Lebih 400 Penjual di antara 400 Lebih Alasan Bertahan Hidup

5 minutes reading
Thursday, 7 May 2026 07:02 0 1364 Anshar Aminullah
 

Pada sebuah pemberitaan beberapa hari lalu dengan judul “Naik Dua Kali Lipat, Penjual Minuman Beralkohol di Makassar Tembus 400 Lebih”. Diungkapkan bahwa dalam kurun waktu 8 tahun ini mengalami peningkatan 2 kali lipat pelaku usaha yang menjual minuman beralkohol di Makassar. (Kabar Makassar, 2/5/26)

Membaca data minimalis di atas, spontanitas batin kita sebagai masyarakat komunal tentu pasti akan sedikit terusik, dan otak religius kita yang mungkin akan duluan bereaksi, mulai dari haramnya, potensi keributan dan seks bebas yang juga pasti akan nimbrung di otak.

Tapi tunggu dulu, dalam frame itu secara personal mungkin kita sepakat. Namun mari kita coba lihat dalam aspek lain dulu sebelum kelompok para “Palontang” (sebutan untuk para pemerhati minuman beralkohol Ballo di Makassar) ikut-ikutan merasa tersindir dengan kritikan kita.

Sebab di belakang layar, angka-angka statistik dan fenomena sosial tersebut, masih ada wajah-wajah manusia yang menggantungkan hidup di sana. Piring makan mereka dipertaruhkan di tempat tersebut.

Sekelompok orang yang bekerja sebagai pekerja hotel, bartender, pekerja diskotik, pegawai restoran pemilik usaha lainnya bernama toko pengecer menjadi bagian yang tak terpisah dari persoalan sosial ini. Meskipun secara umum pelaku usaha yang diungkapkan di pemberitaan itu tetap saja ada yang nekad menjual walaupun tidak mengantongi izin, namun mereka akan menjadi bagian yang sedikit tersentil.

Pilihan hidup agar tetap bertahan di sektor ini, perlu kita tahu bahwa ia seringkali lahir dari sebuah paradoks yang pahitnya melebihi kopi tanpa gula. Dalam situasi ekonomi bangsa ini yang belum sepenuhnya berada pada angka pertumbuhan yang stabil, kelompok pekerja yang berada dalam usaha-usaha yang menyiapkan minuman beralkohol ini, percayalah bahwa hampir semuanya percaya bahwa itu di larang agama. Namun lagi-lagi ini bukan soal moral tapi soal keterbatasan pilihan (bounded choice).

Kenyataan pahit ini seolah mengonfirmasi pada khalayak, bahwa struktur sosial kita memang sedang tidak baik-baik saja. Fenomena ini bukan sekedar pilihan personal, melainkan hasil dari tekanan ekonomi, lapangan kerja terbatas, dan logika pasar seperti dalam pendekatan yang pernah diungkapkan oleh Karl Marx (1867).

Ketimpangan antara idealisme kita dan realitas di lapangan inilah yang seringkali membuat kita terjebak pada kebiasan penghakiman kita di permukaan. Di lapangan, acapkali kita dapati soal norma seringkali bersifat performatif di tampilkan, namun tidak mulus untuk dijalankan. Kita biasanya lebih disibukkan mengutuk botolnya daripada memahami siapa yang mendorongnya ke etalase.

Menjadi keharusan, memanusiakan pelakunya bukan berarti kita menutup mata terhadap dampak buruk yang mungkin ditimbulkan nantinya. Betapa penting posisi agama yang seharusnya hadir bukan hanya sebagai hakim, melainkan sebagai penawar bagi hati yang lelah dan jiwa yang sepi. Agama memang jelas melarang miras mulai dari Ballo hingga sepupu-sepupu modernnya yang berwarna lebih jernih dan terkemas jauh lebih elegan, dibanding jerigen tua yang bertugas ganda (pagi dipakai beli minyak tanah, malam dipakai order jatah ballo).

Dan para penjual dan penikmat minuman beralkohol tersebut sangat tahu bahwa agama memang menjadi penjaga moral tapi tidak pernah kehilangan empati sosial. Agama mungkin tegas pada botol dan isinya, namun percayalah, bahwa agama juga tidak pernah kehilangan kelembutan bagi manusianya.

Karena terkadang minuman beralkohol di tempat hiburan malam tak selamanya jadi pemicu keributan atau bahkan penyebab utama perceraian. Persis seperti kisah Bundu yang baru-baru ini curhat di depan meja hijau saat mengajukan cerai. Ketika Hakim bertanya dengan nada prihatin :

Hakim: “Apa sudah mantap mau bercerai?”

Bundu: “Iye Pak Hakim.”

Hakim: “Tidak menyesal?”

Bundu: “Tidakji Pak Hakim, sumpahka!”

Hakim: “Kenapa memang kau mau cerai?”

Bundu: “Saya sudah tidak tahan Pak Hakim. Siapa yang tahan jika setiap hari istri keluyuran ke diskotik, bar, dan tempat dugem!”

Hakim: (Terkejut) “Apa istrimu suka dugem?”

Bundu: “Tidak Pak Hakim.”

Hakim: “Atau istrimu suka mabuk-mabukan?”

Bundu: “Tidak Pak Hakim.”

Hakim: “Lantas buat apa dia ke bar dan diskotik tiap hari?”

Bundu: “Cari saya Pak Hakim… saya kan malu sama teman-teman kalau dijemput paksa begitu!”

Setidaknya drama ini menggambarkan bahwa di tangan yang tepat, alkohol mungkin hanya jadi teman pelepas penat, namun di tangan yang kurang “siap”, ia bisa menjadi alasan untuk sebuah drama kehidupan yang tak terduga.


Larangan dan Kenyataan

Ketegasan moral sebagai alternatif solusi yang pada akhirnya tetap akan membentur satu tembok kokoh bernama tanggung jawab sistemik. Pertanyaannya, apakah ada alternatif pekerjaan? Dan apakah ada regulasi yang konsisten atau jangan-jangan justru ambigu? Jangan sampai negara melarang dengan satu tangan, tapi justru membiarkan kebutuhan hidup menekan dengan tangan satunya.

Olehnya itu, penyelesaian masalah ini tidak bisa hanya berhenti pada secarik kertas edaran dan surat larangan ataupun siraman rohani saat khotbah di atas mimbar. Pemerintah dan lembaga agama memang perlu mempertegas larangan tersebut, namun jalan keluar sudah harus disiapkan oleh pemerintah, lapangan kerja yang tersedia dan tingkat kesejahteraan masyarakat kita yang tentu masih sangat perlu ditingkatkan.

Kita tentu tidak mengabaikan potensi kriminal, gangguan ketertiban serta normalisasi konsumsi yang sangat berpeluang hadir menyertai eksisnya minuman beralkohol ini. Namun perlu disadari, bahwa norma acapkali kabur terjadinya perubahan sosial yang cepat (Durkheim). Yang kita hadapi bukan sekedar botol, namun kekosongan makna yang pelan-pelan dibiarkan tumbuh.

Dan pada akhirnya, fenomena sosial ini adalah tempat bercermin terbaik bagi kita semua yang ingin berefleksi. Atau jangan-jangan masalahnya bukan pada 400 lebih penjual ini, tapi justru pada pemerintah kita yang ingin Kota kita ini tetap suci namun tak pernah benar-benar memastikan warganya sudah hidup layak atau belum. Entahlah!

Anshar Aminullah

Menarasikan yang kadang luput dari perhatian.

 

 

This will close in 2 seconds