Sunday, 26 Jul 2026

Ngadatnya Kompas Demokrasi di Gowa : Banyak Jalan Menuju Romang!

4 minutes reading
Sunday, 26 Jul 2026 06:23 0 1518 Anshar Aminullah
 

Piala dunia 2026 telah usai, para pemain Spanyol euforianya perlahan mereda, dan para pemain Argentina mungkin juga telah berdamai dengan diri mereka sendiri atas kekalahan dramatisnya. Namun beda cerita dengan polemik DPRD dan Bupati di Kabupaten beribukota Sungguminasa ini. Tensi kedua kubu belum juga menunjukkan indikator meredanya.

Andai resep dokter politik berupa ‘Parasetamol’ (PARAikatte ngaSEng siTAggala’ sipamMOLlei) dosis tinggi, masih tak mampu meredakan tensi panasnya. eksekutif dan legislatif tak kunjung menemukan upaya ‘berdamai’ untuk stabilnya iklim pemerintahan.

Jika keseruan peristiwa ini dianalogikan seperti film kartun jadul, maka DPRD dan Bupati ibarat Tom dan Jerry yang terus berkejar-kejaran di dalam sebuah rumah bernama Gowa. Problemnya, rumah itu bukan sekedar rumah biasa, Tom mengejar Jerry dengan hasil wawancara saksi dan surat panggilan hadir. Jerry menghindari Tom dengan pulang lebih awal. Tom memasang perangkap lagi dengan memanggil ulang.

Namun Jerry menemukan kembali jalan keluar dengan mengkawal laporan di Kepolisian sebelumnya soal dugaan kekeliruan Pansus. Ironisnya, setiap kali mereka berkejar-kejaran, yang rusak bukan rumah mereka sendiri, melainkan perabot rumah yang dimiliki bertiga bersama rakyat bernama Kabupaten Gowa.

Sementara itu, masyarakat Gowa hanya bisa duduk di sudut ruangan sambil bertanya:  “Sebenarnya Tom mengejar Jerry karena apa?”.  Lalu pertanyaan berikutnya yang tidak kalah penting: “Kalau Tom dan Jerry terus berkelahi begini, lalu siapa nanti yang akan memperbaiki rumahnya?”

 

Errornya Arah Demokrasi

Sidang berkali-kali dari pansus hak angket ini seharusnya telah menunjukkan manfaatnya sebagai jalan, bukan tujuan. Bahwa hak angket ini seyogyanya adalah instrumen konstitusional, bukan menjadi tujuan politik itu sendiri. Persoalannya kemudian, masyarakat kita justru dibuat sibuk mengikuti jalan prosedural melalui live YouTube dan potongan reels, sementara giliran bicara soal anggaran, kamera live tak satupun yang menyala.

Jadi wajar saja jika masyarakat awam semakin bertanya-tanya, pertama, apa sesungguhnya masalah utama yang hendak diselesaikan: mau cari jalan keluarkah? mau ganti Bupatikah? ataukah sekedar hanya mau bikin ramai saja sampai MC di panggung ngomong: “atas permintaan tuan rumah, sumbangan lagu ditiadakan”, dan akhirnya “ricui orkeska” kata anak muda era 80an.

Yang kedua, apa manfaatnya bagi rakyat buka-bukaan aib ini dalam ajang adu narasi serta argumentasi di ruang sidang, dimana tidak jarang didapati intonasinya kelebihan Vitamin G? Bagaimana penempatan fungsi pajak yang telah rakyat Gowa bayar? saat pajak tersebut tidak pernah sekalipun mereka niatkan untuk membiayai drama panjang politik ini. Ataukah jangan-jangan keduanya adalah CEO yang sedang menyamar menjadi Wakil Rakyat dan Pemimpin Rakyat seperti dalam drama China?.

Masyarakat kita di Gowa hingga detik ini dibanjiri narasi, pernyataan, bantahan, serta klarifikasi, opini, dan potongan informasi yang tak pernah ada habisnya. Akibatnya yang terjadi kita bisa rasakan langsung, publik bukannya semakin tercerahkan, tetapi semakin bingung. Padahal dalam demokrasi yang sehat, transparansi yang selalu menjadi jualan, seharusnya membuat masyarakat semakin melihat jalan keluar dengan lebih jelas, bukan malah membuat mereka semakin tersesat.

Lalu siapa yang sebenarnya tersesat?apakah DPRD Kabupaten? Ataukah justru Bupatinyalah yang sedang tersesat? Atau jangan-jangan justru masyarakat Gowalah yang dipaksa berjalan linglung serta terjatuh dan tak bisa bangkit lagi, lalu tenggelam dalam lautan luka dalam ala “Butiran Debu”?

Mungkin sudah saatnya untuk mengembalikan makna bagaimana banyaknya pilhan pada istilah “banyak jalan menuju Roma” sebagai upaya keduanya untuk kembali kepada jalan terbaik berupa: kepastian pemerintahan di level eksekutif dan pengawasan di level legisltaif, stabilitas daerah, transparansi, dan kesejahteraan masyarakat.

Atau bagaimana kalau kita berpasrah saja terus, dan biarkan kedua kubu ini tetap merasa sedang membawa Gowa menuju jalan keluar, meskipun dari sudut pandang masyarakat, keduanya justru sedang berjalan menuju gelapnya hutan belantara politik yang sama, dengan kompas yang sedang ngadat bin error, dimana mereka sesungguhnya sedang membawa Gowa pada situasi “Banyak Jalan Menuju Romang”.

Sudahlah, karena Romang (baca: Hutan) di Malino tahun ini sudah tidak lagi sebeautiful tahun lalu, jadi berseteru saja terus sampai 2029, lalu biarkan rakyat yang memilih mana pemenang dan mana yang kalah. Dan biarkan juga rakyat yang menentukan, mana sesungguhnya produk nurani hasil berdemokrasi dan yang mana produk hasil serangan fajar.

Anshar Aminullah

This will close in 2 seconds