Pasar selama ini sering dipahami sebagai ruang netral tempat harga bertemu dengan permintaan dan penawaran. Dalam logika ekonomi klasik, pasar dianggap memiliki kemampuan alami untuk menciptakan efisiensi melalui mekanisme kompetisi. Namun, pemikiran Daniel W. Bromley dalam buku Economic Interests and Institutions justru menggugat asumsi tersebut.
Bagi Bromley, pasar tidak pernah berdiri sendiri sebagai mekanisme teknis ekonomi, melainkan dibentuk oleh institusi, relasi kekuasaan, norma sosial, serta konfigurasi kepentingan yang hidup di dalam masyarakat. Karena itu, memahami ekonomi tanpa memahami institusi sama saja dengan melihat bangunan tanpa memahami pondasinya.
Pandangan Bromley tersebut menjadi sangat relevan ketika ditempatkan dalam konteks perdagangan rumput laut di Indonesia. Pasar rumput laut tidak hanya bergerak karena logika harga global, tetapi juga dibentuk oleh hubungan patronase, jaringan sosial, hutang-piutang, kepercayaan kualitas, dan legitimasi sosial antarpelaku. Dalam konteks ini, mekanisme pasar tidak bisa dipahami sekadar sebagai proses pertukaran barang, melainkan sebagai arena sosial yang dipenuhi relasi kekuasaan dan struktur kelembagaan.
Selengkapnya klik untuk baca:
Kreator: Anshar Aminullah