Wednesday, 15 Jul 2026

Deru Mesin Itu Kini Diam: Awhing Sanjaya Telah Pergi

4 minutes reading
Friday, 26 Dec 2025 00:54 0 1404 Anshar Aminullah
 

Sudah hampir dua pekan kepergian pembalap kebanggaan Indonesia asal Luwu Utara, Sulawesi Selatan, Awhing Sanjaya. Namun duka itu belumlah padam sepenuhnya.

Beberapa jam sebelum mengurai tulisan ini, masih ada sejumlah unggahan di media sosial yang menayangkan kembali momen ketika pembalap bernomor 198 itu menjadi Runner-up Asia Road Racing Championship (ARRC) AP250 tahun 2019.

Sebuah pencapaian tertinggi di level Asia yang ia torehkan, dan akan menjadi catatan emas bagi setiap generasi di tanah Luwu.

Secara langsung, saya memang belum pernah berjumpa dengannya. Namun semangat juang dan adrenalin yang ia bawa dalam setiap perebutan podium seakan masih terasa, bahkan ketika saya berbaring di kamar tidurnya beberapa tahun lalu, jauh sebelum pandemi Covid-19. Kala itu, kedua orang tuanya bersama pamannya yang begitu baik hati meminjamkan rumah mereka sebagai tempat kami beristirahat sejenak, sebelum memulai agenda tim di Masamba.

Saya sendiri lebih akrab dengan adik bungsunya yang mengikuti jejaknya sebagai pembalap, Afhil Sanjaya, yang selalu saya sapa dengan nama Pup G, diambil dari gim daring kegemarannya. Ia kerap dengan penuh semangat menjelaskan cara memainkan gim tersebut kepada saya, meski ia tahu betul bahwa saya sama sekali tidak lihai dalam dunia esport.

Sindiran Pup G kepada saya pun sempat muncul dalam sebuah video singkat di Facebook beberapa tahun lalu, bahkan menyentuh hampir 1.500 komentar.

Dari kedekatan kecil dan cerita-cerita sederhana seperti itulah, perlahan saya akhirnya memahami bahwa sosok Awhing Sanjaya memiliki arti yang jauh lebih luas dari sekadar nama dalam lintasan balap.

 

Bagi anak muda Sulawesi Selatan, khususnya Masamba, Awhing Sanjaya bukan hanya seorang pembalap. Di mata mereka, capaiannya adalah mimpi bagi banyak generasi pencinta otomotif.

Di setiap lintasan, ada ruang harapan besarnya untuk selalu menjadi yang terdepan. Dalam latihan-latihan panjangnya, ada keberanian, pengorbanan, dan keyakinan bahwa garis finis yang selalu ada di depan menjadi simbol masa depan yang ia bayangkan.

Ia ingin selalu berada di podium tertinggi, bukan semata demi kemenangan, tetapi agar nama daerah dan negaranya ikut menjadi bagian yang senantiasa ia perjuangkan.

Meski mimpinya kini berhenti, itu bukan karena kalah, melainkan karena hidup yang terputus oleh takdir. Namun perlu diingat, tragedi kepergian Awhing Sanjaya tidak sepatutnya sekadar dipersonalisasi, sementara tanggung jawab struktural justru disenyapkan.

Jangan mengurangi empati kita dengan mengatakan bahwa ini semata risiko profesi, sebab itu sering kali hanyalah cara sosial untuk meredam rasa bersalah kolektif.

 

Bahkan Pemerintah Kabupaten Luwu Utara kini justru telah memiliki alasan yang akan diaminkan oleh banyak penggemar untuk menjadikannya sebagai inspirasi sepanjang masa, dengan mengabadikan nama legenda balap Masamba ini pada sebuah nama jalan di Luwu Utara.

Ingat, AS 198 memang memimpikan podium utama saat kecelakaan tragis itu terjadi. Namun tidak ada podium untuk ibu yang kehilangan anak. Sebab andai pun kepergiannya di ujung race menjadikannya juara umum, tetap tidak akan pernah ada selebrasi bagi seorang ayah dan adik-adiknya yang pulang membawa kabar duka.

Hari ini kita mesti menyadari bahwa Awhing Sanjaya tidak hanya meninggal di sirkuit. Ia wafat di tengah budaya yang memuja kecepatan, namun sering kali lupa pada kerentanan manusia untuk menghadap Ilahi sewaktu-waktu.

Mungkin dalam beberapa pekan ke depan, nama Awhing Sanjaya perlahan akan menghilang dari percakapan publik.

Namun perlu dicatat, sebelum namanya memudar seiring perjalanan waktu, bahwa ia adalah seorang anak yang napas pertamanya disaksikan oleh kedua orang tuanya, namun tidak dengan napas terakhirnya.

AS 198 mungkin juga selama ini adalah tulang punggung dan harapan keluarga, bukan sekadar pembalap yang harus kalah oleh takdir di ujung usia jelang finis beberapa putaran racenya. Mimpinya mungkin terhenti, tetapi mimpi itu tak akan pernah benar-benar finish.

Di balik kecepatannya, ada kehilangan ribuan bahkan jutaan penggemarnya. Sebuah kepergian di lintasan, ketika balapan berakhir, justru duka keluarga baru dimulai.

Sebuah mimpi anak muda yang ramah dan baik hati itu berhenti di sirkuit, meninggalkan luka yang sunyi. Dan pada saat itulah, deru mesinnya pun mendadak diam, dan Awhing Sanjaya pun pergi tak pernah kembali.

Selamat jalan, sang legenda balap Masamba. Balapanmu telah usai di dunia, namun namamu abadi di lintasan sejarah! 

 

Anshar Aminullah

Mencatat yang luput, merawat yang nyaris hilang.

This will close in 2 seconds