Ketika Regulasi Kehilangan Integritas

4 minutes reading
Saturday, 8 Nov 2025 20:38 0 1306 Anshar Aminullah
 

Di sebuah kesempatan yang tepat, dengan kalkulasi politik yang rinci dan sangat matang, Octavianus yang kelak sejarah mengenalnya sebagai Kaisar Augustus Caesar, sang penguasa hebat di jaman Romawi Kuno, dia mengubah konstitusi Republik Romawi lewat serangkaian kebijakan reformasi agar kekuasaannya tetap berada di tangannya.

Hal ini dilakukan Setelah wafatnya bapak angkatnya, Julius Caesar. Menariknya, dia tampil seolah-olah demokratis, namun diam-diam dia telah melakukan pengkondisian terhadap aturan dasar di kerajaannya.

Kaisar Augustus Caesar membuat Constitutional Settlements sekitar tahun 27 SM hingga 23 SM, dimana secara formal mengembalikan kekuasaan kepada Senat, namun prinsip kerjanya secara substantif perlahan namun pasti akan menjadikannya sebagai penguasa tunggal terselubung di Romawi.

Analogi sederhananya, semacam ada aturan dasar yang tetap terlihat sah tanpa ada celah dan ketimpangan moral, tapi pasal-pasal di dalamnya telah disusun untuk kepentingan dirinya dan kelompoknya.

 

Moralitas Kekuasaan Akademik 

Kebiasaan mengotak-atik aturan demi kepentingan pribadi, hingga hari ini masih terawat dengan baik oleh para pelaku dengan ambang batas moral menuju minus. Memang terlihat biasa saja dan tanpa memunculkan rasa bersalah di benak saat melakukannya.

Mata dan hati yang tidak bekerja maksimal, mengakibatkan kedangkalan pada nalarnya. Bagaimana regulasi dasar atau dalam lingkup kelembagaan dikenal dengan nama Anggaran Dasar/ Anggaran Rumah Tangga (AD/ ART) yang turunannya ke bawah biasa berbentuk sebuah statuta, seharusnya menjadi instrumen moral dan tata kelola yang adil, bukan alat politik melanggengkan kekuasaan dengan menjegal peluang orang lain yang punya niatan sama.

Bisa kita bayangkan, jika hal tersebut terjadi dalam lembaga pencetak generasi bangsa bersertifikasi sebagai sarjana di ruang ilmiah bernama kampus.

Pergeseran secara ekstrim pada dimensi etika kelembagaan dan moralitas kekuasaan akademik, dimana mereka lupa, bahwa kedua hal itu bukanlah sekadar prosedur hukum atau administrasi belaka, tapi itu telah menghilangkan bukan hanya keadilan prosedural, tapi marwah intelektual kampus itu sendiri telah tercerabut dari tempat selayaknya.

Jika para dosen dan mahasiswa menutup mata dan mencoba tidak peduli pada perubahan aturan dasar dalam dunia akademik ini, maka vonis kehilangan integritas adalah mutlak, dan itu berarti civitas akademika mulai dari dosen hingga mahasiswa telah kehilangan legitimasi moral. Dan ingat, tanpa legitimasi moral, semua gelar akademik yang kita sandang, itu hanya sekedar menjadi kostum kehormatan belaka, tanpa isi dan tanpa nilai.

Bathin kita mestinya meronta, saat sebuah kampus yang seharusnya menjadi laboratorium kebenaran, kini justru malah telah berubah menjadi laboratorium kepentingan.

Kita mesti sadari, bahwa bencana terbesar sedang mendekat untuk menerjang semua lapisan yang berada di dalamnya. Yah … bencana berupa krisis kepercayaan publik terhadap kampus swasta dan Kemunduran akademik hingga ke level paling terendah.

Kita jangan terjebak bahwa beberapa kampus swasta juga acapkali melakukan hal yang sama, atau mencoba membenarkan dengan mengambil kebiasaan buruk yang sama di tempat lain, itu namanya sesat fikir (logical error).

Olehnya itu, integritas dalam kepemimpinan akademik atau ethos of responsibility harus dimulai dengan niat baik dan kejujuran tanpa ambisi. Sebab jika itu tidak menjadi prinsip awal, maka sesungguhnya mereka telah melakukan perjudian akan masa depan sebuah lembaga akademik. Dan mungkin mereka menganggap bahwa Kaisar Augustus pun tetap enjoy saja pada akhirnya. Oow… Jangan salah!!

Kaisar Augustus Caesar memang berhasil mendapatkan kekuasaan setelah merubah aturan main. Namun pada akhilrnya, Ia wafat dengan hati yang getir karena tahu bahwa penerusnya tak memiliki kemampuan dan jiwa kepemimpinan yang sama dengan dia. Hukum alam pada akhirnya tak bisa dia hindari.

Menurut sejarawan Tacitus, bahwa Kaisar Augustus berhasil menemukan Roma dari batu bata dan meninggalkannya setelah menjadi marmer, namun ironisnya, dia justru meninggalkan warisan manusia yang rapuh.

Dan para Kaisar Augustus-Kaisar Augustus jaman digital ini jangan lupa, bahwa reputasi kampus itu tidak runtuh karena kekurangan dana, tapi kadang karena telah kehilangan rasa malu saat kebenaran dikalahkan oleh strategi bernama akal-akalan.

 

 

 

Go back

Your message has been sent

Warning
Warning
Warning
Warning

Warning.