kisah-satu-pelajaran-di-hari-guru