Drama tak terduga itu bernama pemeriksaan. Ungkapan ini dipertegas oleh berita dari dua politisi di legislatif pusat dan di eksekutif level Kabupaten. Tautannya beredar menghiasi group WhatsApp lokal di beberapa hari ini.
Yang satu diisukan telah ditetapkan tersangka meski telah melakukan klarifikasi bahwa itu hoaks. Dan satunya lagi akan dipanggil paksa oleh kejaksaan.
Dua orang politisi ini diisukan tergelincir di tikungan karena anggaran di beberapa kegiatan disinyalir merugikan negara, dan nama mereka ikut terseret dan disebut oleh person yang telah lebih dahulu menjadi tersangka.
Mereka mau tak mau harus bersiap menjalani hari-hari yang panjang dan melelahkan bernama pemeriksaan kepolisian dan kejaksaan.
Tergilincir, memang hanya sebuah insiden kecil, namun kadang dampaknya cukup serius. Beberapa hari lalu, di ujung lorong, tetangga saya menggelar pernikahan anak lelakinya secara mendadak.
Konon penyebabnya sepele, hanya karena gara-gara berboncengan dengan kekasih hatinya di salah satu lokasi wisata.
Oleh karena godaan yang cukup kuat, berakibat motornya tergelincir masuk ke dalam sebuah penginapan. Dan untuk kali kedua, akibat rayuan kalimat sakti sang cowok, mereka kembali tergelincir hingga bersepakat untuk sama-sama melakukan pencurian.
“Adek…. aku merasakan ada kejutan gejala dalam mekanisme urat syarafku. Kuanalisa, fenomena itu timbul oleh suatu rangsangan tertentu, dari sesuatu yang menggetarkan seluruh sistem nilai dalam diriku. Rangsangan itu adalah Senyumanmu!!!.
Dan akhirnya, keduanya telah sama-sama mencuri bahkan kehilangan Kehormatan dan bangunan kepercayaan diantara mereka.
Di era sekarang ini, Ketergelinciran moral bisa terjadi pada siapa saja. Dari kasus dan peristiwa di atas, keduanya masih dalam frame dan tema yang sama, yakni harta, tahta dan wanita (bukan Raisha).
Batas Tafsir Politik Religius
Kompleksitas lingkungan politik yang semakin meningkat di negeri ini, berdampak pada terlalu umumnya untuk bisa menjelaskan dengan tepat, proses diferensiasi hukum dari tindakan merugikan negara yang dilakukan para oknum politisi.
Sehingga ketika muncul anggapan, bahwa proses hukum tak cukup untuk memberikan pelajaran berharga bagi politisi yang akan, sementara dan pernah terjerat, ini tak sepenuhnya salah tak sepenuhnya benar.
Bahwa masyarakat kita sesungguhnya lebih butuh dialog yang humanis, bicara dari hati ke hati dengan para pemimpin dan wakil rakyat, dan bisa jadi itu hanya bisa tersimpan di sanubari mereka, jika dilakukan di dalam rumah ibadah utamanya di dalam masjid.
Mengapa mesti di masjid? Hal ini dilakukan dengan harapan para politisi khususnya yang muslim, lebih mengingat dampak akhiratnya dibanding dengan dampak putusan hakimnya.
Meskipun masih butuh waktu bagi masyarakat kita untuk bisa menyamakan persepsi, khususnya dengan penyelenggara maupun pengawas pemilu.
Rumah ibadah masih menjadi tempat yang dibatasi oleh regulasi untuk menjadi ruang berdialog, apalagi menyampaikan visi dan misi calon eksekutif maupun legislatif bernama kampanye.
Dan wajar, jika sedari awal sudah bisa diprediksi, bagaimana respon beragam jamaahnya. Dan yang paling pasti, bulian para nitizen di jagad maya tak pandang waktu, akan bertubi-tubi menerjang di kolom komentar.
Tapi bukankah di zaman Rasulullah, masjid bukan hanya tempat ibadah ritual, tetapi juga ruang publik yang aktif dan dinamis, termasuk untuk diskusi politik, pengambilan keputusan negara, hingga diplomasi dan pendidikan.
Masjid Nabawi di Madinah misalnya, tempat ini menjadi pusat kehidupan sosial-politik umat Islam awal saat nabi hijrah.
Namun kembali lagi pada karakter berpolitik di masing-masing wilayah dan dengan berbagai keunikannya. Srbab di beberapa wilayah, ada yang masih butuh waktu untuk mengkorelasikan spirit berkuasa dengan dominasi nuansa religius di dalam niatannya.
Selain tudingan khalayak “sedang jualan agama” yang masih menjadi momok menakutkan, juga tak sedikit politisi kita kadang berpura-pura lupa kelak akan dicecar berbagai pertanyaan oleh Tuhan di hari akhir.
Bukankah di negeri +628 ini, segala macam hal mampu dijawab oleh tak sedikit politisi kita. Namun tetap saja mereka masih bingung dan linglung menjawab, khususnya saat ditanya soal nota dan kwitansi di pemeriksaan kejaksaan dan kepolisian.
Pemeriksaan Sebagai Ruang Tafakur
Kekhusyukan seorang politisi dalam melaksanakan ibadah, serta rutinitasnya dalam kegiatan keagamaan, bahkan citra bersihnya dalam imaji publik, memang tidak serta merta membuat bebas dari lingkaran dan perilaku korup.
“Di atas segala dari manuver kekuasaan, yang paling dibutuhkan Sulsel hari ini, adalah kejujuran yang tak lagi bisa ditawar, serta keberanian moral untuk memulainya, walau itu harus kita lakukan dari titik yang paling sunyi”.
Anshar Aminullah
Sebab yang namanya anggaran di list proyek, akan selalu memicu adrenalin beberapa oknum politisi kita untuk memacu laju lobby guna memenangkan tender. Target “kembali modal” terkadang masih menjadi faktor utama penyebab keluar jalur dan ‘tergelincir’ ke dalam banyak hal.
Mulai dari kesengajaan tergelincir masuk kedalam gemerlap dunia malam, sambil menyapa sang bidadari malam yang muka glowingnya mengandung mercuri.
“Hei…. Lia ade nona makin gaga, bikin kaka jadi suka, dulu ade rambu kepang dua, sekarang rambu mera-mera, Kaka lia ade tambah manis pulang ranto dari mana, Adu ade nona jang talalu pasang gaya depan kaka”.
Dan ketika aktivitas tersebut dilakukan saat kesadarannya di atas normal, berulang dan berulang, biaya entertaint membengkak, sehingga efeknya adalah terjadinya perubahan mimik wajah, yang dulu tersenyum ramah dan merakyat di spanduk dan baliho yang bertebaran, mendadak berubah menjadi gugup tepat saat berhadapan pak Hakim dan pak Jaksa.
Terlepas dari berbagai dinamika tersebut, kita berharap kedua politisi kita ini diberikan yang terbaik oleh Allah Swt, agar tetap eksis berkontribusi bagi kebaikan rakyat. Sebab mereka adalah barisan aset terbaik kebanggaan bumi celebes.
Selebihnya, ini menjadi ruang tafakur, dan pembelajaran penuh hikmah, bahwa politik dan moral di Sulsel harus sanggup membongkar sistem yang korup dan mampu membangun kesadaran.
Bahwa di atas dari segala manuver kekuasaan, yang paling dibutuhkan Sulsel hari ini, adalah kejujuran yang tak lagi bisa ditawar, serta keberanian moral untuk memulainya. Walau itu harus kita lakukan dari titik yang paling sunyi.
Anshar Aminullah
Seorang yang percaya bahwa ide harus lebih panjang umur dari penulisnya.
